Dari Geger Batavia sampai Terpecahnya Mataram Kartasura

Dari Geger Batavia sampai Terpecahnya Mataram Kartasura
┬ęDetik

Batavia dicengkeram kekacauan. Orang-orang Cina yang bermukim di luar benteng, khususnya yang banyak tinggal di daerah tepi pantai meradang. Mereka tidak terima dengan aturan yang digulirkan oleh pimpinan tertinggi Kompeni di Hindia Timur Belanda, Gubernur Jenderal Adrian Valckenir (1695-1751 M), pada Juli 1740, yaitu membatasi pertumbuhan penduduk Cina yang makin melonjak jumlahnya, dengan meminggirkan warga imigran terutama etnis Cina ke daerah-daerah pesisir.

Peraturan itu ditetapkan karena dalih kompeni yang menyatakan bahwa banyak orang Cina yang berbuat kriminal seperti perampokan, pencurian, dan pemalakan. Kompeni juga khawatir dengan membludaknya warga Cina di Batavia.

Bahkan Ong Hok Ham mengatakan peraturan seperti ini yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal adalah peraturan yang dipaksakan, baik secara fisik maupun secara administratif yang menggolongkan jenis penduduk (Ong Hok Ham, 2002). Penggolongan semacam ini yang nantinya akan mengakibatkan penduduk terbagi secara rasial dan memunculkan kesenjangan sosial.

Dengan sikap seperti ini, warga Cina gerah terhadap kompeni. Karena disamping sebagai etnis yang berjasa dalam mengembangkan pertumbuhan ekonomi di Batavia sejak 1645, juga sebagai perantara antara pedagang pribumi dari pedalaman ke pasar internasional, khususnya Asia Tenggara.

Karena merasa dikucilkan dan dirugikan, etnis Cina kemudian melakukan aksi-aksi kerusuhan. Peristiwa ini dimulai ketika sekelompok orang Cina nekat menyerang prajurit-prajurit kompeni yang berjaga di pos perbatasan kota Batavia yang menyebabkan serdadu Belanda meninggal.

Berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh, VOC menarik kesimpulan bahwa orang-orang Cina sedang merencanakan suatu pemberontakan. Sedangkan pihak Cina merasa yakin bahwa VOC bermaksud akan mengirim kelebihan orang Cina keluar dari Batavia dan membuang mereka ke laut. Akibat adanya rasa saling curiga satu dengan yang lain, maka kerusuhan tidak bisa dielakkan lagi, mulai dari penjarahan rumah etnis Cina, pembakaran pemukiman etnis Cina, sampai dengan pembunuhan secara massal terhadap warga Cina.

Pembantaian ini menimbulkan reaksi yang penting di dalam tubuh VOC karena nanti akan berbuntut panjang dalam sejarah VOC dan warga Cina. Mulai dari penyerang-penyerang pos VOC sepanjang pantai Utara, bergabungnya warga Cina dengan Jawa dalam pemberontakan terhadap VOC dan berhentinya perekonomian VOC untuk beberapa waktu. Kejadian tersebut juga mempunyai arti yang penting di Jawa karena merupakan awal dari rentetan terakhir peperangan abad XVIII.

Ketika kompeni melakukan pembantaian, menurut Ricklefs, gerombolan-gerombolan Cina yang berhasil melepaskan diri dari pembantaian di Batavia, khususnya di Tanah Abang, lari ke arah Timur Jawa, sambil menyerang dan mengganggu pos Kompeni di sepanjang Pantai Utara dan akhirnya mengepung posisi utama Belanda di Semarang (Ricklefs, 2005). Gerombolan pemberontak itu dipimpin oleh Kapten Souw Pan Jang. Dengan gerak laju yang begitu cepat, kelompok tersebut berhasil menguasai kota-kota di pesisir Jawa Tengah seperti Demak, Juwana, dan Rembang.

Dengan dikuasainya kota-kota pesisir, hal itulah yang menyebabkan sebuah aksi anti-kompeni di Keraton Kartasura. Dipimpin oleh Patih Natakusuma, membujuk Susuhunan Paku Buwono II untuk membantu kaum pemberontak Cina. Ternyata tidak itu saja. Di dalam keraton sendiri, ada pihak yang pro dengan kompeni. Dengan terpecahnya dua kelompok yang ada di keraton, menyebabkan Susuhunan bersifat ambigu. Terkesan plinplan dalam mengambil keputusan untuk menghadapi peristiwa pemberontakan Cina.

