Demokrasi Sebatas Spanduk

Demokrasi Sebatas Spanduk
©The Jakarta Post

Demokrasi Sebatas Spanduk

Dua hari melakukan perjalanan di Medan, Tebing Tinggi, Kota Lima Puluh, Simalungun, dan Pematang Siantar. Di sepanjang jalan, terpampang banyak atribut kampanye.

Proporsi atribut pasangan capres tampak sangat jomplang. Wajah pasangan 02 ada di mana-mana, sampai ke pelosok desa. Di pinggir jalan tak berumah pun ada gambar pasangan itu. Bahkan di jalan yang membelah kebun sawit dan karet pun ada mereka.

Secara kasar, perbandingan atribut pasangan capres adalah 80 persen 02, sisanya terbagi untuk 01 dan 03.

Di wilayah lain tidak jauh berbeda. Di sekitar Jabodetabek, pertarungan spanduk dan baliho capres terlihat hanya terjadi di perkotaan atau jalan-jalan besar. Tapi di perkampungan, nyaris hanya 02 yang eksis.

Bentuknya pun macam-macam. Saya, misalnya, menemukan banner hanya selebar telapak tangan bertuliskan hanya satu kata: “Prabowo”. Super mini banner itu dikaitkan ke tiang listrik kurus di kelokan jalan kampung di Ranca Bungur, Bogor.

Saya ingin mengatakan bahwa jangan-jangan penjelasan utama dari kecenderungan suara sekarang adalah soal spanduk. Ini tentang banyak-banyakan atribut sosialisasi. Calon yang memasang paling banyak atribut dan tersebar luas sampai ke pelosok memiliki kemungkinan dilirik pemilih lebih besar.

Itu memang penting, namun terlebih dahulu orang harus tahu Anda serius maju atau tidak. Spanduk, baliho, billboard, banner, stiker, poster, dan kalender, walaupun merusak pemandangan, itu adalah penanda paling telanjang dari keseriusan calon. Memang begitu keadaannya, mau gimana lagi?

Baca juga:

Dan ini tidak hanya berlaku untuk calon presiden. Hal ini juga terjadi pada partai politik. Partai atau caleg yang wajahnya paling banyak terlihat di pinggir-pinggir jalan adalah partai dan calon dengan tingkat elektabilitas yang paling kompetitif. Partai yang menguasai pinggir jalan itu adalah Gerindra, PDI Perjuangan, dan Golkar.

Kalau ini benar, artinya spanduk memegang peranan penting dalam demokrasi. Demokrasi kita masih sebatas demokrasi spanduk. Apa boleh buat.

Saidiman Ahmad
Latest posts by Saidiman Ahmad (see all)