Dargombes dan Tai Lancung Tuhannya

Dargombes dan Tai Lancung Tuhannya
©YouTube

… Dargombes sambil membuang muka ke jendela mobil yang sudah tak bersih lagi, dipenuhi debu jalanan. Tampak olehnya bayang-bayang tak jelas di luar sana yang mengerikan.

Bapak itu terus kipasi perapian kecil yang membarakan taburan dupa di depannya. Suara percikan dan letupan arang basah menambah suasana mistis di pojok desa.

Orang-orang berkumpul. Membentuk putaran maut. Terus berusaha menembus esoteris. Pamerkan eksoteris rapalan-rapalan yang seolah mengoyak langit hitam itu.

Mantra terus saja dibacanya meraung-raung tiada henti. Asap tipis membumbung tak tinggi dipermainkan angin kemarau yang kerontang. Mantra-mantra nyanyian langit, nyanyian jiwa, bertumpuk rahasia langit, atau mungkin rahasianya rahasia, seolah dihayatinya sebagai bisikan ilahiah.

Bisikan langit itu tetap dijelmakan menjadi rapalan manusia. Tertulis ala bumi menjadi tumpukan literasi di kitab usang di tangannya.

Redup bara pertanda pembakaran yang dipaksakan oleh tarian kipas di tangannya akan segera berakhir. Sudah tak ada lagi yang bisa terbakar. Sisakan abu putih yang melayang tanggung. Menghabur bak bedak mistis yang merias wajah-wajah sekarat mereka.

Rapalan mantra itu seperti serapan Vedic Sanskrit. Bercampur dengan Bahasa Jawa, dan sesekali terdengar ayat-ayat Veda. Bapak itu membacanya berulang-ulang seolah ayat-ayat suci yang paling murni.

Dirapalkan bak mistikus langit sebagai sarana untuk menyibak rahasia langit. Kadang pula gerakan bilabialnya hampir tidak pernah bisa dimengerti secara fonetis maupun sintaksis. Sarat kata-kata permohonan dan pujian yang dahsyat.

Sementara itu, di kejauhan, tampak mobil Alfa Romeo besutan tahun 1939 merayapi jalanan desa yang berdebu. Walaupun bukan bermesin ketel uap, putaran mesinnya bak derit roda besi yang menghantam landasan.

Mobil tua itu seketika menghentikan putaran torsi mesinnya yang sudah bobrok tepat di samping tempat ritual. Rangkaian bunyi mesin mobil itu seolah bersorak setelah menemukan titik pemberhentian yang tak asing lagi bagi pengendaranya, tuan Kompeni yang jangkung dan perlente.

Tuan Kompeni keluar dari mobilnya. Bergegas terobos barisan penduduk yang rapi bersila di tanah berdebu. Sudah tak sabar lagi temui si bapak perapal mantra. Bukannya rindu yang setengah mati dengan bapak itu, namun kekecewaan yang akan siap tumpah ruah di hadapannya.

Verdomme!” teriaknya sambil meloncat ke udara membuat kegaduan di siang itu. Semua perhatian tersita olehnya. Penduduk desa seolah tersihir. Gemetaran mengembang di bibir mereka masing-masing. Mengalahkan kekuatan gaib mantra itu sendiri.

Mungkin di dalam pikiran mereka, kali ini yang datang seseorang melebihi malaikat maut. Bisa menentukan hidup mati seseorang dengan pistol di pinggangnya.

Bapak perapal mantra bergegas bangkit temui tuan Kompeni yang begitu khas dengan wajah penjajahnya: mimik kaku dan seram.

“Tuan Peterson, maaf?” Dargombes memilu mengemis belas kasih.

“Bagaimana ini, kok, tak ampuh!” Peterson berkacak pinggang melebihi sikap patung-patung yang banyak berjejer di tempat itu.

Tanpa diduga, Dargombes mencucurkan air mata. Entah karena ketakutan atau kesedihan karena mantranya tak ampuh. Kucuran air matanya membasahi lengan kemeja hitamnya yang sudah tak jelas bentuknya lagi. Robekan sana-sini, kerak dahak, abu arang, dan lobang kecil di sana-sini.

Tidak ada hubungan antara Tuhan dan hamba-Nya, di antara keduanya. Pun, tak ada hubungan jabatan antara bos dan bawahan. Hanya hubungan antara penjajah dan yang dijajah. Ini tentang kemerdekaan!

Hari itu, Peterson datang tagih janji Dargombes yang katanya sanggup menyingkirkan wabah. Peterson adalah seorang peranakan atau Nederlander. Namun, gayanya melebihi seorang gubernur jenderal Belanda!

Sedang Dargombes, pribumi sopan asli desa yang sudah lama mengabdi sebagai pengendali massa lewat ilmu-ilmu mistiknya. Beberapa lembar gulden sudah dikucurkan Peterson untuk menanggulangi wabah ini. Termasuk memenuhi permintaan Dargombes untuk kebutuhan pembelian umbo rampe, kemenyan, dan keperluan ritual lainnya.

“Besok saya lakukan lagi,” Dargombes memberi harapan lagi kepadanya.

