Catcalling Bukan Guyon

Catcalling Bukan Guyon
©iStock

Catcalling Bukan Guyon

Di ruang publik sering kali tejadi komentar yang tidak diinginkan atau gerakan provokatif seperti mengedipkan mata dan bersiul. Pada kenyataan ini merupakan fenomena pelecehan verbal yang kerap dibiasakan di jalanan.

Lebih mirisnya lagi, masih ada orang yang menormalisasi catcalling sebagai sebuah basa basi obrolan untuk perkenalan diri.

Berdasarkan survei yang Lentera Sintas Indonesia lakukan bersama organisasi lain seperti perempuan dan Hollaback! Jakarta, ditemukan bahwa selama ini orang berpikir bahwa catcalling terjadi pada malam hari atau paling sering terjadi jika langit sudah gelap, sementara justru presentase yang paling banyak terjadi pada siang hari dan sore hari diikuti dengan pagi hari.

Jadi, justru bukan masalah karena perempuan keluar malam atau cara berbusana yang dikenakan melainkan karena sebab pelaku melihat korban sebagai objek seksual atau sebagai manusia yang sedang menjalankan aktivitasnya.

Doktrin yang selama ini dipakai adalah kucing kalau dikasih ikan ya pasti mau. Seakan jika terjadi pelecehan, perempuanlah yang setuju untuk dilecehkan. Stigma negatif yang didapatkan korban sebagai seorang yang hina atau hal yang lainnya. Padahal, tidak ada satu orang pun yang ingin dilecehkan baik laki-laki maupun perempuan.

Hal ini terjadi karena minimnya edukasi seks di masyarakat dan bahkan dalam keluarga menjadi suatu yang tabu. Jadi mari kita menyudahi perbincangan tentang pelecehan seksual yang berangkat dari menakar ketelanjangan lalu menghakimi korban. Semua harus mengevaluasi diri jaga hati, jaga mata, jaga  adab dan jaga etika.

Hal yang melatarbelakangi tejadinya catcalling sangat kompleks yakni tidak ada faktor inti, hanya perlu melihat sejauh mana nilai atau norma yang ada dalam masyarakat diterapkan. Adapun bentuk-bentuk dari catcalling terdiri atas tiga bagian di antaranya:

Pertama, Verbal vocal, yaitu pesan yang disampaikan dengan menggunakan suara. Contohnya, orang asing yang memuji “hai cewek, cantik-cantik kok Sendirian aja” dengan nada yang membuat tidak nyaman.

Baca juga:

Kedua, Verbal visual, yaitu pesan yang disampaikan secara verbal menggunakan visualisasi yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan. Contohnya, bahasa tubuh orang asing mengedipkan mata dengan ekspresi wajah yang bermakna dalam.

Ketiga, Verbal vocal-visual, yaitu pengucapan kata-kata dengan menggunakan suara dan dibantu adanya penggambaran nyata. Bersiul, mengedipkan mata dan menggoda.

Pengalaman memiliki sifat yang subjektif sehingga antara individu yang satu dengan yang lainnya memilliki perbedaan yang disadarkan pada pengaruh isi memori yang dirasakan tiap orang. Ada korban yang merasa takut dan ada juga yang sampai trauma terhadap hal yang bersangkutan sehingga mengingatkan kejadian tersebut secara terus menerus yang kemudian  menjalarkan tanya pada isi kepala “Apakah diri berharga?”

Kehormatan dalam agama adalah sesuatu yang dipersembahkan  oleh setiap manusia yang merupakan anugrah atau fitrah dari Tuhan. Olehnya itu, wajib bagi sesama manusia untuk menjaganya.

Dalam QS. An-Nahl ayat 97, Allah berfirman yang artinya

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebbih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”

Kandungan ayat tersebut meyatakan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan atau derajat yang sama dalam hal kemanusian, yang membedakan hanyalah amal dari setip manusia. Kehormatan merupakan izzah dan menjaanya dinamakan iffah. Sehingga makna kehormatan adalah harga diri yang harus dijaga serta sikap saling menghormati antar sesama.

Secara fitrah, semua yang dimiliki perempuan a dalah izzah (kehormatan) demikian juga dengan laki-laki. Ayat ini juga menekankan bahwa laki-laki dan perempuan mendapat pahala yang sama dan bahwa amal kebajikan harus dilandasi iman.

Baca juga:

Kembali kepada pokok pikiran catcalling bagaimana cara menghadapinya?

Mengutip sumber dari noice.id ada lima cara yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi pelaku pelecehan.

Pertama, Tunjukkan keberatan dan ketidaknyamanan.

Jangan ragu menunjukkan bahwa kita merasakan keberatan atas hal yang dilakukan pelaku, terganggu dan tidak nyaman akan sikap mereka yang minim nilai moral.

Kedua, Memberikan teguran langsung.

Mengatakan dengan tegas bahwa apa yang ia lakukan adalah kesalahan. Kendati  melakukan ini membutuhkan keberanian yang lebih. Ingatlah kembali bahwa pelaku akan merasa senang jika melihat korban lemah dan merasakan imtimidasi.

Ketiga, Tetap tenang

Kebanyakan kasus, para pelaku pelecehan justru akan bahagia melihat korban tersulut emosi. Dengan demikian, cara menghadapi catcalling yang tak kalah penting adalah dengan tidak panik dan ketakutan.

Keempat, Bicarakan dengan orang lain.

Banyak korban pelecehan tidak mau memberi tahu kejadian yang telah dialami karena berbagai alasan diantaranya malu dan takut. Padahal, dengan membicarakan hal ini dengan orang lain. Kamu bisa mendapatkan berbagai sudut pandang mengenai langkan selanjutnya yang harus diambil untuk mengatasi pelecehan ini.

Kelima, Laporkan.

Jika terjadi di tempat kerja maka laporkanlah pada atasan untuk ditindaklanjuti. Namun, jika cara ini tidak membuat pelaku menghentikan perlakuannya maka bawalah kasus ini ke jalur hukum dengan bukti kuat. Yakni dengan ke kantor polisi terdekat dan mintalah diarahkan ke Unit Pelayanan perempuan dan anak.

Andi Dhea Firdayana
Latest posts by Andi Dhea Firdayana (see all)