Dari Orde Baru ke Gelombang Demonstrasi Mahasiswa September 2019

Dari Orde Baru ke Gelombang Demonstrasi Mahasiswa September 2019
©Antara Foto

Sejak kolonialis militer dan birokrasi Belanda dipaksa meninggalkan negeri baru Indonesia tahun 1950, Indonesia hanya pernah mengalami satu budaya politik dan politik ekonomi yang sungguh-sungguh terkonsolidasikan: Orde Baru.

Hanya satu dan itu adalah sebuah kediktatoran totalitarian kapitalisme kroni.

Hanya satu! 1946-65, tak ada sistem ataupun budaya politik apa pun yang terkonsolidasikan. Masa itu adalah masa pertarungan, masa tarik-memarik; masa kontestasi. Kontestasi itu tak pernah sempat terselesaikan secara politik atau budaya karena diakhiri secara militeris.

Jadi hanya satu sistem yang pernah terkonsolidasikan, meski dengan paksaan: sebuah kediktatoran totalitarian kapitalisme kroni. Dan yang hanya satu ini adalah juga yang pertama yang dialami dalam perjalanan hidup negeri.

Dari sisi ini, Orde Baru adalah Indonesia, dan Indonesia adalah Orde Baru. Tetapi sejak awal pun—mulai tahun 1972-73 dengan perlawanan mahasiswa DEMA UI dan lain-lain, majalah SENDI, W.S. Rendra—ada dinamika menunjukkan bahwa ada juga visi lain lagi yang hidup di masyarakat meski susah-susah muncul di atas permukaan.

1980-an, sebuah Indonesia yang berbeda kembali dari eksil di penjara-penjara dan muncul dalam bentuk seri buku-buku Bumi Manusia. Dalam tahun 1990-an, dalam bentuk aktivisme Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan penyairnya Wiji Thukul serta gerakan organ-organ feminis.

Baca juga:

Sejak tahun 1998, sistem kediktatoran totalitarian kapitalisme kroni tidak jalan lagi. Tetapi sistem dan budaya politik yang dominan sekarang tetap merupakan produk keturunan dari sistem itu.

Setiap kali elite mengalami kesulitan atau perlawanan dalam situasi, itu memicu dinamika kecenderungan ingin kembali ke sistem dan budaya politik lama secara sepenuhnya, meski tak bisa-bisa.

Kewalahan sebenarnya mereka. Manipulasi pencitraan (misal lewat tentara buzzer dan lain-lain) oleh semua pihak, represi acak tak sistematis adalah dua contoh tindakan sebuah elite yang kewalahan menghadapi perubahan zaman.

Selain itu, selama mereka tidak bisa selenggarakan otoritarianisme politik secara sistematik (hanya acak), mereka akan coba menerapkan otoritarianisme sosial-budaya dengan berusaha menciptakan suasana sosial yang lebih kolot.

Pada bulan September yang lalu, demonstrasi serentak di seluruh Indonesia yang memajukan 7 atau 9 tuntutan yang ingin memajukan demokrasi, kesetaraan gender, demiliterasi di Papua, perlindungan alam, dan lain-lain. merupakan cerminan terbaru adanya visi lain untuk Indonesia.

Visi lain dan baru ini belum sepenuhnya terungkapkan, tetapi pasti akan makin jelas ditemukan dan diungkapkan. Dan sudah kelihatan bukan hanya visi yang baru, tetapi visi yang baru dan berlawanan sepenuhnya dengan warisan sistem dan budaya paksaan selama Orde Baru.

Hanya kaum muda yang bisa melahirkan yang segar. Segar, bergairah, dan mulai lihat masalah sampai ke akarnya.

Tetapi, tentu saja, memenangkan yang baru secara sejati tidak akan gampang.

Selamat bekerja. Kalau bisa saya bantu sedikit-sedikit, akan saya berupaya.

Baca juga:

    Max Lane

    Indonesianis asal Australia | Mengajar di University of Melbourne, Australia
    Max Lane