Ciri Liberalisme: Tidak Revolusioner-Radikal, apalagi Konservatif-Kolot

Ciri Liberalisme: Tidak Revolusioner-Radikal, apalagi Konservatif-Kolot
©Indeks

Di bagian lain dalam diskusi publik Indeks bertajuk Wacana Kebebasan dan Isu-Isu Indonesia Kontemporer, Saidiman Ahmad juga bicara soal ciri liberalisme. Ini penting ia tegaskan guna merespons masih maraknya penyalahpahaman atas filsafat politik paling progresif tersebut.

Mula-mula ia mengambil contoh yang terjadi di Amerika. Di sana, selain dibajak, kesalahpahaman orang terhadap liberalisme kemudian membuat istilah “liberal” jadi tampak abu-abu.

“Kalau kita menyebut orang liberal di Amerika sekarang, yang ditunjuk itu adalah kelompok politik sosial-demokrat, Partai Demokrat. Sangat berbeda misalnya dengan yang di Eropa, yang masih mempertahankan istilah liberal.”

Sementara di Australia, lanjut Saidiman, partai liberalnya tidak sama sebagaimana kaum liberal klasik bayangkan selama ini.

“Karena partai liberal di Australia itu menjadi partai yang konservatif. Sering juga disalahartikan, seolah-olah kelompok politik konservatif itu adalah kelompok liberal klasik. Itu juga sesuatu yang keliru.”

Ada memang bagian dalam liberalisme klasik yang kelompok konservatif maupun demokrat coba perjuangkan. Hanya saja, terang peneliti SMRC ini, perjuangan mereka ke arah itu tidaklah utuh.

“Misalnya di Amerika, kaum demokrat atau kaum sosdem memperjuangkan salah satu bagian dalam liberalisme, yaitu kebebasan sipil, tetapi mereka menolak atau cenderung skeptis terhadap kebebasan ekonomi.”

Sebaliknya, tambah Saidiman, kaum konservatif turut atau cenderung mendukung gagasan kebebasan ekonomi, tetapi bermasalah dalam hal kebebasan sipil.

“Banyak intervensi terhadap kehidupan sipil. Mereka bahkan percaya terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak dipercayai oleh kelompok liberal, yaitu sangat percaya pada otoritas.”

Ciri Liberalisme

Saidiman lalu mengutip pandangan Isaiah Berlin. Ia menyebut liberalisme sebagai akar dari macam-macam aliran politik yang tumbuh saat ini, yang menginginkan perubahan terhadap situasi di masa lalu, seperti kelompok revolusioner-radikal dan konservatif-kolot.

Tetapi liberalisme berbeda dari kelompok-kelompok tersebut. Baik revolusioner-radikal maupun konservatif-kolot, kata Saidiman, yang mereka praktikkan di ruang publik bukanlah ciri liberalisme, dan tidak pernah berada dalam posisi keduanya.

“Liberal klasik tidak pada posisi dua-duanya: tidak ekstrem, ingin melakukan perubahan secara radikal, secara revolusioner; tetapi, pada saat yang sama, tidak percaya pada otoritas publik yang harus dipertahankan.”

Lantas bagaimana liberalisme berlaku? Adalah percaya pada perubahan gradual yang muncul dari bawah.

“Contohnya di Inggris, bagaimana liberalisme itu terbentuk melalui serangkaian peristiwa yang tidak disengaja. Liberalisme benar-benar muncul tanpa desain, apakah itu dari seorang filsuf atau pemikir. Liberalisme tumbuh subur karena tidak ada otoritas yang powerful.

Inilah yang menurutnya jadi pembeda tegas antara liberalisme dengan kaum konservatif yang percaya pada otoritas, atau gerakan revolusioner yang bercita-cita mengubah keadaan dalam waktu singkat.

“Ciri liberalisme yang utama adalah tidak percaya pada suatu otoritas yang mengetahui segala hal. Itu kunci banget dalam liberalisme klasik. Tidak percaya pada satu orang yang punya pengetahuan yang begitu dahsyat yang kemudian bisa mengubah, bisa mengintervensi, mendikte satu kebaikan terhadap orang lain.”

Kalau ada orang yang merasa tahu segala hal, kemudian mendiktekannya kepada orang lain, tekan Saidiman, itu berarti bukan berasal dari tradisi liberalisme klasik. Karena peradaban, mengutip FA Hayek, tidaklah lahir dari orang pintar, melainkan dari pengakuan bahwa semua manusia itu bodoh.

“Kebodohan itu yang menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban. Karena pengakuan bahwa manusia itu bodoh, maka orang belajar, terus-menerus. Jadi tidak muncul orang seperti Rizieq Shihab yang mengaku mengetahui segala hal, atau siapa gitu.” [in]

Artikel Terkait: