Cuma Statistik, Cuma Angka-Angka

Cuma Statistik, Cuma Angka-Angka
©United Nations

“Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.Begitulah kalimat Joseph Stalin yang saya ketahui dari buku antologi biografi tokoh singkat. Ia adalah pemimpin komunis dan Uni Soviet yang terkenal kejam dan diktator. Saya membacanya saat kelas 7 SLTP yang jangankan paham maksudnya, paham makna “statistik” saja tidak. Namun, sepertinya saya baru menyadari maksud kutipan tersebut akhir-akhir ini.

Ya, kematian satu orang bisa berujung menjadi tragedi. Di negara kita saja, kematian satu orang yang (telanjur) tersorot akan menjadi berita hangat berhari-hari dan investigasi juga berhari-hari. Ingat kopi Sianida? Ingat kasusnya pak Munir? Pak Salim Kancil? Nah, itu sebagian kecil saja. Sisanya, Anda bisa ingat-ingat sendiri.

Bisa jadi kasus kematian yang tidak lazim tadi menjadi pemicu panasnya berita tersebut. Betul, bahwa itu adalah sebuah kejahatan. Beliau-beliau yang menjadi korban juga rata-rata aktivis, pejuang HAM. Pejuang bagi manusia biasa (baca: rakyat jelata), tapi kehadiran mereka bagi manusia yang lain (baca: ‘penguasa’) bisa menjadi ancaman yang bahkan hampir sama menakutkannya dengan malaikat maut. Sehingga tidak ada cara lain selain menghabisinya.

Tapi kematian jutaan orang adalah statistik, lanjut Mbah Josef Stalin lagi. Dulu, saya dengan logika ala anak SMP menentang pernyataan tersebut. Lha wong orang besar ngomong kek gitu, dikutip lagi! Eror nih orang!

Andai Mbah Stalin masih hidup sekarang, pasti saya teror dia. Ya iyalah bukan teror senjata, paling-paling cuma teror dia di DM dan mengajak semua penduduk WhatsApp Universe agar beramai-ramai menyerbu akunnya, comment kata “juancok” pake emot jempol kebalik dan report akunnya. Persis dengan kelakuan netijennya negeri +62. Tambahkan embel-embel komunis, puh!! Provokasi saya pasti disambut dengan semangat jihad oleh akhi-ukhti.

Eh tapi ndak jadi, ding! Terhitung sejak didapuk menjadi kurir koran Asrama Juni lalu, tiap hari membacanya selalu sad ending. Kasus kematian akibat covid-19 di negara yang sangat saya cintai ini sangat meledak-ledak. Seribu orang per hari. Dan saat PPKM memasuki level 4-yang jika disamakan dengan mi Semeru langganan saya, itu level paling pedas.

Dan berita PPKM yang membawa kabar bahwa Jatim memegang rekor tertinggi kematian, disusul gelombang ‘tsunami’ covid beralih ke luar pulau Jawa, disusul rasio kematian 2,9 persen, disusul rekor fantastis pada 4 Agustus lalu kasus kematian Rakyat Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai 100.636 ribu orang tersebut merupakan level terpedas yang dirasakan rakyat yang (merasa) tertindas.

Yang terselip dari angka-angka itu adalah tangisan anak yatim-piatu yang ditinggal orang tuanya, pegawai sound system yang berjuang melelang peralatannya demi uang. Para tetangga yang urunan membantu ISOMAN, para korban PHK yang kehidupannya tak menentu, tenaga kesehatan yang mempertaruhkan dirinya demi raga yang lain. Semua itu mereka lakukan hanya agar dirinya dan keluarganya tidak termasuk dalam angka-angka itu.

Sayangnya, kematian yang begitu dekat, sambung-menyambung, beriringan dan hanya berakhir di ketikan angka, statistik. Sesimpel itu.

Saya tahu, musibah covid-19 ini melanda seluruh dunia, bukan hanya negara kita. Kami juga paham pemerintah berupaya dengan sangat keras dalam mengatasi musibah ini. Tapi atraksi para oknum ‘orang tua’ itu bikin jiwa jelata kita tambah meronta-ronta.

