Demi Uang, Sini Pantatmu Biar Kucium Sekali Lagi

Demi Uang, Sini Pantatmu Biar Kucium Sekali Lagi
┬ęTirto

Suatu saat engkau akan tahu apa itu miskin. Kenapa nyaris semua orang menolak kemiskinan? Pertanyaan-pertanyaan itu sejak abad ke-19 sudah menjadi bumerang bagi sebagian orang.

Akibat gejolak sosial dari zaman batu hingga saat ini menjadi penanda bagi sosok perintis teologi pembebasan Amerika Latin, saat mampu memberikan suatu pameo yang lekat dengan realitas. Baginya, memberi makan pada orang miskin akan terlihat mulia, tetapi bertanya kenapa ada orang miskin adalah pertanyaan yang berontak dan ditolak mayoritas.

Hal itu dengan jelas dikatakan Dom Helder Camara, mengingat dirinya dicap mulia hanya karena berbagi pada yang membutuhkan. Namun saat dia bertanya kenapa banyak orang kekurangan, di situlah ia dicap komunis.

Tak lebih dari sampah, kita yang miskin ini tak lebih baik dari seekor anjing peliharaan yang diadu semaunya, dibunuh sesukanya. Kita miskin, kita bukan apa-apa. Sesekali bahkan lebih rendah dari debu, lebih hina dari comberan, bahkan lebih kotor dari limbah pabrik.

Aku bahkan selalu bertanya-tanya pada diri sendiri, pada semesta, pada malam, dan pada apa pun yang aku temui. Tentang hidup dan iring-iringannya yang juga masih penuh tanda tanya. Aku bertanya, kenapa hidup harus diukur dari materi? Kenapa sebagian besar manusia menghamba pada uang?

Awalnya aku bingung menemukan maknanya. Sampai suatu ketika aku melihat betapa bejat kehidupan memperlakukan mereka yang tak memiliki materi. Diatur, dimainkan, diperbudak. Jiwa dan raga mereka direnggut dijadikan mainan.

Di situlah aku menyadari, kenapa sebagian besar orang bertaruh hidup demi uang. Bahkan aku menemukan makna baru, bahwa slogan uang bukan segalanya ternyata lahir dari mereka yang bisa bermandikan uang.

Slogan itu seolah diciptakan oleh si kaya demi menyihir orang miskin agar tetap pasrah dan menerima hidupnya untuk terus diperbudak sepanjang masa dengan alasan takdir. Bagi mereka yang punya segalanya menganggap hidup benar-benar seperti komedi, sebagaimana dikatakan Sholom Aleichem.

Baca juga:

Mempermainkan moral dan martabat orang miskin. Orang kaya terus memperlakukan si miskin layaknya kambing atau sekadar domba peliharaan, disembelih bila sudah membosankan. Dan mereka tak pernah berpikir bagaimana
perasaan si miskin.

Aku menyaksikan kehidupan begitu timpang. Melihat orang-orang kaya hidup seenaknya dengan bingkisan ego seolah menjadi simbol kehormatan manusia, meludahi dan melecehkan moral orang miskin tanpa pernah merasa bersalah sedikit pun.

Andai bisa, aku akan menenggelamkan seluruh semesta. Aku muak melihat kehidupan terus memberi peluang bagi kesombongan berkembang biak. Aku iri pada mereka yang bahkan sangat kejam namun tetap masih dianggap mulia, aku ingin seperti mereka. Walau congkak tetapi dianggap ramah dan bisa dapat banyak apresiasi.

Tetapi aku miskin. Aku hanya bisa melihat dan merasakan hidup dengan kemiskinan adalah kehinaan sepanjang hayat, di mata orang-orang kaya yang telah lama bersekutu dengan iblis.

Pernah aku begitu antusias memperjuangkan hidup untuk kaya. Tetapi menyadari, hari-hariku sebatas sekret dan cafe, semua obsesi itu perlahan jadi hilang.

Assu sekali hidup ini. Kemiskinan selalu menyiksa memang. Tak peduli secerdas apa engkau, atau setinggi apa pun kehormatan yang dimiliki, saat miskin, kita tak lebih dari sampah belaka.

Baca juga:
Burhan SJ