Dekonstruksi untuk Para Fobia

Dekonstruksi untuk Para Fobia

Dekonstruksi untuk Para Fobia

Prinsip pengakuan sesungguhnya merupakan landasan bagi setiap manusia mengalami keutuhan dalam menjalani hidup. Kalau kita menerima bahwa mengakui hak untuk berbeda dan menuntut kewajiban untuk berintegrasi merupakan prakondisi untuk pluralisme dan demokrasi, maka kita perlu mempertimbangkan pentingnya nilai toleransi.

Kita tidak bisa mengakui perbedaan dan menuntut integrasi dengan mengabaikan toleransi. Kita dapat mencari atau menemukan toleransi ketika kita sungguh menyadari perbedaan-perbedaan.

Pada tahun 1995, UNESCO mengeluarkan deklarasi prinsip-prinsip toleransi. Salah satunya berbunyi “toleransi adalah penghargaan, penerimaan dan penghormatan terhadap kepelbagian cara-cara kemanusiaan, bentuk-bentuk ekspresi dan kebudayaan”.

Pembatasan toleransi ini dikonstruksi dalam karangka pluralisme. Periode ini, pelbagai diskursus tentang toleransi muncul dalam domain etika dan politik, khususnya dalam hubungan dengan kesadaran tentang niat untuk hidup bersama di tengah perbedaan.

Tidak dapat disangkal bahwa perjalanan sejarah kebudayaan-kebudayaan, agama dan politik melewati konflik atau pertentangan. Warisan Yunani-Romawi, Yahudi-Kristen, Kristen-Islam, renaisans, reformasi, pencerahan, gerakan nasionalis dan sosialis, semuanya tidak luput dari konflik. Konflik itu bisa terjadi dalam tataran ide maupun dalam tatanan praksis.

Dalam perjalanan sejarah, ada satu hal yang tidak dapat ditenggang, intolerable. Hal itu adalah intoleransi. Walaupun situasi politik selalu belum stabil, agama-agama sering berbenturan yang satu dengan yang lain, etnis yang satu berperang melawan etnis yang lain, nilai-nilai seperti penghargaan, penerimaan, respek dan penghormatan atas perbedaan-perbedaan selalu lebih kuat dan intoleransi.

Ricoeur melihat intoleransi sebagai negativitas dari toleransi. Sebagai penyangkalan terhadap toleransi, intoleransi adalah intolerable. Entah itu bercorak religius ataupun politis, intoleransi tetap merupakan hal yang tidak dapat ditenggang.

Alasan utama terletak pada akibat yang ditimbulkan olehnya. Tindakan intoleransi, entah bermotif religius, kulutural dan politis, selalu destruktif, dan karena itu merugikan. Tindakan seperti ini tidak dapat ditenggang.

Baca juga:

Di tengan pluralisme, kita boleh saja menyetujui semua cara hidup yang berbeda-beda. Namun, persetujuan ini berlaku sejauh tidak merugikan pihak lain.

Kalau ada suatu cara hidup yang merugikan pihak atau kelompok lain, maka sesuai hukum positif, kekuasaan negara, puissance harus campur tangan, dan campur tangan itu tetap dalam batas-batas yang tolerable. Maksudnya, campur tangan negara untuk mengatasi segala tindakan intoleransi hanya berlaku dengan cara-cara yang fair, manusiawi, adil dan baik sesuai hukum.

Dalam diskursusnya tentang tolerance, intolerance, dan intolerable, Ricoeur berbicara tentang hubungan ketiga hal ini dalam lingkup institusional, negara dan agama, lingkup kebudayaan dan dalam aspek religius-teologis. Ricoeur melihat toleransi sebagai suatu bentuk asketisme, karena toleransi berhubungan dengan pengekangan diri.

Dalam domain institusional, negara tidak boleh mencampuri segala urusan agama. Begitu pula agama tidak boleh memaksakan segala doktrin komprehensifnya ke dalam situasi yang beragam. Masing-masing pihak diharapkan mengekang kekuasaannya serta menenggang segala ihwal yang perlu untuk kebaikan bersama.

Dalam lingkup kultural, toleransi dapat dipahami sebagai sikap saling mengerti dan menerima segala diversitas kultural dalam hubungan dengan yang lain. Dari aspek religius-teologis, toleransi dapat dimengerti sebagai refleksi dan penghayatan akan kebenaran dalam cahaya karitas. Menenggang segala perbedaan pandangan adalah bagian dari cinta kasih.

Dalam konteks sosial di mana kehidupan bersama, vivre-ensemble sebagai prinsip dasar komunitas, toleransi adalah bagian dari sikap mengekang kekuasaan diri, asketisme terhadap hal-hal yang intolerable. Pengekangan ini pertama-tama dapat ditunjukkan secara kolektif selain dalan usaha-usaha yang individual.

Dalam kehidupan bersama, beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan tentang pluralisme, demokrasi dan toleransi misalnya sikap menahan diri dalam hubungan dengan keinginan pribadi, kita sebaiknya berusaha untuk tidak melakukan pencegahan terhdap hal-hal tersebut.

Selain itu, kita bisa saja tidak menyetujui cara hidup orang atau pihak lain, namun kita tetap berusaha untuk memahami pelbagai perbedaan cara hidup. Kita bisa saja tidak menyukai cara pengungkapan diri yang lain, tetapi kita harus tetap menghormati kebebasannya untuk mengungkapkan diri. Kita sebaiknya mengakui hak orang lain untuk mengekspresikan dirinya di ruang publik.

Baca juga:

Kita bisa saja tidak menyetujui dan juga tidak mengingkari alasan-alasan itu, tersirat suatu kebaikan yang luput dari perhatian kita. Ini mungkin disebabkan karena kekurangan kita sebagai manusia untuk mengerti orang lain. Kita boleh saja menyetujui semua cara hidup, sejauh cara hidup itu tidak merugikan pihak lain. Kita memberi ruang untuk segala laga kehidupan karena semuanya adalah bagian dari kemejemukan dan keberagaman.

Semua pertimbangan ini dapat dilihat sebagai suatu bentuk tenggang rasa dan pengakuan terhadap yang lain di ruang publik. Prinsip tidak merugikan yang lain dan tuntutan pengakuan akan kesepadanan adalah prasyarat bagi pluralisme, demokrasi dan toleransi.

Mario G. Afeanpah
Latest posts by Mario G. Afeanpah (see all)