Dengarkan Jeritan Bumi! Refleksi Teologis atas Keadilan Ekologis

Keadilan Sosial: teologi tanah mengingatkan kita bahwa tanah itu suatu tempat bagi mereka yang rentan dalam masyarakat, seperti para janda, yatim-piatu, dan pendatang yang harus dilindungi. Sistem politik dan ekonomi yang memberikan hak-hak istimewa segelintir orang untuk mengontrol sebagian besar tanah atau bagian utama ekonomi, harus ditentang. Alkitab mencakup banyak prinsip-prinsip yang mendukung keadilan sosial ekonomi.

Rekonsiliasi: karunia tanah dilihat dalam Alkitab sebagai langkah menuju pemulihan taman eden (surga). Sebuah tempat dimana umat manusia menjalankan misi wakil kerajaan Tuhan mereka demi kebaikan ciptaan. Suatu tanah ideal mengikuti pola taman eden, adalah suatu tempat dimana ketertiban menguasai. Hal ini berarti bahwa kita harus berupaya keras menjadikan tanah ini suatu tempat damai, persahabatan, dan rekonsiliasi.

Menjaga Ciptaan: teologi tanah menyadari kebaikan ciptaan Tuhan. Teologi tanah menyadari bahwa kita sebagai manusia telah diberi kepercayaan dengan bumi ini dan kita harus melakukan segalanya yang terbaik untuk menggunakan sumber-sumber dayanya dengan cara bertanggung jawab.

Kenyataan tentang tanah sebagai sebuah karunia Tuhan yang mesti dilindungi, dijaga, serta dilestarikan berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di atas, ternyata terpatri dalam pemahaman penduduk di Afrika Selatan.

Refleksi teologis tentang tanah di Afrika Selatan berangkat dari pengertian bahwa mereka memahami tanah sebagai sumber kehidupan yang dikaruniakan Tuhan, tidak sekadar sumber atau alat bagi kehidupan saja, tetapi benar-benar bagian dari hakikat dari kehidupan itu sendiri. Bangsa Afrika Selatan percaya bahwa tanah punya arti moral dan spiritual, pusat pandangan hidup mereka berupa nilai-nilai keutuhan dan keselaraan ciptaan.

Selain itu, dalam buku ini juga dijelaskan bagimana perjuangan dalam mewujudkan keadilan ekologis harus terus dilakukan. Sebagaimana yang dilakukan oleh La Via Campesina, yang merupakan gerakan internasional dalam menyatukan jutaan petani, petani kecil dan menengah, mereka yang tak bertanah, perempuan, dan masyarakat adat di seluruh dunia.

Gerakan ini membela pertanian lestari berskala kecil sebagai jalan untuk memajukan keadilan sosial dan martabat. Dengan gencar mereka menentang pertanian berbasis perusahan transnasional yang menghancurkan manusia dan alam.

Pendekatan La via Campesina dalam mewujudkan keadilan ekologis tercermin dalam deklarasi konferensi tahun 2011 yang menyatakan, “hentikan perampasan tanah sekarang juga”. Mereka mengulang “komitmen untuk melawan perampasan tanah dengan segala cara yang mungkin, mendukung semua pihak yang ikut menentangnya, dan melakukan penekanan terhadap pemerintah-pemerintah nasional dan institusi internasional untuk memenuhi kewajiban mereka guna menjamin dan menunjung tinggi hak-hak rakyat”.

Baca juga:

Meski buku ini berangkat dari keyakinan salah satu agama, tetapi nilai-nilai yang dikembangkan dalam buku ini mencakup masalah universal yang juga terdapat di setiap agama. Bahwa menjaga sumber daya alam merupakan nikmat Allah Swt adalah kewajiban setiap manusia. Maka yang hendak mensyukuri nikmat itu, ia harus menjaganya dari kerusakan dan kehancuran. Sebagaimana firman Allah Swt, “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan” (Qs. al-A’raf:74).

Dengan hadirnya buku ini, setidaknya kita dapat sedikit memahami tentang tugas kita sebagai manusia yang harus peduli terhadap keadilan ekologis di bumi pertiwi. Serta dapat menjadi bahan diskusi dari berbagai komunitas lintas iman. Di tengah-tengah konflik berbasis sumber daya alam yang kian lama kian mengerikan.

Daftar Referensi

Herman. (2022, Januari 6). KPA Catat 207 Konflik Agraria Sepanjang 2021. Retrieved from BeritaSatu.com.

  • Judul: Dengarkan Jeritan Bumi (Respon Kristiani atas Krisis Keadilan Ekologis)
  • Penulis: Oikotree
  • Penerbit: Ultimus
  • Cetakan: 1, November 2017
  • ISBN: 978-602-8331-24-1
Dimas Sigit Cahyokusumo