Degil Tuntutan 12 Tahun Penjara Bharada Richard Eliezer

“Jadi kaya robot dong?”

Bila sang Komandan itu pada suatu saat nanti benar adalah salah satu kandidat untuk menjadi Kapolri, kacau sudah nasib kita. Kita boleh dan bahkan wajib merasa beruntung atas hadirnya Eliezer.

Paling tidak, sisi kemanusiaan Eliezer yang dia pertahankan tetap hadir alih-alih pilihan “merobotkan diri”, kini justru menyebabkan dirinya diancam hukuman 12 tahun. Padahal tindakannya telah menyelamatkan bangsa ini dari celaka dua belas.

Bayangkan bila kejadian itu tak pernah terbongkar, Anda tahu bagaiamana nasib hukum di negara ini. Dan ingat, dia yang berada di balik terbongkarnya perkara itu, ada seorang JC bernama Bharada Richard Eliezer, polisi dengan pangkat paling rendah.

Sama dengan orang minta maaf dan lalu permintaan maafnya dikapitalisasi sebagai modal untuk membangun gugatan, pilihan untuk menjadi justice collaborator pun kini dimaknai sebagai pengakuan bersalah.

Luar biasanya, bukan oleh orang awam dalam bidang hukum, materi pengakuan seorang JC itu kini justru dipakai oleh JPU, pejabat hukum yang dikasih bukti dan lalu punya perkara hukum, kini bukti itu justru dipakai untuk memukul si pemberi.

Bagi JPU, Richard Eliezer hanyalah sang eksekutor pada meninggalnya Brigadir Novriansah Yosua Hutabarat. Eliezer tak pernah ditempatkan pada posisi sebagai justice collaborator.

“Culas dong?”

Baca juga:

Bila tak mau dibilang culas, paling tidak, ada pesan moral dari banyak kisah hukum itu dapat kita petik. Sepertinya, gak terlalu berlebihan juga kalau kita bilang bahwa kejujuran bukanlah hal atau sifat yang dianggap berharga di negara ini.

Kejujuranmu, kerendahan hatimu untuk berani minta maaf sering kali justru adalah bencanamu.

Jadi, di negeri ini, bila Anda adalah maling, copet, koruptor, pembunuh, pemerkosa atau apa pun kriminal jenis perbuatan itu, jangan sekali-kali kita terjebak untuk pernah minta maaf apalagi mengaku bersalah di luar sidang?

Ya, faktanya itu memang sering nggebuk Anda sendiri.

“Dengan kata lain, meski kita bersalah, moral ceritanya adalah kita kudu tetap songong?”

Bukankah banyak kejadian ketika seseorang senggol mobil dan sebelum pemilik mobil tersenggol itu marah, orang yang nyenggol justru buruan keluar sambil bawa kunci stang dan lalu dia yang mobilnya disenggol justru akan minta maaf?

Bahwa kemudian si penyenggol justru mendapat ganti rugi, itu kisah sesudahnya saja. Itu telah mulai menjadi lumrah dan kini justru menjadi tren. Subjektif kita lalu berkata bahwa itu juga adalah kebenaran.

Dan maka, ketika kabar bahwa Richard Eliezer oleh JPU justru dituntut 12 tahun penjara, meski tanpanya kasus itu tak mungkin akan terungkap, entah kenapa, kita tak lagi dapat melihat keanehan itu.

Baca juga:

Bisa jadi, subjektivitas kita pun ternyata telah rusak oleh kebiasaan itu. Dan itu akan membuat kita dengan mudah meninggalkan Richard Eliezer. Sendirian.

Bahkan ketika dalam ruang sadar kita pun masih berani berkata: “Tanpa Eliezer menjadi JC, tak mungkin rumit dan kegilaan kisah itu dapat terungkap”.

Namun, seperti tak peduli, kita hanya diam dan membisu.

*Leonita_Lestari

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)