Dekonstruksi Nalar Islam Muhammad Arkoun

Dekonstruksi Nalar Islam Muhammad Arkoun
©DIA-Algeria

Muhammad Arkoun mengajak kita untuk menafsirkan kembali mengenai ajaran agama Islam dan maknanya.

Perkembangan kehidupan modern dalam Islam menemukan momentumnya pada abad ke-IX, walaupun dasar-dasarnya telah muncul sejak beberapa abad sebelumnya. Momentum yang dimaksud adalah adanya gerakan politik dan intelektual yang mulai menjamah ke berbagai kawasan negeri-negeri Islam. Tema gerakan-gerakan itu umumnya berkisar pada dua hal, protes melawan kemerosotan internal dan serangan eskternal.

Pembaruan yang mengakibatkan pencarian terhadap masyarakat ideal sangat dipengaruhi oleh cara pandang, pendekatan, latar belakang sosio kultural dan keagamaan masing-masing pembaru. Karena corak epistemologi gerakan yang beragam inilah, maka melahirkan model pembaruan yang bermacam-macam yang sering ditipologikan sebagai gerakan reformisme, modernisme, puritanisme, fundamentalisme, sekularisme, dan neo-modernisme.

Arkoun sebagai pemikir Islam kontemporer yang memiliki kontribusi luar biasa dalam mengembangkan kemajuan Islam dari aspek pemikiran dan penafsiran ajaran agama. Ia bisa disejajarkan dengan pemikir lainnya seperti Seyyed Hossein Nasr, Hassan Hanafi, Fazlur Rahman, Syahrur, Nasr Hamid Abu Zaid, Ali Harb, Abed al Jabiri, Abdul Karim Soroush, Muhammad Said al Asmawi, Dr. Imarah, dan lain-lain.

Muhammad Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 M di Kalibia, suatu daerah pegunungan berpenduduk Berber di sebelah Timur Al-jir. Keadaan itu menakdirkan Arkoun hidup dengan tiga bahasa sekaligus, yaitu bahasa Talibia, salah satu bahasa berber yang diwarisi dari Afrika Utara dari zaman Pra-Islam dan pra-Romawi, bahasa Arab, serta bahasa Prancis yang sudah menguasai Al Jazair antara 1830 M sampai 1962 M. Arkoun belajar bahasa Prancis sebagai bahasa kedua (Muhammad Arkoun, 1994)

Arkoun belajar sastra Arab di Universitas Al-Jir pada 1950, sambil mengajar bahasa Arab di salah satu sekolah menengah atas di pinggiran kota al Jazair. Kemudian ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa di Paris dengan jurusan dan minat yang sama yaitu sastra Arab serta pemikiran Islam di waktu perang pembebasan al-Jazair dari Prancis tepatnya antara 1954-1962 M.

Kemudian pada 1969 M, ia diangkat menjadi dosen Universitas Sorbonne di Paris, dan memperoleh gelar doktor sastra dengan disertasi tentang Humanisme dalam Pemikiran Etis Miskawaih.

Sebagai seorang pemikir, Arkoun tentu saja tidak muncul secara tiba-tiba. Ia dipengaruhi oleh tokoh-tokoh sebelumnya, karena pemikiran adalah rentetan demi rentetan sejarah. Pemikiran tidak jatuh dari atas langit.

Di antara tokoh yang memengaruhi pemikirannya adalah Paul Ricoeur (penemu konsep mitos dalam al Kitab), Ferdinand de Saussure 1857-1913 M (pakar bahasa dari Swiss, dikenal sebagai bapak linguistik modern dan gerakan “strukturalis”), Michael Faucault (1926-1984 M), Jacques Lacan (ahli semiotika), dan Roland Barthes (antropolog Prancis).

Arkoun kebanyakan menerbitkan tulisannya dalam bahasa Prancis daripada bahasa Arab. Acuan apa pun pada epistemologis kritis, kritik wacana, atau sejarah dekonstruktif masih belum memungkinkan digunakannya bahasa-bahasa itu (Arab).

Arkoun telah mengarang buku cukup banyak. Di antara karyanya antara lain: Actualite d’une culture mediterraneene, Aspects de la pensee musulmane classique, Essais sur la pensee islamique, L’ethique musulmane d’apres Mawardi, L’humanisme arabe au IV/X siecle: Miskawayh philosphe ethistrien, LI slam, morale et politique, dan masih banyak lagi.

Muhammad Arkoun mengajak kita untuk menafsirkan kembali mengenai ajaran agama Islam dan maknanya. Tafsiran itu yang selama ini dianggap oleh Arkoun sebagai ajaran yang jumud dan membawa keterbelakangan untuk umat muslim. Bagi Arkoun, seharusnya sebagai umat muslim yang saleh bisa memaknai ajaran agama secara baik dan benar, bukan malah bersifat pasrah dan taklid terhadap ketetapan yang ada di dalam agama Islam.

