Denny JA: Takhta Sastra Itu Dimiliki Setiap Penulis

Denny JA: Takhta Sastra Itu Dimiliki Setiap Penulis
©AKURAT News

Nalar Politik – Denny Januar Ali atau yang akrab disapa Denny JA menyebut setiap penulis memiliki takhta sastra masing-masing. Karena itu, tidak sepatutnya ada penulis yang merasa terganggu ketika melihat penulis lainnya mendapat atau sekadar punya peluang meraih takhta sastra seperti nobel sastra.

“Takhta sastra itu dimiliki oleh setiap penulis. Mengapa satu penulis terganggu dengan penulis lain yang dicalonkan nobel sastra?” kata Denny JA, Rabu (12/1).

Ungkapan Denny JA tersebut menyusul esai Marwanto di Kedaulatan Rakyat bertajuk “Takhta di Dunia Sastra”. Ia mengunggahnya di laman media sosial dengan caption berjudul “Pikiran Terbuka vs Polisi Sastra soal Nobel” yang sekaligus menjadi respons atas polemik yang mengitarinya.

“Seorang teman mengirim esai Marwanto yang dimuat di koran lokal. Terasa ini esai yang ditulis dengan pikiran terbuka.”

Ia menilai pandangan Ketua Forum Sastra dan Teater Kabupaten Kulonprogo itu sungguh berbeda dengan sebagian penulis lain yang merasa menjadi “polisi sastra”. Mereka, bagi Denny JA, seolah mendapat wahyu tuhan untuk menentukan mana sastrawan palsu dan mana yang asli.

“Dari isi kepalanya yang sempit itu, sang ‘polisi sastra’ ini lalu merasa berhak mengganyang dan mengenyahkan mereka yang tak sejalan.”

Jika dalam agama, jelasnya lebih lanjut, mereka yang berperilaku demikian akan menjadi kaum fanatik yang bisa membakar rumah ibadah orang yang memiliki keyakinan berbeda.

“Sumber cara berpikirnya sama: sama-sama merasa paling berhak atas kebenaran.”

Baca juga:

Meski mengaku tidak mengenal Marwanto secara pribadi, Denny JA merasa pikiran penulis esai itu terbuka.

“Asyik dan pas di zaman yang serba beragam.”

Polemik Denny JA

Dalam esai Marwanto di Kedaulatan Rakyat, sang penulis memang menyinggung polemik di dunia sastra Indonesia yang melibatkan nama Denny JA sebagai calon peraih nobel sastra 2022.

Meski publik Indonesia lebih mengenal Denny JA sebagai konsultan politik dan tokoh media sosial daripada sastrawan, hal itu, bagi Marwanto, tidak menganulir yang bersangkutan bisa meraih nobel sastra.

“Nobel sastra tidak mesti diraih seorang sastrawan. Bob Dylan, musisi Amerika, pernah meraih nobel sastra tahun 2016,” tulis Marwanto.

Namun polemik Denny JA tetap saja merebak. Banyak sastrawan dan pegiat literasi menilai nominasi tersebut sebagai lelucon lantaran masih banyak sastrawan yang lebih layak, misalnya Ahmad Thohari atau Seno Gumira Ajidarma, tetapi tidak sedikit pula yang mendukung.

“Lepas dari kualitas puisi esai yang menjadi ikon Denny JA, mereka (para pendukung) memandang masuknya Denny JA akan mengangkat nama Indonesia di kancah sastra internasional.”

Marwanto kemudian menyoal perkara penghargaan di dunia sastra yang sering orang identikkan dengan kursi kepenulisan seorang sastrawan.

Halaman selanjutnya >>>