Cuitan Maman dan Pergeseran Paradigma Adat

Cuitan Maman dan Pergeseran Paradigma Adat

Marasa gayana i puang, maraqdiana to cangngo (Bagus gayanya sang tuan, rajanya orang bodoh)” merupakan cuitan Maman Suratman yang bernada satire. Itu ia layangkan melalui akun Facebook-nya, 24 Juni 2020. Tak ayal menuai kecaman dari berbagai kalangan masyarakat yang merasa tersinggung, khususnya pemuda Palili dan masyarakat Kecamatan Tapango.

Cuitan tersebut berisi tulisan rilis dari Nalar Politik yang menyorot pernyataan sikap pemuda Ulumanda saat kunjungan kerja rombongan Gubernur Ali Baal Masdar di Kecamatan Ulumanda, Majene, Sulawesi Barat (19/06).

Secara pribadi (subjektif), saya mengenal Maman Suratman sebagai seorang penulis brilian. Ia berkali-kali memenangkan perlombaan menulis di tingkat nasional maupun regional (se-Jawa).

Setidaknya, ia telah menulis dan menerbitkan tiga buah karya (buku). Pertama, “Kesaksian”, sebuah buku yang berisi pergulatan dan perjuangan Maman dkk melawan birokrasi kampus Universitas Teknologi Yogyakarta. Kedua, “Ahok dan Kemelut Pilkada Jakarta”. Ketiga, salah satu penulis buku “Menuju Indonesia Sejahtera”.

Sekalipun berbeda secara ideologi, Maman menggandrungi ide libertarian, sedang saya lebih dekat dengan ide sosialistik, namun patut saya akui, ia adalah teman berpikir yang cukup kritis. Karena perbedaan itu, saya pun banyak menyerap ide-ide liberal yang cenderung kelompok kiri pada umumnya salah pahami.

Namun di sini saya tidak akan menulis soal kesalahpahaman kelompok kiri terhadap libertarian, ataupun ingin membela saudara Maman. Saya hanya akan mencoba mendudukkan perkara yang kini melilitnya itu secara objektif.

Dari beberapa media daring yang saya baca, seperti yang Tribun Timur lansir (26/06), Anca mengungkapkan cuitan Maman Suratman melukai perasaan seluruh masyarakat Tapango, Polewali Mandar.

“Postingan ini telah menghina Andi Ali Baal Masdar selaku raja Tapango dan juga masyarakat Tapango,” kata Anca.

Lebih lanjut, seorang pemuda Tapango, Abdur Rahman, melayangkan pernyataan sikap yang Banniq laporkan. Rahman mengungkapkan bahwa Maman Suratman telah melanggar UU ITE No.19 Tahun 2016 terkait pasal ujaran kebencian.

Mungkin yang ia maksud adalah Ketentuan Pasal 28 ayat (2) UU ITE yang berbunyi; “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang tertuju untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).”

Baca juga:

Karena kasusnya telah mereka laporkan ke pihak berwajib, maka kita mesti mendukung supremasi hukum. Putusan hakim yang akan membuktikan benar atau salahnya dugaan pihak pelapor.

Bila benar cuitan Maman memenuhi unsur pidana, perbuatannya tergolong penghinaan terhadap suku tertentu. Pengunaan UU ITE oleh saudara Rahman yang Banniq lansir menjadi keliru.

Mengacu pada asas lex specialis derogat legi generali (aturan khusus mengesampingkan aturan yang lebih umum), maka aturan yang tepat adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Pasal 4 Huruf b; tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis yang berbunyi:

Tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa: menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:

  1. membuat tulisan atau gambar di tempat-tempat umum atau tempat lainnya yang dapat orang lain lihat atau baca;
  2. berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat orang lain dengar;
  3. mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat orang lain baca; atau
  4. melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnis.

Jika empat unsur ini tidak terpenuhi, lantas Maman Suratman ternyata bersalah, dugaan kuat “kriminalisasi hukum” terjadi. Semua pihak mesti mengutuk sikap demikian. Sebab asas legalitas nulla poena sine crimine tidak membenarkan: tidak ada hukuman kalau tak ada perbuatan pidana.

Halaman selanjutnya >>>

Syam