Deradikalisasi, Mungkinkah Terjadi?

Deradikalisasi, Mungkinkah Terjadi?
©Anne-Gaelle Amiot

Nalar Warga – Kasus pembunuhan terhadap 2 orang pegawai program deradikalisasi oleh seorang peserta di London baru-baru ini menimbulkan pertanyaan penting. Mungkinkah deradikalisasi berhasil dilakukan terhadap orang yang terpapar ideologi, dalam hal ini khususnya Islam, yang telah sedemikian kuat menancap dalam batinnya?

Di Indonesia, kasus yang menimpa Gus Muwafiq sekarang ini juga penting disimak. Bisakah kelompok yang sebetulnya telah dibukakan pintu oleh sejumlah kiai NU untuk rekonsiliasi itu mengubah caranya berdakwah menjadi lebih ramah bukan marah?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat sulit dijawab, apalagi kalau didekati dengan bahasa-bahasa sekuler. Itulah yang saya sampaikan di sebuah diskusi di Monash University, Clayton, tempo hari. Saya katakan bahwa radikalisme Islam hanya bisa diatasi—artinya, diajak dialog—oleh bahasa-bahasa keagamaan. Dalil Alquran tidak bisa secara langsung dibantah oleh Pancasila, tetapi oleh dalil Alquran lagi.

Meski demikian, perkaranya bukan sekadar dalil, tetapi suatu konteks sosial historis yang panjang. Mereka yang berisiko tinggi biasanya berasal dari golongan sosial ekonomi dan kultural tertentu. Oleh karena itu, dalil deradikalisasi yang digunakan juga harus mengikutsertakan pemahaman terhadap konteks sosial historis dari mana golongan tersebut berasal.

Akan tetapi, karena itu pula, sejak awal perlu dicatat bahwa deradikalisasi pasti tidak akan berhasil penuh. Mereka yang mau keluar dari radikalisme Islam biasanya adalah orang-orang yang berbekal pengetahuan keagamaan cukup untuk meragukan apa yang diyakininya. Lagi-lagi, hal ini pun akan sangat ditunjang oleh penerimaan dari komunitas dari mana mereka awalnya berasal.

Berdasarkan penjelasan itulah saya berpendapat bahwa penting kiranya deradikalisasi mengacu pada suatu argumen etis tertentu, bukan sekadar pada wawasan moral rasional yang abstrak seperti kasih sayang atau welas asih kemanusiaan.

Pelaku radikalisme keagamaan tidak akan tersentuh oleh dongeng humanisme universal sebagaimana dipercaya oleh kaum sekuler modern. Mereka akan tunduk pada cahaya hidayah yang terpancar dari lisan para ulama yang telah terbebas dari penyakit cinta dunia.

Baca juga:

Apa yang saya usulkan bukan berarti menolak sekularisme, tetapi justru mau membuat argumen sekuler bermakna di kalangan penganut agama, khususnya para pelaku radikalisme Islam. Dengan cara ini juga demokrasi tidak menjadi sekadar basa-basi, tetapi terikat pada cara hidup masyarakat setempat.

Terakhir, dan ini paling penting, semua itu hanya akan berhasil jika deradikalisasi dijalankan oleh orang-orang yang berniat baik, bukan sekadar mencari ketenaran dan, apalagi, uang.

*Amin Mudzakkir

Warganet
Latest posts by Warganet (see all)