Cur Deus Homo

Cur Deus Homo
©Okezone

Cur Deus Homo

Realitas manusia saat ini sangat sulit dilepaskan dari keadaan di luar dirinya. Pelbagai kemungkinan akan didapati manusia.

Periodesasi zaman sebenarnya mau menegaskan akan ketergantungan setiap ciptaan yang satu terhadap ciptaan yang lain. Ada yang baru memiliki tunas dan ada yang telah siap untuk dipanen. Keberlanjutan tentang ‘menjadi’ terus-menerus diuji, dan bahwa yang pasti, eksistensi manusia adalah jawaban dari caranya mengimani Yang Transenden, Yang Absolut.

Tuhan sering disebut oleh orang yang percaya sebagai Mahakuasa, Mahaadil, dan Mahabaik. Buktinya, Dia menciptakan langit dan bumi dengan segala isinya yang bisa dimanfaatkan manusia untuk hidupnya.

Anselmus, Teori Korban

Karya ini memuat argumentasi Anselmus, menjawab pertanyaan tentang misteri Inkarnasi Yesus Kristus. Mengapa Allah menjadi manusia?

Argumen Anselmus dikenal sebagai ‘teori korban’. Manusia telah berdosa terhadap Allah, dan itu juga berarti melawan tatanan sempurna yang telah dijadikan Allah. Allah murka. Ia hendak menghukum manusia. Manusia harus menebus dosanya. Namun karena dosa ia melawan Allah yang Sempurna, maka tidak ada manusia yang layak membalas Allah.

Manusia harus bertanggung jawab atas dosanya, namun ia sendiri tidak sanggup. Supaya tatanan adil dan sempurna dari Allah dapat dipulihkan, maka dibutuhkan seseorang yang layak sebagai kurban pelunas dosa.

Ada dua syarat yang harus dipenuhi orang yang dianggap layak itu: pertama, ia tak berdosa; kedua, ia harus setara dengan Allah, mengingat bahwa dosa telah merusak tatanan ilahi. Dua syarat itu jelas tidak dapat dipenuhi manusia. Maka yang layak ialah seseorang yang ‘sungguh manusia dan sungguh ilahi’.

Baca juga:

Dengan demikian, menurut Anselmus, kematian Yesus di salib dapat dimengerti. Pertanyaan ‘mengapa Allah menjadi manusia’ terjawab. Argumen Anselmus ini hidup dalam praktik kesalehan orang Kristen: manusia sadar akan kedosaannya sehingga patut menjalani silih agar diampuni Allah. Namun, argumen ini juga banyak dikritik bahkan ditolak, karena menampilkan Allah yang kejam, yang menuntut korban supaya Ia puas.

Sekolah Fransiskan, terutama Duns Scotus (1266-1308), menolak penjelasan Anselmus, dan menekankan paham kasih Allah yang radikal sebagai motif peristiwa salib Kristus: Inkarnasi terjadi melulu karena kasih Allah yang tanpa batas, bukan karena dosa manusia sejak Adam (sumber, christusmedium.com).

Antara Yang Sebagian Dan Keseluruhan

Pokok bahasan mengenai pemikiran Anselmus ini memicu dua pokok masalah sebagai refleksi atas eksistensi manusia berhadapan dengan esensi Tuhan ‘kabaikan’. Pokok pertama, mengenai universalitas dan partikularitas kebaikan.

Tentang universalitas, keseluruhan dunia pada prinsipnya diciptakan baik, yang berarti bahwa kebaikan itu terpatri pada potensi kemudian menjadi aktus. Dunia dalam dirinya adalah baik. Partikularitas dunia adalah cara pemberiannya dalam setiap elemen realitas dunia. Yang berarti, bahwa kebaikan dalam diri dunia telah berbaur ke dalam suatu entitas yang lebih luas.

Kedua keadaan tersebut masih memiliki negasi dalam dirinya adalah baik. Sebab, keduanya memiliki normalisasi atas adanya dan lajunya.

Pokok kedua, mengenai permasalahan keterbatasan pengetahuan manusia. Terkait dengan keterbatasan pengetahuan manusia, menghadirkan pelbagai instrumen penentu tujuan manusia. Instrumen-instrumen tersebut berasal dari ketangkasan manusia terhadap fenomena-fenomena di sekitarnya.

Sebagaimana, bila tidak adanya pengetahuan yang benar dan metode pemahaman yang tidak benar akan menghantar manusia pada penyeludupan hakikat pengetahuan yang sebenarnya. Tepat, bahwa pengetahuan manusia terbatas, sehingga ada begitu banyak jurang di hadapannya.

Terhadap pandangan tersebut, Leibniz bertanya: siapakah manusia sehingga merasa pantas untuk menilai dunia ciptaan Tuhan yang terbaik ini sebagai sesuatu yang buruk?

Halaman selanjutnya >>>
Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)