Arkoun mengajak kita untuk menafsirkan kembali apa makna Alquran sebenarnya. Menurutnya, “quran” berasal dari lafadl qara’a, artinya membaca (to read). Di situ ada huruf q-r-‘. Itulah yang pertama diterima oleh Muhammad dalam pewahyuan.

Alquran juga memiliki kata lain seperti al-Kitab (the book), al-Furqan, dan al-Dzikr. Seperti yang diungkap oleh Robert D. Lee, Arkoun ingin merangkul Barat dan Timur. Tak ada dikotomi antara “akal Barat” dan “akal Islam”. Semua harus dilihat dalam aspek satu sejarah. Dalam sejarah, Arkoun berharap bahwa dunia ini tanpa sisi/margin (Muhammad Arkoun, 1994). Arkoun menekankan topiknya memakai pendekatan antropologi, semiotika, sosiologi, dan filsafat postmodern.

Menurut Arkoun, untuk melihat apa yang Nabi Muhammad inginkan, kita harus melihat dari kacamata antropologi. Hal itu tidak hanya kepada Muhammad saja, tetapi berlaku bagi nabi-nabi yang lain. Dengan demikian, pengetahuan kita akan bertambah tentang pengalaman ketuhanan manusia.

Di samping itu, hadis yang menjadi landasan hukum kedua dari Islam, menurut Arkoun, sulit diinterpretasi dengan baik. Karena yang terjadi adalah ortodoksi Islam dalam melakukan interpretasi terhadap Alquran. Ortodoksi adalah sebuah ideologi seperti ungkapan la hukma illa Allah (Muhammad Arkoun, 1994)

Mengenai wanita, Arkoun berpendapat bahwa wanita telah menjadi objek strategi dari laki-laki, yang memainkan kontrol dalam hubungan keluarga. Hal itu jika dipandang secara biologi. Namun kemudian kode moral tersebut bisa dikatakan secara etis dan religius. Ini jelas menjadi prematur untuk digabungkan dalam debat tentang ayat-ayat Alquran bahwa perkataan poligami dan berkuasanya laki- laki atas perempuan.

Semua ayat telah menjadi objek hukum yang dibawa oleh hakim dan ahli tafsir, yaitu pemegang sekolah tafsir yang disebut al-Aimmah Mujtahidun seperti Imam Syafi’i dan Ja’far Shadiq. Berapa banyak wanita yang telah menjadi master dalam segala bidang. Arkoun menyarankan agar ada emansipasi dalam perempuan agar tidak terjadi dominasi dari laki-laki.

Sedangkan masalah kesufian seperti yang dilakukan Hasan Basri, al-Junaidi, al-Bustami, dan Ibn ‘Arabi, menurut Arkoun, harus dilihat dari aspek psiko-fisiological yang dikatakan sebagai faith; kepercayaan. Tingkatan tertinggi tersebut bisa ditemukan dalam diri Nabi dan seniman-seniman besar.

Tampak pengaruh dari teori post-strukturalis Saussurian dalam tulisan Arkoun. Beliau menjelaskan bahwa firman Tuhan itu adalah Umm al-Kitab. Ia diwahyukan kepada Nabi dalam sejarah dunia.

Mengenai “Akal Islam”, Arkoun mengutip al- Ghazali, yaitu: jika seseorang itu menetapkan dengan taklid saja, maka ia termasuk orang yang bodoh. Dan orang yang merasa cukup dengan akalnya saja dari cahaya Alquran dan Sunah, maka ia tertipu.

Menurut Arkoun, bahwa dalam nama-nama Quran itu sudah terkandung secara hakikat di dalam zaman azali. Oleh karena itu, “Akal Islam” berputar-putar untuk mengetahui kandungan makna tersebut (Muhammad Arkoun, 1998:65).

Kemudian Arkoun membagi “Akal Islam” dalam tiga bagian. Akal Islam itu antara lain: Akal Islam Klasik (di sini meliputi: Risalah Syafi’i, bahasa, hakikat dan aturan/qanun, hakikat dan sejarah, dan teologi), Akal Islam Ortodoks dan Akal Islam Modern. Dengan adanya pembagian akal Islam ini, diharapkan umat muslim bisa mendayagunakan akalnya sesuai proporsinya masing-masing. Menghilangkan dikotomi mengenai ilmu pengetahuan yang berbau Timur  Islam maupun yang berbau Barat.

Dengan adanya penataan ulang kembali mengenai pemahaman umat Islam terhadap ajarannya, diharapkan umat Islam menemukan momentumnya untuk bangkit dari kegelapan yang selama ini menjadi bayang-bayang mereka. Tidak selamanya kita harus bersifat taqlid terhadap ajaran yang selama ini kita yakini. Kadang kita juga harus bersifat kritis atas apa yang kita pahami selama ini.

Raha Bistara