Denyut Terakhir

Denyut Terakhir
©Tabitha

Malam ini aku dihujani
jarum-jarum waktu
tiap detiknya berjalan
nyeri di jiwa makin menekan

Berhari-hari aku hidup
tanpa satu cahaya pun
yang bisa aku genggam
sebelum akhirnya redup

Udara beku mencekik leherku
dan satu detak jantung terakhir
berdunyut saat aku melihat
dewi kematian berparas lembut
mencabut nyawa dan deritaku

Matanya sehijau pegunungan
bibirnya seranum apel merah
rambutnya seperak rembulan
dan sayapnya memendarkan sinar
yang benar membuatku gembira

Jombang, 21 Januari 2019

Lepas dari Sangkar

Di malam tahun baru
kekasihku mengepakkan sayap
pergi dari sangkar hati untuk
menghampiri langit bebas

Di dalam dadaku kini
cuma ada angin malam
dinginnya menyelubungi
jiwa kesunyianku

Kegelapan coba aku bakar
agar arahku mendatang
tidak memijak lubang
kenestapaan yang dalam

Jombang, 31 Agustus 2019

Sungai Panjang

Hujan di bulan ini tidak terlalu
membilas bersih noda kesedihan
yang telah lama berkerak
di dalam diriku

Debu hitam terus menempel
tanpa pernah dibasuh
yang pada akhirnya
menyelebungi sinar jiwa

Mataku tak lagi nampak cerah
mendung saja berkilat-kilat
menarik gerimis mengalir
pada sungai panjang di pipi

Jombang, 26 Januari 2019

Mendung

Kala kesedihan mengkristal
tak tarkendalilah pikiran
layaknya kuda liar
menginjak sisa-sisa kewarasan
dengan hentak kaki mantab
berserta kuku-kuku tajam
sampai kesadaranku memburam

Trauma masa silam
menyulam benang-benang api
untuk dijahitkan di hati
sampai terbakar dan matang

Di atas kasur aku tersungkur
lengan meraih tasbih
dan aku rapalkan doa-doa agar
segala negatifitas jauh mengembara

Pergi

Jombang, 19 Januari 2019

Hujan Keajaiban

Sungai waktu mengalir
menghanyutkanku
kepada penderitaan
terakhir

Maka reranting kebahagiaan
menumbuhkan daun harapan
dan waktu selalu mematangkan
buah ranum kedamaian untuk dipetik
di saat musim hujan meneteskan
keajaiban

Jombang, 19 Januari 2019

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)