Demokrasi dan Tanggung Jawab Berpikir

Orang sering berkata; “berpikirlah sebelum bertindak,” artinya berpikirlah dengan membangun dialog dengan akal budi, suara hati dan perasaan yang baik agar pikiran itu membimbing setiap tindakan praktis seseorang di ruang publik. Manusia adalah makhluk hidup yang mempunyai otak untuk berpikir sehingga setiap tindakan harus dipertimbangkan dengan nalar yang benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tanggung jawab berpikir dalam konteks demokrasi menjadi penuntun dalam etika politik dan diskursus berdemokrasi. Rasionalitas berpikir harus bergerak dari sekadar yang bersifat instrumental menuju ke tingkatan berpikir yang lebih diskursif-komunikatif. Kita berpikir dengan tanggung jawab yang baik agar kita sanggup menemukan justifikasi keadilan bagi praksis untuk kebaikan hidup bersama.

Blaise Pascal, filosof abad pertengahan mengafirmasi tentang tanggung jawab berpikir dalam diri setiap manusia. Manusia menjadi manusia karena pikiran dan kesadaran refleksinya. Tindakan yang baik yang mengarah pada kebaikan hidup bersama diperoleh melalui akal budi dan hati nurani.

Akal budi dan hati nurani bukanlah dua hal yang sangat bertentangan. Keduanya saling melengkapi agar manusia tidak ceroboh dalam tindakannya. Kemandirian dan kematangan dalam berpikir menjadi hal penting sebagai penuntun bagi setiap tindakan yang bijak dan rasional.

Seorang pemimpin dikatakan bijak dan rasional apabila ia mampu berpikir kritis dan pikirannya tidak mudah dimanipulasi oleh pikiran “akal-akalan” orang lain. Tanggung jawab berpikir bagi seorang pemimpin menjadi kewajiban mutlak untuk menjustifikasi keadilan dan demi kebaikan hidup bersama di tengah masyarakat.

Militansi dan keberpihakan seorang pemimpin pada rakyat kebanyakan merupakan ciri seorang pemimpin yang bertanggung jawab dalam berpikir. Pikiran akal sehat menjadi kunci berjalannya demokrasi, bukan pikiran akal sesat. Oleh karena itu, seluruh tanggung jawab seorang pemimpin ada di dalam pikirannya, bukan ada pada pikiran kru-krunya.

Baca juga:
Egi Rentong
Latest posts by Egi Rentong (see all)