“Cukup!” Peterson menendang perangkat ritual hingga berantakan.

“Saya mohon bersabar, Tuan!” pinta dargombes.

“Ayo, ikut aku!” perintah Peterson itu seketika membuyarkan acara ritual pengusiran wabah tersebut.

Mobil Alfa Romeo besutan tahun 1939 itu meraungkan mesin bobroknya lagi. Bisingnya makin membuat lari penduduk yang ikut serta ritual tadi. Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi.

Saat melewati palang kereta api, mobil sedikit menurunkan kecepatannya. Berbarengan itu, muncul dari tikungan iring-iringan pembawa jenazah. Wabah cacar dan malaria berbarengan.

Desa yang sebagian disulap menjadi perkebunan itu terasa mencekam. Setiap hari kematian bertambah. Para Kompeni yang membawa penduduk Eropa untuk mengurusi perkebunan juga tak lepas dari keganasan wabah ini.

“Tuan, kenapa tidak diberi vaksin saja warga desa kami?” pinta Dargombes sambil membuang muka ke jendela mobil yang sudah tak bersih lagi, dipenuhi debu jalanan. Tampak olehnya bayang-bayang tak jelas di luar sana yang mengerikan.

“Kau punya Dewa!” jawab Peterson ketus dan sembari mendekap topi bundarnya di dada. Diserang rasa penasaran yang dalam tentang Tuhan mereka yang tak mampu menghalau wabah-wabah ganas.

Perhatian pemerintahan kolonial hanya fokus kepada pendatang Eropa tersebut. Sedang pribumi hanya disuruh meningkatkan ritual-ritual mistis pengusir wabah.

Wabah cacar terjadi di seluruh Jawa akibat perubahan lingkungan yang drastic. Perubahan lingkungan ekologis karena perluasan industri perkebunan di wilayah pedesaan. Dan juga munculnya permukiman-permukiman kumuh di perkotaan.

Namun, pemerintah kolonial tidak mampu memberantas wabah hanya dengan memperhatikan penduduk Eropa saja. Karena itu, pemerintah kolonial melakukan pemberantasan dengan memerintahkan penduduk jajahan untuk meminta pertolongan kepada Tuhan mereka masing-masing. Pertimbangan murah biaya dan juga bersifat massal, karena hampir semua ber-Tuhan. Hingga tak perlu imunisasi ataupun vaksin untuk pribumi.

Selang dua jam, mobil berhenti lagi sambil memberi letupan keras dari mesinnya yang tak sempurna pembakarannya. Letupan yang menyalak mengalahkan bunyi tembakan pistol ke udara.

Beberapa penduduk berlarian masuk ke rumah mereka. Peterson dan Dargombes turun dari mobil dan menuju ke sebuah rumah. Tampak asap memenuhi ruang tamu. Rumah sederhana beratap rumbia dan berlantai tanah itu suasananya begitu suram. Cahaya matahari terhalang menerobos ke dalam ruangan.

Era kolonialisme sudah membuat penghidupan sengsara. Apalagi terjadi serangan wabah ganas ini. Penduduk makin sekarat!

Di atas dipan ruang tamu tersebut, terbaringlah anak kecil yang menggigil demam tinggi. Sudah seminggu terbaring dan tersengal napasnya. Berupa ruam dengan luka lepuh atau bisul kecil pada kulit menyerupai bintik selebar 5-10 mm dan berisi cairan. Kisaran ada 500 lepuh kecil yang meletus di seluruh tubuhnya. Bahkan tampak beberapa ada di dalam mulutnya.

Lelaki berbaju hitam-hitam itu terus mengipasi arang. Asap makin pekat beriring bau menyengat. Mulutnya komat-kamit. Membaca mantra sakti dipadu dengan remasan bumbu berbau menyengat seperti bawang putih. Dikiranya bawang putih dapat membunuh nyamuk malaria.

Berkali-kali sudah mantra itu dibaca. Berkali-kali pula dupa dibakar. Tidak hanya di rumah itu. Kemarin juga sama, dilakukan di rumah Martono, Sumiati, Paijo, dan di rumah Dirjo.

Hampir seluruh isi kampung penuh asap dan komat-kamit mantra si Dukun. Senapan dan mesiu tak mampu usir wabah ini. Bagi kompeni, jelas ini merugikan. Hasil kebun tanam paksa menurun. Tenaga kerja banyak yang meninggal. Pemasukan berkurang.

Seminggu sudah Peterson mondar-mandir dari desa ke desa yang ada perkebunan miliknya.

Sedang di rumah bundanya, Jansen, adik Peterson sedang berkumpul dengan beberapa orang Belanda lainnya. Ruang tengah itu tampak asri. Bercat putih bersih. Beberapa peralatan gamelan tertata rapi di sudut ruangan.

“Tidak ada Tuhan dan Dewa!” tegas Jansen memecah kesenyapan.

“Jadi ini rencanamu, Jan?” tanya Peterson kepada adiknya yang baru lulus dari Universistas Leiden itu.

“Benar!” jawab Jansen mantap.

