Dekonstruksi Kecantikan Perempuan dalam Dunia Kapitalisme

Dekonstruksi Kecantikan Perempuan dalam Dunia Kapitalisme
©Voxpop

Membaca cerpen “Cantik” karya Putu Wijaya

Kecantikan berasal dari kata dasar “cantik”, yang diberi konfiks ke-an menjadi kecantikan. Istilah kecantikan sangat akrab dengan kaum perempuan meski tidak menutup kemungkinan ada beberapa laki-laki yang berjuang untuk menjadi cantik.

Kata “cantik” diterjemahkan dari kata “beauty”, sedangkan orang yang ahli tentang kecantikan disebut dengan “beautician” (Rostamailis, 2005). Salim dan Salim (1991) mendefinisikan cantik merupakan suatu ungkapan untuk keindahan wajah dan biasanya digunakan untuk perempuan.

Definisi kecantikan secara fisik bisa menjadi lentur. Kelenturan definisi tersebut memberikan pemahaman bahwa kecantikan merupakan konsep yang relatif.

Tidak setiap orang memiliki definisi yang sama terhadap sosok perempuan. Saya boleh mengatakan bahwa wanita itu cantik. Tetapi pada saat yang sama, definisi saya bisa dibantah oleh orang lain yang mengatakan bahwa wanita itu tidak cantik sehingga perdebatan pun menjadi tak dapat dielakkan. Inilah yang terjadi dalam cerpen Cantik karya Putu Wijaya.

Meskipun demikian, masyarakat menciptakan gambaran yang ideal tentang kecantikan yang bermuara pada usaha perempuan untuk tampil cantik sesuai standar yang ditetapkan oleh masyarakat. Fakta bahwa semua perempuan ingin tampil cantik bukan merupakan sebuah rahasia.

Perempuan akan merasa berbangga kalau ia dilabeli sebagai perempuan cantik. Tak ayal, setiap perempuan berlomba-lomba untuk menjadi cantik. Produk kecantikan  dan salon kecantikan pun mulai menjamur di mana-mana demi mengakomodasi hasrat setiap perempuan.

Kapitalisme memandang kecantikan sebagai salah satu komoditas yang mumpuni untuk meraup keuntungan. Tidak heran kalau dalam setiap iklan produk penjualan ditempeli dengan kehadiran perempuan cantik. Tujuannya adalah untuk menarik minat konsumen. Makin cantik perempuan makin banyak minat konsumen terhadap produk tersebut.

Kapitalisme hanya memandang perempuan dari sisi fisik dan melihatnya sebagai objek yang potensial. Cara pandang ini merupakan salah satu bentuk eksploitasi terhadap kecantikan dan perempuan itu sendiri.

Dengan adanya berbagai masalah dalam atmosfer kapitalisme tersebut, maka penulis mencoba untuk meneliti perlakuan dan persepsi terhadap citra perempuan dalam kerangka cerpen Cantik karya Putu Wijaya.

Kapitalisme sebagai Sistem Ekonomi

Menurut Kamus Umum Besar Bahasa Indonesia, kapitalisme dipandang sebagai sebuah sistem dan pandangan ekonomi (penanaman modalnya, kegiatan industrinya) bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dan pasar bebas.

Sementara, menurut Wikipedia, kapitalisme didefinisikan sebagai paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Menurut catatan sejarah, Adam Smith merupakan orang pertama yang dikenal mengumpulkan ide dan gagasan yang berserak dari para pemikir ekonomi sebelumnya ke dalam sebuah buku yang berjudul The Wealth of Nation.

Bottomore mengemukakan bahwa kapitalisme ialah sebuah istilah yang mengacu kepada sebuah cara produksi di mana terdapat modal (kapital) dan juga bermacam bentuknya yang merupakan suatu alat utama dalam produksi. Sementara itu, Max Weber menganggap bahwa kapitalisme ialah sebagai suatu kegiatan ekonomi yang dituju pada suatu pasar dan juga yang dipacu untuk dapat menghasilkan laba dengan adanya pada pertukaran pasar (www.gurupendidikan.co.id).

Bertolak dari pendapat kedua ahli tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kapitalisme merupakan salah satu kegiatan ekonomi yang berorientasi pada pasar untuk menghasilkan laba atau kapital.

Ciri-ciri kapitalisme menurut Umer Chapra (2007) adalah sebagai berikut; Pertama, percaya bahwa ekspansi kekayaan dapat dipercepat, produksi maksimum dan pemuasan keinginan sesuai dengan preferensi individu sangat penting bagi kesejahteraan.

Kedua, kebebasan individu tanpa batas untuk menciptakan kekayaan pribadi, memiliki dan mengaturnya sebagai keharusan inisiatif individu.

Halaman selanjutnya >>>
Jetho Lawet