Walaupun Susuhunan terkesan plinplan dan bermuka dua membantu Cina dalam pemberontakan tersebut, ternyata kaum pemberontakan Cina terus melakukan aksinya. Ia mendapatakan applause sekaligus dukungan dari Raden Mas Garendi. Bahkan, cucu Susuhunan Amangkurat III itu berada di barisan paling depan. Ia memimpin pemberontakan, baik terhadap VOC maupun terhadap Susuhunan PB II.

Aksi militer di bawah komando Raden Mas Garendi yang pada saat itu baru berusia 15 tahun benar-benar merepotkan pasukan PB II. Hingga benteng Kartasura yang tingginya mencapai empat meter dan tebalnya dua meter berhasil dijebol. Perlawanan yang sangat merepotkan pihak VOC dan PB II ini tidak sedikit mengorbankan nyawa. Banyak orang terbunuh dalam peristiwa berdarah ini, baik pada pasukan Jawa-Cina dan VOC. Bahkan Kapiten Tack yang bertugas di Kartasura mati terbunuh dalam peperangan sengit itu.

Dengan berhasilnya merebut keraton Kartasura, Mas Garendi akhirnya diangkat menjadi raja dengan gelar Susuhunan Amangkurat V. Atau yang populer dengan sebutan Sunan Kuning karena penobatannya didukung oleh etnis berkulit kuning, Cina. Sedangkan PB II sendiri lari ke Ponorogo dengan ditemani oleh putra kelimanya dan penasihatnya Johans Andries Von Hohendorff yang di kemudian hari akan menjadi Residen Surakarta beserta Willem Baron Van Imhoff yang kelak akan menjadi Gubernut Jenderal pada tahun 1743-1750 M.

Di pengungsiannya, PB II ternyata tidak tinggal diam. Ia meminta bantuan kepada VOC untuk merebut takhtanya kembali. Dengan iming-iming Susuhunan akan memberikan semua tanah yang ada di daerah pesisir pantai utara Jawa dan diperbolehkannya menentukan pejabat patih. Kedua opsi inilah yang nantinya akan menjadi pemicu pergolakan pemberontakan yang dilakukan oleh Pengeran Mangkubumi (Sahban Yasasusastra, 2008).

Dengan bantuan Cakraningrat IV, kompeni berhasil merebut kembali keraton Kartasura. Ia (Cakranigrat IV) melakukan strategi dengan membunuh masyarakat Cina yang berada di Jawa Timur seperti Gresik, Tuban, dan Sedayu sampai akhirnya melakukan serangan ke Kartasura.

Walaupun PB II berhasil duduk kembali di singgasana sebagai raja, ia harus membayar mahal dengan memberikan imbalan kepada kompeni. Sinuhun harus menerima kenyataan pahit. Bangunan keraton Kartasura rusak parah akibat pertempuran berdarah di benteng itu. Maka PB II berniat memindahkan keraton karena dianggap sudah tidak memiliki aura bagus untuk melanjutkan kekuasaan.

Ternyata persoalan yang dihadapi oleh PB II tidak hanya berhenti sampai di situ. Kemelut di Mataram belum selesai. Justru ini menjadi babak awal tahun-tahun kekacauan. Sebab, PB II harus menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Mas Said dan kemarahan Pangeran Mangkubumi karena PB II mengingkari janjinya.

Dengan adanya pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh kedua pangeran tersebut, akhirnya dengan terpaksa PB II memecah Mataram menjadi dua. Hal itu melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 M, yang waktu itu takhta Mataram sudah dipegang oleh PB III.

Pangeran Mangkubumi akhirnya mendapat separuh wilayah Mataram dengan mendirikan Kasultanan Ngayogyakrta Hadinigrat. Ia mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Sultan Hamengkubowono I. Kejadian ini menggambarkan bahwa kebijakan VOC di Jawa telah gagal. Sejak campur tangan militer mereka yang pertama, pihak Belanda telah berusaha menciptakan stabilitas dengan cara mempertahankan seorang raja di atas takhta Mataram yang akan memerintah seluruh Jawa untuk kepentingan mereka sendiri.

Raha Bistara