Chikan!

Chikan!
©Kilara Sen

Chikan!

Chiyo melenggang meninggalkan lobby gedung kantornya. Meski berada di kawasan elite Tokyo, gedung kantornya tidaklah megah, tapi tetap membuatnya bangga.

Bagaimana tidak, Chiyo mendapatkan pekerjaan pilihan pertamanya setelah lulus kuliah sebulan yang lalu. Chiyo juga sudah mulai terbiasa dengan ritme sehari-hari sebagai karyawan, tidak lagi canggung dengan atasan maupun teman sesama karyawan baru yang hanya segelintir saja. Juga menikmati kebebasan hidup sendiri dan mandiri di apartemen studio sewaannya, tidak lagi tinggal di gedung asrama mahasiswa sambil irit ini itu.

Jam 4 sore di musim semi, angin masih dingin, tapi suasana hangat sudah terasa. Meski pintu masuk stasiun subway hanya 3 menit berjalan kaki dari gedung kantornya, hari ini Chiyo memilih berjalan menyusuri trotoar. Gedung-gedung tinggi bertuliskan merek-merek fashion dan aksesori terkenal di dunia berjejer di kiri kanan jalan raya, kaca-kaca jendelanya memantulkan sinar matahari yang hangat.

Pejalan kaki ramai berlalu-lalang, karyawan, pelancong, dan mungkin penduduk setempat, semua berbusana trendi berbaur menjadi satu. Gelak tawa dan sesekali ucapan-ucapan bahasa asing terdengar dari sana sini.

Sepuluh menit berjalan kaki, kegerahan, Chiyo melepas jaket setelan business suit hitam yang dikenakannya, melipat dan menyampirkan di lengannya. Tas bucket hitam kesayangannya bergayut manja di pergelangan tangannya. Suara tik tok tik tok hak sepatunya terdengar ritmik, angin berembus menyibak rambutnya. Ah…begini mungkin rasanya seorang supermodel berjalan di catwalk.

Gyutt! Tiba-tiba seseorang meremas bokongnya dengan keras dari belakang!

Refleks, Chiyo berbalik. Seakan dalam gerakan slow motion, Chiyo melihat jelas tangan yang baru saja berbuat, melayang masuk ke saku celana panjang hitam, laki-laki yang mengenakannya memasang wajah lurus tak berekspresi. Chiyo terhenyak. Sementara laki-laki itu berlalu melewatinya begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Tersadar apa yang telah terjadi, Chiyo setengah berlari menyusul laki-laki itu, yang juga kemudian mempercepat langkahnya.

”Chikan! Chikaan!!!” Chiyo berteriak kencang, mengejar laki-laki kurang ajar yang kini mulai berlari.

Beberapa orang pejalan kaki berhenti, meski kemudian terus berlalu. Beberapa lainnya hanya menengok, orang-orang yang berkerumun di depan kafe melongokkan leher, lalu saling bergumam dengan bahasa yang tidak dimengertinya. Tapi tidak seorang pun menghentikan laki-laki itu yang kini berlari dengan cepat, jaketnya berkibar-kibar di belakangnya.

Chiyo terus mengejar. Berlari mendekati stasiun, orang yang berjalan berlawanan arah dengannya makin ramai. Chiyo melepas sepatu dan menjinjingnya, tanpa berhenti berlari. Punggung laki-laki itu timbul tenggelam dalam arus pejalan kaki. Chiyo tak berkedip, dia terus mengincarnya, berlari menabraki orang-orang yang lalu mengumpatnya kesal. Chiyo tak peduli.

***

Tiga hari tiga malam berlalu.

Tapi tidak untuk Chiyo. Hari itu masih bergulir karena pengejarannya belum berakhir. Benaknya tak akan lelap sebelum menangkap Bajingan itu.

Chiyo memang tetap berbaring setiap hampir tengah malam, dan bangkit dari tempat tidurnya seperti kemarin pagi. Lalu mandi dan berhias, sarapan dan mengenakan business suit-nya, berjalan ke stasiun, berdesakan di subway, menempel kartu karyawannya di pintu masuk kantor, berbicara di rapat-rapat, menyerahkan laporan dan menaati tenggat.

Tapi Chiyo seperti zombie.

Halaman selanjutnya >>>
Nyai Hasanah
Latest posts by Nyai Hasanah (see all)