Cinta Musik Nasional, Jokowi Dorong Musisi Indonesia Buat Visi 2050 dan 2100

Cinta Musik Nasional, Jokowi Dorong Musisi Indonesia Buat Visi 2050 dan 2100
Glenn Fredly saat menyerahkan laporan kegiatan Konferensi Musik Nasional 2019 kepada Presiden Jokowi (Foto: KSP)

Nalar PolitikKamis, 22 Maret 2018, Presiden Jokowi menerima sejumlah musisi nasional bersama para panitia Konferensi Musik Nasional di Istana Merdeka, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi mendorong para musisi nasional untuk membuat sebuah visi dan peta jalan. Itu mengenai arah dan bagaimana industri musik di Indonesia akan berkembang ke depannya.

“Saya sebetulnya ke depan itu mengimpikan bagaimana strategi besar kebudayaan kita, lebih khusus lagi di bidang musik. Ada visi, misalnya, visi 2050 dan visi 2100. Ini sudah mulai dirancang sejak sekarang,” terang Jokowi.

Dorongan visi dan peta jalan itu dimaksudkan Jokowi agar dapat difokuskan ke dalam sejumlah tahap beserta target-targetnya. Seperti, misalnya, fokus yang hendak dicapai dalam lima tahun pertama dan seterusnya.

“Ini akan memberikan sebuah hasil yang lebih konkret. Entah masalah yang berkaitan dengan tata kelola atau yang lainnya. Mungkin 5 tahun pertama, misalnya, kita hanya garap masalah tata kelola saja, kita gerakkan di masalah itu saja. Di 5 tahun kedua, masalah perlindungan,” terang Jokowi kembali.

Target dan peta jalan yang jelas seperti itu, menurut Presiden Jokowi, akan memberikan kemudahan, baik bagi pemerintah dan para pelaku di industri musik itu sendiri, mengenai arah dan tujuan industri musik nasional.

Ia pun mendambakan adanya masukan-masukan. Ia akan menerima itu semua demi mendukung perkembangan musik nasional ke depannya.

“Saya sendiri juga memerlukan masukan-masukan untuk ke depannya. Jangan sampai, misalnya, setiap ganti presiden, kita masih berkutat di urusan masalah propertif kekayaan intelektual. Jadi, dalam visi dan peta jalan itu, pemerintah sendiri diberikan target oleh pelaku-pelaku, seperti memberikan payung hukum bagi para musisi,” lanjut Jokowi.

Dalam pertemuan tersebut, hadir di antaranya Kepala Bekraf Indonesia Triawan Munaf, Glenn Fredly selaku Ketua Panitia Konferensi Musik Nasional 2019, dan Abdee Negara. Hadir pula Bunga Citra Lestari, Sheryl Sheinafia, Erwin Gutawa, serta sejumlah musisi dan pelaku industri musik Tanah Air lainnya.

Cinta Musik Nasional, Jokowi Dorong Musisi Indonesia Buat Visi 2050 dan 2100

Presiden Jokowi dengan sejumlah musisi dan pelaku industri musik Tanah Air (Foto: KSP)

Merealisasikan Tujuan

Adapun tujuan kedatangan para musisi bertemu Presiden Jokowi ini, terang Kepala Bekraf Indonesia Triawan Munaf, yakni untuk melaporkan kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka Hari Musik Nasional.

“Kenapa dipilih kota Ambon? Karena Ambon sudah beberapa tahun ini dicita-citakan sebagai kota musik pertama oleh UNESCO atau kota musik dunia pertama di Indonesia. Semua potensi ada di sana. Hanya saja, ada fasilitas-fasilitas yang perlu direalisasikan, bekerja sama dengan pelbagai stakeholder,” ujar Triawan.

Ia juga menerangkan, kondisi musik di Indonesia hari ini masih sangat memprihatikan. Kesejahteraan musisi dan pencipta lagu, misalnya, masih jauh dari harapan.

Belum lagi sejumlah pelanggaran hak cipta yang sampai kini masih belum ditindak tegas. Karena itu, senada dengan Presiden Jokowi, pihaknya ke depan akan menyusun langkah-langkah konkret juga guna kebaikan musik nasional.

“Tidak saja seremonial, tapi lebih ke bekerja. Sehingga musik Indonesia ada perencanaan yang baik. Inilah yang akan kita lakukan ke depannya,” pungkasnya.

Sementara itu, Glenn Fredly menambahkan, Konferensi Musik Indonesia adalah momen bersejarah bagi musik Indonesia. Ada tiga aspek besar yang dibahas, yakni musik dalam aspek ekonomi, aspek pendidikan, dan sebagai alat ketahanan kebudayaan.

“Dalam pertemuan dengan Pak Presiden Jokowi, kami menyampaikan rekomendasi yang dihasilkan konferensi musik selama tiga hari. Presiden sangat terbuka sekali,” kata Glenn.

“Presiden Jokowi justru meminta input dan masukan untuk perkembangan ekosistem Indonesia,” tambahnya.

___________________

Artikel Terkait:

    Redaksi

    Reporter Nalar Politik
    Redaksi
    Share!