Daripada Tersesat Sendirian

Daripada Tersesat Sendirian
©Dok. Pribadi

Daripada Tersesat Sendirian

Seperti yang kukatakan sebelumnya jika aku akan menuliskan tentang kisah perjalananku dengan mbak Mucha dalam tulisan “Mbak Mucha, The Real Suhu”, yes, here we go!

Ketika mbak Mucha harus melaporkan rencana penelitiannya, beliau yang terbang dari Filipina langsung menuju ke Jakarta untuk ke kantor yang menangani pengajuan risetnya. Riset beliau tentang “Suku Bajo se-Asia Tenggara” meneliti orang Bajo yang tinggal di pulau Kalimantan, Indonesia.

Kemudian beliau mengirimiku pesan di messenger FB untuk mengajakku untuk menemaninya ke kantor tadi. Aku yang sedang berada di Jogja karena menyelesaikan tesis di S2 CRCS UGM langsung mengiyakan, secara mbak Mucha sudah seperti kakak kandung sendiri. Kami juga satu kontrakan dan sama-sama di naungan sekolah Pascasarjana UGM, bedanya mbak Mucha lagi penyelesaian S3 di jurusan ICRS UGM.

Aku pun mengiyakan ajakannya lalu mencari travel atau mobil sewa ke Jakarta, aku tidak memilih pesawat karena agak mahal, kasihan mbak Mucha yang membiayaiku. Saat itu aku dicarikan travel oleh sepupu yang juga kuliah di Jogja. Travelku menjemput sekitar jam sembilan malam, sedangkan aku tiba di Jakarta sekitar jam sembilan pagi, it upun aku harus muter-muter dan kena macet dulu sebelum sampai di hotel Take Mansion dekat tugu Monumen Nasional (Monas) tempat mbak Mucha menginap.

Tiba di hotel, sudah masuk waktu Dzuhur. Mbak Mucha menyambutku dengan senyum bahagia. Beliau senang aku datang. Aku masuk di hotel dengan suasana adem tidak hiruk-pikuk seperti di luar sana, jalan raya. Hotel itu tidak begitu besar, mungkin saat itu masih bintang empat. Kata mbak Mucha, beliau senang dengan arsitektur hotel yang bernuansa Jepang.

Aku langsung diajak makan siang dan istirahat. Jika tidak salah, hari itu libur, hari Minggu. Aku dan mbak Mucha menghabiskan waktu di kamar. Beliau sibuk mengetik di laptop sedangkan aku asyik nonton acara model dari siaran luar negeri. Aku juga lebih sering masuk ke kamar mandi, mandi karena ada bathtup-nya (gara-gara rajin mandi ini membuat mbak Mucha membelikanku buku dari Filipina yang judulnya tentang Pamali, mandi malam-malam).

Keesokan harinya, kami mulai bergerilya. Setelah sarapan sekitar jam enam pagi, kami pergi menuju kantor itu (aku lupa tepatnya). Saat itu kami  menggunakan bis. Jakarta itu benar-benar gila karena hari itu masih pagi sekitar jam tujuh lewat baru beberapa menit aku dan mbak Mucha yang pertama menaiki bus. Tiba-tiba secepat kilat bis langsung penuh dan sesak dengan orang-orang yang pergi bekerja. Untung kami duduk di area yang strategis, dekat pintu sehingga udara bisa masuk.

Baca juga:

Di kantor itu, mbak Mucha berbicara dengan bahasa Inggris dengan pegawainya tentang izin penelitiannya. Beliau tidak membutuhkanku untuk membantunya berbicara dalam bahasa Indonesia karena pegawainya fasih berbahasa Inggris. Mbak Mucha memang tidak bisa berbahasa Indonesia, beliau hanya tahu mengartikan jika kamu menggunakan bahasa padanya.

Jadi, beliau memang lebih banyak berbahasa Inggris dengan kami. Terkadang di kontrakan kami juga saling menggunakan bahasa isyarat jika kami sama-sama tidak bisa mengartikannya, baik ke dalam bahasa Indonesia maupun Inggris.

Pulang dari sana, kami mencari stasiun kereta api (KA) untuk menuju ke kantor imigrasi. Rupanya mbak Mucha ingin mencap passpornya. Suasana kantor imigrasi sangat ramai. Aku yang baru tahu suasana kaget, kayak pasar saja (zaman itu, ya!).

Pulang dari sana sudah menjelang malam, kami menaiki KA lagi. Namun, pucuk dicinta ulam pun tiba, bisa-bisanya aku melihat cowok yang kusuka waktu S1 yang sudah menikah dengan adik kelasku yang sejurusan denganku. Aku sampai tak bisa berbicara ketika aku melihatnya berjalan di depanku, dibelakangnya ada istri dan anaknya. Aku bilang pada mbak Mucha dengan lirih, “Mbak, he was my idol when I was on campus before in UGM.

Mbak Mucha memperhatikan laki-laki tinggi, kurus, dan putih. Mbak Mucha tersenyum katanya dalam bahasa Inggris, untung kamu tidak bersamanya, dalam keadaan ramai begini harusnya ia menggandeng istrinya. Bukan malah meninggalkan di belakangnya atau sebaiknya ia dibelakang istrinya berjalan yang sambil menggendong anak.

Aku terpaku, bukan lagi karena terpukau dengan tampannya si cowok. Tapi, terpaku dengan kata-kata mbak Mucha, betapa beliau memperhatikan sedetail itu. Dan memberikan nasihat padaku secara tidak langsung bagaimana harusnya laki – laki memperlakukan perempuan.

Hiburan Sebatas Monas

Keesokan harinya kami pergi ke kantor lagi, tapi kantornya sudah dekat. Hanya di belakang hotel yang kami tempati. Kami hanya berjalan kaki. Aku lagi-lagi lupa kantor itu kantor apa, tapi intinya kami ke sana masih dalam rangka untuk urusan penelitian mbak Mucha. Sebelumnya mbak Mucha sudah ke sana sebelum aku datang. Jadi urusan sudah beres tinggal pulang ke jogja besok.

Di perjalanan sewaktu kami pulang dari kantor tadi, banyak sekali penjual jajanan. Seperti bakso, batagor, rujak, dan lain-lain. Kami singgah membeli rujak dua porsi dan seporsi batagor untukku. Mbak Mucha bukanlah seseorang yang suka makan beda dengan aku yang pemakan segala.

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)