Dewa Tuak

Dewa Tuak
©Kompas

Julukan ‘Dewa Tuak’ memang tak salah.

Hari-hariku datang dan pergi tanpa meninggalkan secuil pun kebahagiaan. Tak pernah ada senyum yang singgah bahkan sejenak di wajahku. Kebahagiaan itu menjadi barang mewah yang sangat sulit untuk dibeli.

Yang kukecap tiap hari hanyalah sederet derita entah kapan harus berakhir. Lantas aku tumbuh menjadi seorang anak yang pemurung. Tak punya rasa percaya diri.

Kadang timbul rasa iri atas kebahagiaan yang dikecap oleh teman-teman sebaya sebab mereka memiliki ayah yang begitu akrab. Mereka selalu meneguk kegembiraan di meja makan dengan balutan cerita-cerita hangat. “Kenapa aku tidak?” kataku membatin.

Rumah yang kudiami bak neraka yang penuh dengan perseteruan dengan aktor utamanya adalah sang ayah. Di rumah ini tak ada makan bersama yang penuh kehangatan. Tak ada cerita tentang hari yang telah dilewati. Yang ada hanyalah isak tangis sang ibu sehabis digebuk ayah.

Maklumlah, ayah adalah sosok pendekar yang ringan tangan dan juga kaki. Salah sedikit saja tangannya akan mendarat di pipi. Jika belum puas dengan tangan, maka kakinya akan segera menendang.

Apalagi jika ia sudah kebanyakan menenggak tuak. Jika sudah demikian, maka ia akan bercerama sepanjang malam. Isinya bisa beragam. Mulai dari persoalan ekonomi, pendidikan, bahkan politik sekalipun walaupun ia hanya jebolan drop out.

Kadang aku menggerutu kepada Tuhan, “Kenapa Ia memberikan aku ayah pemabuk? Kenapa Ia tidak memberikanku ayah yang mencintai anak-anaknya?” Hampir tidak pernah ada sebuah kebanggaan yang melekat pada dirinya.

Hal itu menimbulkan rasa sesal yang menggerogoti dada. Ingin kuungkapkan kesesakan itu tepat di depan ayah, tetapi aku takut dicap anak durhaka yang lancang. Dan bahwa jikapun hal itu diungkapkan, maka aku akan mendapat imbalan berupa tamparan. Imbalan yang membuat aku terpaksa menelan niat itu bersama ludah.

Baca juga:

Aku lebih memilih untuk memendamnya dalam hati. Menerima kenyataan pahit itu entah sampai kapan. Mungkin sampai kepahitan itu bosan berlabuh pada diriku.

Kebiasaan sang ayah menjadi peminum boleh dibilang sudah berada di stadium empat. Dari sepotong cerita yang dikisahkan nenek, ayah sudah mulai menenggak tuak sudah sejak dirinya drop out dari sekolah rakyat.

Kesulitan ekonomi yang mencekik leher nenek membuat semua anaknya harus berhenti bersekolah. Apalagi nenek harus memainkan peran ganda, selepas kakek meninggal karena sakit yang tak jelas ujung pangkalnya.

Menurut kabar burung, kakek meninggal karena ilmu hitam yang lagi santer dibicarakan di desa. Dua anaknya termasuk ayahku memilih menjadi buruh tani dengan warisan sebidang tanah yang ditinggalkan kakek. Sementara Si Bungsu memilih untuk merantau ke Malaysia bersama dengan teman-temannya. Sebuah pilihan yang banyak digandrungi pemuda desa.

Saking akutnya menjadi peminum, saat menikahi ibu, latar belakang panggung pengantin digambarkan nawing yang menjadi tempat mengisi tuak yang baru disadap. Di samping itu terpajang tulisan ‘Dewa Tuak’, sebuah julukan yang disematkan kepadanya.

Tak ada pernak pernik lain selain simbol yang bersahabat karib dengan tuak. Yang mendesainnya itu justru teman-teman senasib dan seperjuangan para penikmat tuak yang akut. Entahlah rancangan itu merupakan bentuk keisengan teman-temanya, aku tak pernah mencoba untuk menggali jawabannya.

Julukan ‘Dewa Tuak’ memang tak salah. Seturut pengamatanku, ayah tak pernah luput dari minuman yang berwarna seperti susu putih itu. Minuman itu sudah mendarah daging sehingga memisahkan ayah darinya sama seperti menjerumuskan ia ke dalam liang kubur. Begitu kira-kira alibi yang diungkapkan ketika mendapatkan larangan dari anak-anak yang kian beranjak dewasa.

“Apakah kamu ingin saya mati,” kata ayah membela diri.

Halaman selanjutnya >>>
    Jetho Lawet
    Latest posts by Jetho Lawet (see all)