Desakralisasi Pernikahan

Desakralisasi Pernikahan
©Sayyesido

Desakralisasi Pernikahan

Dalam agama Islam, khususnya dijelaskan bahwasanya manusia itu diciptakan berbeda-beda dan bersuku-suku. Sebagaimana dalam Surat Al-Huurat ayat 13: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.

Tujuan dari ayat itu sangat jelas, yakni saling tolong-menolong, berkomunikasi, berteman, dan bersilahturahmi satu sama lain apa pun latar belakang seseorang. Bahkan saling cinta mencintai dan saling berkasih sayang. Sehingga timbul yang namanya pernikahan.

Sebagaimana dalam Surat An-Nisa ayat 1: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isteri, dan dari keduannya Allah memperkembangbiakan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, hubungan silahturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Ayat di atas tujuannya sangat jelas bahwa pernikahan adalah perintah agama. Perintah agama merupakan perintah yang sudah pasti suci dan bernilai ibadah.

Menurut Agus Salim kepala KUA Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, ada banyak hikmah dan makna pernikahan. Di antaranya sebagai cara halal dan suci untuk menyalurkan syahwat, untuk memperoleh ketenangan hidup, kasih sayang, cinta, dan ketenteraman, serta memelihara kesucian diri (kemenag, 2015).

Namun, meski banyak nilai kesucian dan ibadah, di era sekarang seakan-akan menikah sudah dianggap sesuatu yang dianggap bisa dipermainkan dengan mudah. Bahkan sudah dianggap tidak memiliki nilai kesucian atau kesakralan. Hal itu terbukti dari beberapa fenomena yang terjadi seperti satu rumah namun tidak memiliki status, maraknya perceraian, takut terhadap biaya yang mahal.

Berdasarkan laporan statistik Indonesia tahun 2023, kasus perceraian di Indonesia mencapai 516.334 kasus pada tahun 2022. Angka ini meningkat 15% dibandingkan 2021 yang mencapai 447.743 kasus (Hidayah, 2023).

Baca juga:

Angka kasus perceraian di atas berdasarkan penyebabnya adalah pertengkaran dan perselisihan. Jelas jika mengacu pada ayat di atas kenyataan ini sangat bertentangan dengan tujuan pernikahan yakni untuk “saling meminta satu sama lain (saling mengasihi) dan menjalanin hubungan silahturahmi”.

Seharusnya sebagai dua orang insan yang saling cinta dan sayang, adanya pertengkaran dan perselisihan bisa diselesaikan dengan baik. Sebab membangun komitmen untuk menikah adalah sesuatu yang sakral dan suci.

Kasus perceraian di atas adalah satu hal lain yang terkesan meremehkan makna dari pernikahan yang sakral. Sejatinya ada yang lebih konyol dari itu, yakni ragu akan menjalin komitmen untuk menikah sebagaimana yang terjadi saat ini.

Jika dirinci berdasarkan data BPS, angka pernikahan pada 2021 sebesar 1.742.049, kemudian pada tahun 2022 turun menjadi 1.705.348, dan pada tahun 2023 kembali turun 1.577.255 (Zaini, 2024). Turunnya angka pernikahan ini disebabkan oleh banyak faktor, tetapi yang lebih besar dikarenakan alasan ekonomi, di mana jika punya keluarga dan anak akan menambah beban perekonomian.

Kenyataan ini belum lagi ditambah hal konyol seperti pengalaman pribadi saya sendiri, dimana sudah berkomitmen untuk melangsungkan pernikahan, namun dua bulan sebelumnya dibatalkan sepihak oleh sang perempuan.

Saya sepakat bahwa hidup itu harus realitis, bicara pernikahan memang membutuhkan biaya yang sangat banyak, termasuk mengelola keuangan setelah menikah. Akan tetapi semua itu sudah benar-benar dijamin oleh Allah Swt, sebagaimana dalam Surat An-Nur ayat 32:

Dan kawinlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah maha luas (pemberian-Nya) lagi maha mengetahui.

Ayat di atas sudah sangat jelas bahkan memakai kata “miskin”. Bicara kemiskinan dalam konteks ini adalah ekonomi. Namun, dari ayat tersebut dengan karunia Allah seseorang yang memiliki niat baik untuk melangsungkan ibadah nikah yang sakral sudah dijamin rezekinya. Jadi sangat konyol dan terkesan meremehkan jika kita memiliki ketakutan atau overthinking terhadap sesuatu yang sejatinya sudah dijamin, baik rezeki maupun jodoh.

Baca juga:

Padahal pernikahan bukan hanya bicara soal materi, namun bicara konteks dan kenyataan yang lebih luas. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof Dr. Sayyid Muhammad Al-Maliki dalam salah satu kitabnya yang berjudul “Adab Al Islam Fii Nidham Al Usrah”, yang berbunyi:

Wahai tuan-tuan yang mulia, sesungguhnya pernikahan adalah dasar terciptanya keluarga, kunci semarak ramainya suatu tempat, penyebab tumbuhnya umat, sarana bagi kehidupan yang nyaman dan ketentraman masyarakat.

Pernikahan adalah pembunuh kuman-kuman perusak akhlak, alat untuk menjaga kemuliaan dan harga diri, serta pembuka bagi pintu kasih sayang antar manusia. Berkat pernikahan orang yang sendirian bisa tertolong harga dirinya berkuat keluarga yang baik, berkat pernikahan orang yang tidak punya harapan menjadi kokoh hidupnya.

Orang yang menikah bisa tertata perekonomiannya. Ia bisa melihat rumahnya ramai ceria oleh anak-anak disamping bisa menyaksikan nikmat Allah yang menggembirakan hatinya serta memenuhinya dengan kebahagiaan dan suka cita.

Jiwa manusia yang normal akan memenuhi panggilan hikmah Tuhan yang hatinya condong kepada pernikahan serta percaya terhadap rahasia-rahasia di dalamnya. Sedangkan orang yang jiwanya buta akan hikmah maka hatinya akan menjauh dari pernikahan dan tidak memahami hikmah dibaliknya” (Hidcom, 2022).

Ungkapan Sayyid Muhammad Al-Maliki ini sangat jelas bahwa pernikahan adalah sesuatu yang penuh dengan hikmah dan kesucian yang begitu mulia dan agung serta salah satu jalan dalam mensyukuri nikmat dan anugerah Allah Swt.

Daftar Referensi
  • Hidayah, F. N. (2023, Mei 22). 5 Faktor Tertinggi Penyebab Perceraian di Indonesia. Retrieved from GoodStats.
  • Hidcom. (2022, Juni 14). Desakralisasi Pernikahan dan Konsekuensinya Bagi Kemanusiaan. Retrieved from Hidayatulah.com.
  • kemenag. (2015, November 18). Dalam Pernikahan Terdapat Banyak Nilai Ibadah. Retrieved from Kanwil Kemenag Kalteng.
  • Zaini, A. (2024, Maret 8). Angka Pernikahan di Indonesia Juga Turun, Begini Penjelasannya. Retrieved from Radio Republik Indonesia.
Dimas Sigit Cahyokusumo