Corona Membinasakan Ibuku

Corona Membinasakan Ibuku
©Rancah

Ibuku dibinasakan oleh Corona, sang tamu jahat yang datang tak mengetuk.

Aku dipenuhi amarah yang melayang, sebanyang belati. Darah menggelegakan didih, sedang sabar tak lelah menunggu antrian untuk menyapa ibu yang sudah terbalut kain kafan.

Ya, ini perjumpaanku yang terakhir untuk ibuku. Ibuku dibinasakan oleh Corona, sang tamu jahat yang datang tak mengetuk. Dia datang pada saat ayah merajut rezeki di tanah rantau. Ataukah karena aku terlelap dalam tidur, hingga ia membinasakan ibuku.

Aku menyesali semesta. Kenapa ia harus memanggil ibu, sebab tak lagi yang aku punya, selain ayah yang menikah lagi di tanah rantau.

Kehidupanku kian getir, langkah kaki kian nanar. Sebab ke mana lagi nasib ini terdampar? Mengapa Tuhan tak memanggil aku sekalian!

Aku bertanya pada rembulan malam; di manakah engkau menyembunyikan ibuku? Jika berjumpa, sampaikan padanya, anakmu merindu.

Dan, ibu, beras yang engkau titip sudah habis. Ibu, ke mana lagi aku mencari. Bahagia ibu.

Corona; Apakah Petaka Tuhan?

Pada semilir angin yang dikirim sang petuah waktu, terpapah engah hilir mudik kaumku yang tergurat sendu.

Isak tangis kian ramai, memecahkan kesunyian diri. Sebab Corona menjadi absurd menyerang dan merajalela di setiap sudut penjuru.

“Waspadalah petaka Tuhan ini!” teriak bungkam kaumku.

Sempat aku tanya, apakah ini petuah dari-Mu, Tuhan? Apakah ini awal dari kiamatnya kaumku?

Terikan duka memecah sudut ruang yang terisolasi Corona.

Lantas Tuhan tak ada pada kaum medis. Lalu, Tuhan dicelotehkan, dimaki habis-habisan tanpa nalar.

Ah, terlalu bodoh! Mengapa engkau menyalahkan Tuhan? Bukankah ini ulah-ulahmu yang merasa diri lihai dalam berilmu?

Skenario Tuhan

Sesekali aku menghampiri nyata pada badani jasmani yang semu. Ada gelembung misteri yang menyayati raga. Bertunduk lesuh, sebab raga kian kropos pada sang tamu agung; Corona.

Lalu, aku basuhi air asin si tuan mata.

Andai saja Tuhan segera menjawab setelah aku berkeluh dalam tanya, tentang Corona; apakah hadiah dari-Mu. Pasti suka citaku menjadi penuh berpelukan dalam peluh-peluh rahmat.

Mungkin aku, iakan saja seutuhnya skenario milik-Nya yang lebih rapi dan apik.

*Baca juga sajak-sajak Rian Tap lainnya di sini

Latest posts by Rian Tap (see all)