Cinta; Rating 1 Peradaban Manusia

Cinta; Rating 1 Peradaban Manusia
©Jurnas

Manusia dan segala eksistensinya tidak akan pernah bisa berpaling dengan apa yang dinamakan cinta, karena cinta adalah makna hidup. Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga; katanya sang pujangga.

Cinta yang dimaksud dengan makna hidup adalah bentuk cinta yang fitrah, cinta yang lahir berdasarkan ketulusan dan murni untuk mencapai tujuan hidup.

Sebelum memahami bahwa cinta adalah makna hidup, maka manusia harus paham makna cinta yang fitrah, dan cara memfitrahkan cinta. Saya pernah bertanya kepada ayah saya perihal ini dan apa respons beliau, “Cinta itu kebutuhan.”

Beliau juga menceritakan bahwa seseorang lahir berawal dari rasa cinta tuhan kepada makhluknya. Adam diciptakan dari tanah yang sifatnya adalah lentur, lemah, dan rendah.  Sedangkan tanah adalah filosofi sederhana.

Kita itu diciptakan dari tanah supaya kita mengerti bahwasannya kehidupan itu harus fleksibel, dan rendah hati, kita harus bisa memilih dan memilah bibit unggul yang harus kita tanam (bijaksana). Tanah juga bisa dibentuk apa saja, ini juga bisa diartikan sebagai butuhnya manusia terhadap inovasi dalam menjalankan kehidupannya.

Dan, ketika manusia itu mengerti bahwa ia manusia (berasal dari tanah), maka ia mulai mengenal cinta. Tukas beliau secara rinci, yang membuat saya manggut-manggut mencoba mencerna dan merenungi.

Cinta memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh cinta.  Ketika cinta dimaknai sebagai kebutuhan, maka maknanya universal; cinta tidak memandang keadaan dan suasana, dan mencintai tidak mengharapkan imbalan.

Ketika Plato berbicara tentang cinta (Platonic Love), dia menganggap bahwa cinta yang paling istimewa adalah cinta yang tidak terikat, cinta yang bebas akan adanya anggapan harus saling memiliki.  “Orang kalau cinta ya cinta saja, ga usah pake alasan-alasan. Kalau cinta masih ada alasan-alasan berarti itu bukan murni cinta.”

Baca juga:

Ini saya ngutip dawuhnya Pak dhe F. Faiz yang ta’wilnya begini, ketika orang sudah mengenal bahwa cinta yang sejati adalah cinta tanpa keterikatan, maka orang tersebut tidak akan pernah merasakan apa namanya “sakit hati” yang dia tahu bahwa cinta selalu membuat dirinya merasa bahagia.

Manusia lahir dari cinta, dan harus melahirkan cinta kepada segalanya.  Manusia wajib memahami seni mencintai dengan merasa rida dengan segala apa pun yang Allah SWT takdirkan, selalu belajar mengerti dan tidak berhenti berbuat baik.

Macam-Macam Cinta dan Dosis-Dosisnya

Orang akan menjadi fitrah karena cinta jika dia sadar bahwa cinta itu fitrah. Sedang cinta yang fitrah adalah cinta yang tahu kadar seberapa besar ia larut terhadap objeknya.  Objeknya cinta macam-macam. Dan kadarnya juga macam-macam. Ada yang harus totalitas, ada yang harus biasa-biasa saja, ada juga yang harus terhindari.

Cinta yang kadarnya harus larut sepenuhnya adalah cinta terhadap Allah SWT. karena ini adalah puncak dari segalanya: Man Ahabba llah, Ahabba Kulli Syai’in. Orang yang sudah cinta kepada Allah akan mencintai segalanya termasuk apa yang Allah takdirkan meskipun itu buruk menurut orang-orang.

Harus kita pahami—ketika manusia sudah cinta kepada Allah karena Allah pun cinta kepada manusia tersebut. Cinta manusia kepada Allah adalah anugerah dari Allah.

Ada juga cinta yang kadarnya harus biasa-biasa saja, seperti rasa cinta kita kepada orang tua kita, cinta terhadap sanak dan kerabat, termasuk cinta kepada impian-impian dan harapan-harapan; kita harus sadar bahwasaanya segala sesuatu yang sifatnya tidak abadi tidak boleh kita mind dan feeling kan sebagai sesuatu yang berarti segala-galanya.

“Ketika kau memeluk orang tuamu atau anakmu kau harus ingat bahwa dia hanya manusia,” itu kutipan quote Marcus Aurelius seorang filsuf stoa yang dapat kita jadikan refleksi bahwasannya rasa cinta kita terhadap keluarga, impian-impian dan harapan-harapan harus tetap kita kembalikan kepada Allah.

Sedangkan cinta yang harus manusia hindari adalah cinta terhadap dunia. Alaa innad dun-yaa mal’uunah. Mal’uunun maa fiihaa illaa dzkrullahi wamaa waalaahu wa ‘alimun au muta’allimun; dunia itu dilaknat dan Allah dan segala sesuatu yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah, apa saja yang dicintai oleh orang yang berilmu, dan orang yang mau belajar. (HR. Imam Turmudzi, Imam Ibn Majjah, dan Ibn Abdil Barr. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shaihih at Targhib wa Tarhib).

Baca juga:

“Cah, hidup itu cuma mampir ngombe,” katanya Kyai Anwar Zahid yang sering saya dengar di radio telepon. Dunia hanyalah sebuah kendaraan menuju tujuan, dan jika kita menjadikan dunia sebagai tujuan itu adalah kekeliruan dan kebodohan besar.

Allah melaknat dunia karena dunia adalah tempatnya penderitaan; tempatnya ujian. Orang-orang mukmin menganggap dunia adalah penjara, karena sulitnya mereka menahan nafsu dalam diri. Namun, bagi orang-orang kufur dunia adalah surga karena mereka sendiri buta. Cinta kepada dunia tidak lain adalah gerbang dari pada kehancuran.

Tidak cinta terhadap dunia dalam artian bukan meninggalkan dunia. Dunia juga sebagai mazra’atul akhirah (ladangnya akhirat) Manusia juga wajib untuk berkerja, mengejar karier dan lain sebagainya. hanya saja—catatannya, manusia tidak boleh larut di dalamnya. Manusia boleh bereksistensi terhadap dunia jika tujuannya untuk mencari kebahagiaan akhirat.

Kita berhak menjadi manusia yang bebas dengan mengenal cinta yang fitrah. Cinta yang fitrah adalah cinta yang tidak mengenal untung rugi, cinta yang hanya mengenal akan lahirnya kebaikan dan keberuntungan terhadap pribadi dan orang lain. Katanya Cak Nun, “Cintailah segalanya, inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Marsyidza Alawiya
Latest posts by Marsyidza Alawiya (see all)