Citayam Fashion Week: Gaya, Gengsi, dan Perlawanan di Jantung Ibu Kota

Citayam Fashion Week: Gaya, Gengsi, dan Perlawanan di Jantung Ibu Kota
©Lifestye Okezone

Sejak fenomena Citayam Fashion Week (CFW) mencuat, diskusi tentang ruang kota dan budaya pop anak muda meluber di berbagai media. Sejauh ini ada dua tema penting yang dikaitkan dengan CFW.

Pertama, CFW sebagai presensi gaya dan kebudayaan populer anak muda urban (Sulistyo, 2022). Kedua, CFW adalah ekspresi sosial anak muda sebagai respons atas terbatasnya akses mereka ke ruang publik yang memadai di kota penyangga (Abdi, 2022; Christianingsih, 2022). Dua diskusi CFW ini melihat fenomena SCBD sebagai budaya populer kaum urban atau inefisiensi ruang publik.

Pertama, perspektif budaya populer. Perspektif budaya populer tidak begitu menjelaskan secara kritis, karena hanya memeriksa simbol dan gaya dari anak-anak muda Citayam. Perspektif ini terbatas karena melihat gejala anak muda pop sebatas trend dan gaya tanpa melakukan pemeriksaan mendalam untuk menemukan alasan-alasan ekonomi atau politik di balik kerja-kerja populer tersebut.

Padahal di berbagai media, pengakuan anak-anak Citayam itu bahwa mereka menggunakan pakaian hasil pinjaman. Kalaupun di beli rata-rata dengan harga yang murah untuk ukuran style anak muda Jakarta. Keterbatasan ekonomi bahkan menjadi alasan mengapa mereka juga mencari tempat nongkrong gratis atau tak sempat sekolah.

Kedua, SCBD atau Sudirman Central Bussines District adalah kawasan bisnis. Saat beralih jadi arena fashion remaja Citayam, SCBD sontak berubah jadi sentra gaya kelas menengah sub-urban.

Peralihan SCBD dari semula yang populer sebagai sentra bisnis ke arena pamer gaya remaja dari pinggiran Jakarta menunjukkan bahwa ruang kota adalah arena yang sangat politis. Ia direbut dan dipopulerkan tidak saja oleh kelas elite Jakarta, melainkan juga remaja kelas menengah sub-urban asal Citayam, Bogor, Depok, dan sekitarnya.

Penjelas penting akan aspek ini mesti dicarikan pertaliannya dengan tidak saja memeriksanya sebagai gejala populer ,tetapi juga menyingkap keterhubungannya dengan ruang sebagai arena yang politis.

Diskusi kedua, fenomena CFW juga direduksi sebatas aspek fisik untuk menjelaskan gejala inefisiensi ruang publik. CFW lalu dibaca sebagai implikasi dari ketidak-tersediaan ruang publik yang meadai bagi anak muda di kota penyanggah seperti Depok dan sekitarnya. Perspektif ini mengaitkan ekspresi anak muda sebagai kritik atas keterbatasan ruang publik yang layak.

Baca juga:

Meski demikian, cara memotret CFW melalui kacamata ini berangkat dari cara pandang yang melihat ruang sebagai aspek fisik geogarafis. Ruang masih dilihat sebatas arena fisik yang memfasilitasi tindakan publik. Ruang tidak dipandang sebagai hasil dari reproduksi sosial.

Padahal, atraksi Catwalk yang berhasil mengubah citra SCBD dari kawasan elite bisnis menjadi arena fashion kelas menengah pinggiran atau SCBD (Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok) adalah penanda penting bahwa “ruang tidak hanya memfasilitasi interaksi sosial, melainkan juga dibentuk oleh proses sosial”.

Tulisan ini berpretensi keluar dari dua perspektif di atas dan memberikan analisis berimbang terhadap fenomena Citayam Fashion Week yang tidak saja mencakup aspek kebudayaan melainkan juga menautkannya dengan analisis yang politis: atas ruang dan gaya.

CFW, kawasan SCBD dan atraksi gaya remaja Citayam, adalah tiga hal penting yang merefleksikan pertautan Gaya, Ruang, dan Kelas sosial di kota-kota metropolit. Dengan begitu, gaya tidak hanya dipandang sebagai representasi kebudayaan populer melainkan juga sebagai presensi gengsi yang bertumpu pada kelas sosial tertentu.

Ruang juga tidak dilihat sebagai arena spasial yang netral melainkan arena politis yang selalu diperebutkan oleh kelas-kelas berbeda. Sedangkan, remaja Citayam sebagai subjeknya adalah gambaran penting tentang kritik terhadap kelas menengah metropolit yang selalu mempresensi diri sebagai pusat gaya dan gengsi serta ekslusifnya ruang publik Jakarta.

Ruang yang Diperebutkan

Sejauh gaya dipamerkan, sejauh ruang diperebutkan, sejauh itu pula kontestasi antar kelas-kelas berkuasa akan terus berlangsung. Dalam klasifikasi Stuart Ewen (1998), gaya bahkan jadi gambaran penting untuk menilai orang lain sekaligus mendefinisikan “tubuh kita” saat berinteraksi dengan orang lain. Di samping itu, gaya juga menunjukkan struktur suatu masyarakat yang sedang ia wakili.

Dalam konteks ini, aksi Citayam Fashion Week juga secara tidak langsung mempresensi identitas yang mereka wakili, yakni kelas sosial masyarakat pinggiran Jakarta. Gaya mereka yang “mencolok” terbedakan dengan tegas dari penampilan anak muda Jakarta yang fashionable dan casual sebagai simbol dari kelas menengah terpandang. Gaya adalah pembedaan banal yang secara cepat disandarkan pada suatu masyarakat.

Gaya memang begitu—ia kerap kali sulit didefinisikan tetapi mudah dikenali – its hard to define, but easy to recognize, kata Stuart Ewen dalam All Consuming Image: The Politics of Style in Contemporary Culture (1998).

Halaman selanjutnya >>>
    Ardiman Kelihu