Di tengah pandemi yang sangat melilit, ‘orang tua’ malah menggelar flash sale diskon potongan penjara bagi para koruptor. Pak Juliari Batubara yang didakwa hukuman penjara seumur hidup dipotong menjadi 11 tahun penjara. Jika kini ia berumur 49 tahun dan mengaca rata-rata usia manusia 71 tahun, maka diskon penjaranya 50%. Padahal kesalahannya adalah mengorupsi dana bantuan sosial covid-19.

Nggak banyak, sih. Hanya memungut sepuluh ribu rupiah per bingkisan. (Dikalikan dengan penerima bantuan seluruh rakyat Indonesia yang hasilnya 32,48 Miliar).

Bagi belio mungkin sepuluh ribu kecil. Tapi, mohon maaf, Pak Juliari Batubara Yang Terhormat. Sepuluh ribu dipegang santri kayak saya adalah jatah jajan selama dua hari. Bagi Mak Pek, tetangga saya yang bekerja buruh serabutan dan kerjaannya terhambat pandemi itu, sepuluh ribu cukup untuk membeli bahan lauk selama satu hari berupa tempe, sayur, dan seprangkat bumbu meracik sambel (itu kalo bumbunya nggak naik harga).

Jadi, Pak Mantan Menteri, uang yang Anda dan anak buah Anda korupsi itu, yang cuma sepuluh ribu per paket itu, sama saja mengambil jatah jajan saya selama dua hari. Atau sama saja membiarkan keluarga tetangga saya itu hanya memakan nasi nyel! Tanpa rasa, tanpa lauk.

Itu baru kasusnya pak mantan Menteri, lho ya. Belum lagi diskon kurungan bagi Tante Pinangki dengan kasus terpidana korupsi pencucian uang, dan permufakatan jahat yang didakwa 10 tahun disunat 4 tahun alias diskon 40%. Dan kasusnya Engkong Joko Tjandra. Didiskon semua. Belum lagi fasilitas mewahnya di sel penjara seperti yang dilakukan Papi Setya Novanto dulu (yakan takutnya terjadi lagi).

Ini sungguh tontonan rakyat jelata paling menyebalkan selama seminggu terakhir. Bikin iri saja! Teman saya yang ketahuan nyolong uang di koperasi kecil milik pesantren, itu hukumannya berat, btw. Harus berdiri sepanjang hari, baca istighfar berkali-kali, dan malunya berhari-hari.

Dengan adanya pertunjukan para ‘orang tua’ ini, sulit sekali percaya bahwa mereka sangat serius mengurusi 200 juta ‘anaknya’ yang kesulitan pandemi. Ah lupa, karena pembahasan ini hanya angka-angka, (boleh jadi) tentunya kita-kita yang 271.349.889 (jiwa) ini juga cuma barisan angka-angka di mata mereka. Wajar lah jika mereka mencomot uang rakyat tanpa merasa berdosa. Pak Hakim Agung dengan segala keagungannya memotong hukuman penjara seolah itu kasus pencurian sempak jemuran saja.

Pesan saya bagi seluruh sodara-sodara, rakyat jelata di seluruh Indonesia, jika kalian-kalian hendak memprotes pertunjukan ‘orang tua’ ini, protes saja. Tapi jangan lupa selipkan dengan doa dan munajat di sepertiga malam. Kita minta pada Tuhan kita masing-masing agar diberi kekuatan iman, kesabaran dan kewarasan ekstra di tengah penalti kehidupan ini.

Peduli amat mereka dengan suara kita? Tangisan kita? Keringat kita? Ujung-ujungnya cuma statistik, Cuma angka. Bagaimanapun perjuangannya, percuma. Atau kita simak lagi potongan “Sajak Orang Miskin’-nya WS Rendra. Barangkali bisa jadi juru bicara.

Orang-orang miskin di jalan
masuk ke dalam tidur malammu.
Perempuan-perempuan bunga raya
menyuapi putra-putramu.
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu biarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik menjadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan
yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning
akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan tbc dari gang-gang gelap
akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.

Wildana Rahmah Azzuhri