Dasar Pemikiran Tatanan Spontan Liberal Klasik

Dasar Pemikiran Tatanan Spontan Liberal Klasik
©WallpaperBetter

Tatanan spontan muncul bukan karena desain manusia.

Ketika pemikiran merupakan aksi (act) yang menyebabkan pikiran mendapatkan pengertian baru dengan perantara hal yang sudah diketahui, maka liberal klasik juga mempunyai pikiran atau akal budi sebagai manusia secara keseluruhan.

Proses pemikiran merupakan pergerakan mental dari satu hal menuju hal lain, dari proposisi satu ke proposisi ke proposisi lainnya.

Pemikiran tradisi liberal klasik memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Pemikiran ini dipengaruhi oleh pergerakan mental kuno. Kemudian berkembang di abad pertengahan, abad kedelapan belas, abad kesembilan belas, dan abad kedua puluh. Hingga sekarang, pemikiran itu masih terus dikembangkan oleh para sarjana saat ini.

Sebagaimana semua tradisi intelektual yang dinamis, pemikiran liberal klasik mencakup berbagai sudut pandang penting mengenai sifat masyarakat, individu, dan hubungan antara keduanya. Inilah beberapa prinsip dan ide pemikiran yang menonjol dalam tradisi liberal klasik.

Pemikiran dan ide liberal klasik adalah sesuatu yang berhak berkembang sebagaimana pemikiran dan ide-ide lainnya. Ia terus berusaha untuk terus memahami dan mendukung masyarakat bebas dan majemuk. Kemajuan intelektual dan ekonomi dianggap bagian dari norma.

Pergerakan mental ini mendukung konsep individu yang berkembang dalam konteks keterbukaan, kerja sama sukarela dan damai, dan saling menghormati. Setiap prinsip dan ide tradisi intelektual liberal klasik adalah ide yang kaya dan terus berkembang. Inilah pemikiran dan ide tersebut yang membangun gairah tatanan spontan.

Pertama, kebebasan individu adalah titik awal dari segalanya. Ide ini mengarah pada pola pertumbuhan manusia yang luas. Kebebasan individu adalah nilai politik utama dalam tradisi liberal klasik.

Sedang tradisi politik lainnya telah menganggap individu sebagai bawahan dari kolektif. Di bawah sosialisme dan nasionalisme, misalnya. Ketika kepentingan individu diperlakukan sebagai alat untuk tujuan masyarakat, partai, atau negara.

Liberal klasik melihat individu bukan hanya sebagai alat belaka, tetapi sebagai tujuan dalam diri mereka sendiri. Layaknya ia mendapatkan rasa hormat dan kebebasan untuk menjalankan hak pilihannya.

Individu menurut liberal klasik dapat bertindak secara sukarela dengan cara menempatkan diri mereka, keluarga mereka, komunitas mereka, atau masyarakat yang lebih luas di atas kepentingan mereka sendiri, dengan tetap dan masih bisa menggunakan kebebasan individu. Pemaksaan politik yang menempatkan kolektif di depan individu adalah pelanggaran terhadap kebebasan itu.

Kedua, toleransi dan pluralisme adalah prinsip pelengkap yang membangun satu sama lain menuju masyarakat yang baik. Pada tingkat paling mendasar, toleransi adalah prinsip bahwa selama seseorang tidak secara substansial merugikan orang lain, perilaku, ucapan, dan pandangan mereka harus diizinkan secara hukum.

Varian toleransi ini digunakan untuk mempertahankan kebebasan berbicara dan berekspresi. Kaum liberal klasik juga menunjukkan bahwa toleransi cenderung mengarah pada pluralisme.

Argumen yang mendukung toleransi beragama, misalnya, memperjuangkan gagasan bahwa manusia yang mempercayai hal-hal yang berbeda dan mempraktikkan agama yang berbeda tetap dapat hidup damai dan produktif secara berdampingan.

Masyarakat yang pluralistik cenderung dinamis dan lebih dapat menerima perubahan sosial positif dan lebih mampu menyadari manfaat dari perbedaan di antara kita. Karena semua alasan ini, kaum liberal klasik menyukai toleransi dan pluralisme sebagai cita-cita sosial dan politik.

Liberal klasik mengakui bahwa lembaga-lembaga yang membentuk masyarakat sipil—seperti keluarga, komunitas agama, asosiasi lingkungan dan profesi, dan komunitas filantropi—kaya akan potensi mereka untuk menangani berbagai masalah sosial.

