Christopher McCandless, Antropolog yang Tak Menemukan Makna Kebahagiaan

Christopher McCandless, Antropolog yang Tak Menemukan Makna Kebahagiaan

Hasrat selalu merupakan hasrat akan makna dan makna adalah perkara bahasa. Ini terjadi pada pribadi Christopher McCandless, seorang antropolog yang tidak menemukan kebahagiaan di dalam keluarga dan kehidupan sekitarnya.

Dia merasa tidak bahagia karena masalah kronik yang dihadapi oleh kedua orang tuanya. Terlebih lagi, dia merasa jenuh dengan kehidupan perkotaan. Itu bisa dilihat ketika dia melakukan perjalanan mencari kebahagiaan menuju ke Alaska, menyatu di alam liar (Into the Wild). Dia membakar sisa uangnya ketika melakukan perjalanan ini.

Bahasa tak bisa lagi membatasi dirinya. Dia kerap kali mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Misalnya, when you forgive, you love. and when you love, god’s light shines upon you (ketika kamu memaafkan, kamu mencintai; dan ketika kamu mencintai, cahaya tuhan menyinarimu).

I’m going to paraphrase Thoreau here… rather than love, than money, than faith, than fame, than fairness… give me truth” (aku akan memparafrasakan Thoreau, seorang novelis dan filsuf berkebangsaan Amerika, di sini … daripada cinta, daripada uang, daripada kepercayaan, daripada ketenaran, daripada keadilan … beri aku kebenaran), dan seterusnya.

Christopher McCandless selalu mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Itu juga sangat tercermin dari hasil kuliahnya dulu. Dia terlihat sangat idealis menanggapi masalah kekinian semasa dia hidup. Dia pun menjadi seorang penganut romantisme, yang merupakan reaksi terhadap Revolusi Industri, norma-norma sosial dan politik, dan rasionalisasi ilmiah alam — semua komponen modernitas.

Hasrat akan makna ini memberikan dia berbagai macam pengalaman entah itu manis dan tidak. Yang menariknya justru ketika dia mencapai puncaknya. Ketika dia telah hidup lama di Alaska, dia menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya itu sangat sederhana. Dia menyadari hal ini ketika dia membaca sebuah paragraf dalam salah satu novel Leo Tolstoy, Family Happiness.

Saya telah mengalami banyak hal, dan sekarang saya pikir saya telah menemukan apa yang dibutuhkan untuk kebahagiaan. Kehidupan terpencil yang tenang di negeri ini, dengan kemungkinan berguna bagi orang-orang yang mudah melakukan kebaikan, dan yang tidak terbiasa melakukannya terhadap mereka; kemudian bekerja yang mana yang diharapkan mungkin berguna; kemudian beristirahat, alam, buku, musik, cinta untuk para tetanggamu – seperti itulah gagasan saya tentang kebahagiaan. Dan kemudian, di atas semua itu, kamu sebagai pasangan, dan anak-anak, barangkali – apa lagi yang bisa diinginkan hati seorang pria?

Seketika menyadari hal ini, Christopher McCandless langsung bersiap-siap diri untuk kembali pulang. Namun, setibanya di sungai, dia harus menyeberangi sungai tersebut agar memudahkannya untuk pulang. Dia mendapati sungai yang dulunya membeku di musim dingin menjadi cair dengan arus air yang begitu keras.

Dia pun kembali ke tempat sebelumnya. Dia begitu stres setelah mengetahui hal tersebut. Bukan hanya stres, dia juga kehabisan makanan karena dia telah berburu hewan-hewan dan jumlah hewan pun menjadi nihil. Yang tersisa hanya tumbuh-tumbuhan yang berada di sekitar tempat tinggalnya.

Dia orangnya sangat teliti untuk mencari makanan, tapi sayangnya karena saking laparnya, dia menjadi kurang teliti. Tumbuhan yang dia makan pada awalnya dia kira tak beracun. Tumbuhan itulah yang nantinya akan membunuhnya. Di akhir hayatnya, dia menulis di sekitar novel Leo Tolstoy,

Happiness [is] only real when shared (Kebahagiaan hanya ada, nyata, ketika dibagikan).

Kebahagiaan mencapai makna penuh bagi Chris di akhir hayatnya bahwa kebahagiaan hanya nyata ketika dibagikan. Rest in peace Christopher McCandless.

Saya kasih skor film biografi (Into the Wild, 2007) ini 10 deh karena almarhum merupakan seorang antropolog yang begitu menginspirasi, dan juga, seorang yang kutu buku, minatnya pada filsafat bukan main. Kata-kata indahnya terlahir karena pendalamannya terhadap filsafat dan novel-novel yang dia baca.

    Yepihodov

    A misanthropist writer, an analyst, a translator | Bekerja di UNESCO