Ujung jari Jansen menunjuk lembaran-lembaran yang penuh dengan peta-peta dan gambaran teknik lainnya. Entah apa rencana Jansen dengan gambar yang ditunjuk dengan jarinya itu.

“Sudah yakin dengan rencanamu, Jan?” tanya Peterson

“Yakin!”

“Besok ajak si Dargombes untuk penyuluhan ke penduduk.”

“Baik.”

Kita ini masih ada darah pribumi mengalir di tubuh walaupun tak punya Tuhan dan Dewa seperti mereka.

Suasana mendadak khidmat. Dari pertemuann inilah yang membuat Peterson tidak akan pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah. Sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda masa itu.

Jansen, adik Peterson juga bergabung dalam Instituut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa. Darah pribuminya begitu deras mengalirkan pada tubuhnya.

“Untuk menara airnya?”

“Segi enam belas!”

Keesokan harinya, Jansen bersama rekan mengumpulkan warga yang diserang wabah. Diajaklah Dargombes sebagai penggenap tim. Di pagi yang cerah itu, Jansen mulai berpidato di tanah lapang yang sudah dipersiapkan.

“Saudara-saudara!”

Suasana sedikit gaduh. Penduduk setempat masih memegang kuat takhayul-takhayul penyebab kematian. Peterson dan Dargombes maju ke depan menenangkan mereka.

“Kita dengarkan dulu penjelasannya.” Dengan sabar Jansen kembali memberikan penyuluhan.

“Saudaraku, kalian terserang wabah cacar air dan malaria! Bukan akibat ulah makhluk halus yang datang dari laut! Nyamuklah yang membawa biang tersebut. Hingga anak-anak saudara meninggal, istri-istri saudara sakit, dan kerabat lainnya sekarat!”

Tanpa diduga, lelaki berbaju hitam-hitam maju ke depan. Mengacungkan parang tinggi-tinggi. Sumanto, lelaki yang kemarin berusaha mengobati anak kecil yang terkena cacar air dan malaria itu.

“Belanda laknat!” umpatnya keras-keras.

“Tenang, Kang!” Dargombes berusaha mendinginkan hari lelaki itu.

“Ah, kau penjilat si Meneer itu!”

Suasana kacau. Kerumunan terbagi dua. Sebagian membela Kompeni yang berusaha mengobati penyakit mereka. Sebagian lagi bergeser berpihak ke Sumanto. Provokator-provokator berkeliaran memanaskan suasana. Kesempatan untuk mencari keuntungan masing-masing.

Api dendam kolonialisme beradu dengan jiwa tulus peranakan yang ingin membalas budi dengan ilmunya. Ada darah pribumi di tubuhnya. Seperti mereka yang sekarang sedang sekarat, yang sedang meninggal, dan yang berkumpul itu.

Peterson meletuskan pistolnya ke angkasa. Sumanto menjadi ciut. Suasana agak tenang kembali. Jansen maju dengan sabar meneruskan penyuluhan.

“Saya akan mendesak pemerintahan kolonial untuk mengatasi masalah ini.”

Kemudian majulah Dargombes membawa peta yang kemarin dipelajari oleh Peterson dan Jansen. Dibentangkan dengan kedua tangannya.

Jansen mulai menerangkan rancang bangun menara air yang sehat yang sudah matang didiskusikan kemarin. Penduduk pelan-pelan digiring untuk mengerti tentang wabah ini.

“Nanti akan didatangkan ikan-ikan cethul,” jelas Jansen.

Ikan cethul itu dulu bukan asli Indonesia. Ikan cethul itu dibawa dari luar negeri. Wabah malaria, di mana nyamuk-nyamuk itu bertelur di sawah-sawah yang banyak tergenang air, disebari ikan-ikan cethul yang bisa makan jentik nyamuk malaria.

Penjelasan Jansen yang dipadu dengan pragmatis dan eksplanatif kearifan lokal telah menampar Sumanto yang selama ini berpandangan negatif terhadap Jansen. Ternyata, kompeni itu masih dan sangat menghormati kearifan lokal. Akhirnya penduduk makin bersimpati dengan program-program pemberantasan cacar air dan malaria.

Jansen membangun menara air sebagai sarana perbaikan kebutuhan air bersih pendukung pemberantasan wabah cacar air dan malaria. Keberhasilan mereka dirayakan dalam sebuah pesta desa.

Tampak Sumanto duduk di kursi kehormatan. Jansen sengaja mengundangnya sebagai perwakilan paguyuban kearifan lokal, ikatan para dukun.

“Dargombes, bacakan lagi mantra-mantra itu!” pinta Peterson.

“Untuk apa, Tuan?” tanya Dargombes

“Agar penduduk tetap dalam lindungan Tuhan!” jawab Peterson tegas.

“Kini kalian sudah punya Tuhan dan dewa sekarang!” tambah Jansen.

Mantra bergemuruh di penjuru acara. Pembacaannya diikuti gamelan mistis dari paguyuban yang dipimpin Sumanto. Suasana sakral begitu khusyuk. Bersamaan dengan berakhirnya mantra, tumpeng lengkap dengan lauk-pauk keluar sebagai perjamuan.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)