Masyarakat sipil bisa jadi jauh lebih efektif daripada pemerintah yang sering menghambat dengan aturan birokrasinya yang kaku atau tidak fleksibel.

Ketika program-program pemerintah berkembang, masyarakat sering didesak perannya dalam menemukan solusi. Oleh karena itu, liberal klasik sering memperjuangkan konsep “pemerintahan terbatas”. Namun, ini bukan sebagai tujuan utamanya. Hal tersebut hanya sebagai alternatif terbaik bagi masyarakat sipil untuk berkembang.

Penekanan tatanan spontan yang diinginkan oleh liberal klasik adalah berbasis pada gagasan-gagasan dan banyak tatanan dalam masyarakat serta menghasilkan koordinasi sosial yang seluas-luasnya.

Tatanan spontan muncul bukan karena desain manusia, bukan oleh kontrol rasional top-down, tetapi oleh proses bottom-up percobaan, kesalahan, pembelajaran, dan koreksi-koreksi.

Liberal klasik memandang bahwa koordinasi sosial sebagai sesuatu yang diasumsikan dan dirancang secara sadar. Sedang pemikiran liberal klasik tentang tatanan spontan, tentunya berlawanan dengan intuisi.

Konsep aturan yang memandu kehidupan kita sehari-hari—seperti bahasa, keluarga, dan kode moral menurut liberal klasik tidak dirancang untuk dipaksakan dari atas ke bawah. Tetapi sebaliknya telah berkembang seiring dengan waktu melalui hal-hal yang sifatnya sukarela dari bawah ke atas.

Baca juga:

Ketiga, pasar adalah contoh dari tatanan yang muncul melalui proses di mana banyak pelaku mengejar rencana dan tujuan masing-masing.

Interaksi ini menghasilkan komunitas yang kaya informasi, munculnya harga pasar dan strategi-strategi yang berbeda dari para pelaku pasar yang tak terhitung jumlahnya. Liberal klasik memandang pasar sebagai sesuatu yang secara tak sadar memandu terjadinya proses tersebut atau tatanan spontan.

Liberal klasik cenderung menyukai kebijakan publik yang didasarkan pada prinsip kebebasan ekonomi daripada kebijakan yang didasarkan pada prinsip kontrol ekonomi.

Hal lain yang diperjuangkan adalah ekosistem yang menghasilkan solusi kreatif. Pemerintah dapat berperan dalam mendukung “ekosistem” ini. Misalnya, menyediakan infrastruktur hukum untuk mengamankan hak-hak properti dan menegakkan kontrak.

Keempat, kebebasan berekspresi dan berbicara yang memberi setiap orang hak untuk menyuarakan pendapatnya sendiri, tanpa rasa takut di depan umum.

Kebebasan berbicara adalah nilai politik karena dapat menjamin hak orang yang diperintah untuk mengkritik pemerintah serta berfungsi sebagai kekuatan yang penting untuk terhadap kekuatan negara.

Kelima, solusi damai adalah kunci untuk menumbuhkan masyarakat di mana individu pergi tentang urusan sehari-hari mereka dalam konteks kerja sama sukarela dan tanpa adanya kekerasan atau perang.

Liberal klasik skeptis terhadap kebijakan intervensionis. Namun, ini tidak berarti bahwa kaum liberal klasik adalah isolasionis.

Sebaliknya, ketika menyangkut pelibatan internasional, kaum liberal klasik menyukai pergerakan bebas akan modal dan tenaga kerja, orang, barang, jasa, dan gagasan lintas batas, sebagai resep paling mujarab untuk kerja sama dan perdamaian internasional.

Keenam, keadilan dalam tradisi liberal klasik adalah prinsip bahwa hak individu semua harus dihormati. Keadilan menuntut pemerintah untuk menghormati hak-hak individu. Prinsip keadilan juga mengatur hubungan antar-individu. Secara umum, masyarakat yang adil adalah masyarakat yang didasarkan pada persetujuan sukarela, bukan paksaan.

Tradisi liberal klasik menyetujui bahwa masyarakat yang baik adalah terciptanya interaksi sukarela sebagai cara terbaik untuk mencapai tujuan yang saling menguntungkan.

Itulah beberapa pokok-pokok pikiran liberal klasik yang mendukung terciptanya sebuah tatanan spontan yang bebas dan bertanggung jawab.