Di Batas Kota Ini, Aku Merindumu

Di Batas Kota Ini, Aku Merindumu
©NN

Bolehlah aku merindumu
Menahan rasa karena ingin bertemu
Bolehkah aku merindumu
Memilih diam hanya untuk sebuah kenyamanan

Ya, itu adalah kenyamananmu
Bukan keinginanku apalagi kenyamananku
Karena aku hanya seorang perindu
Kuingin menangis
Kuingin berontak kuingin teriak bahkan ingin kuberanjak pergi dari kota ini

Namun semua itu hanya ingin
Air mataku telah telah habis untukku menangis
Tenaga telah habis untukku berontak
Dan rindu ini terus menahanku untuk beranjak pergi dari kota ini

Aku Bukanlah si Dia

Aku bukan si dia
Yang mampu membuatmu menunggu
Meski sudah pergi sangat jauh

Aku bukan si dia
Yang setiap kesedihanmu adalah sabda
Untuk segera dihapus

Aku bukan si dia
Yang tetesan air mata
Tak pernah kau perbolehkan untuk jatuh

Aku bukan si dia
Yang sanggup menaklukkan kepercayaan
Meski tak menatap bukti

Aku bukan si dia
Yang tanpa bentuk kehadiran
Tetap saja ada dalam hati bahkan mimpimu

Aku hanyalah aku
Warna samar dalam sekejap pandang
Lalu menghilang bersama detik
Namun setidaknya aku pernaj melukis tawa untukmu

Menebar udara sejuk di sekitarmu
Meniupkan angin rindu bagi jiwamu
Mencipta bahagia pada harimu meski sebentar
Layaknya umur pelangi dilangit biru

Imajinasi Tentangmu

Tahun demi tahun berlalu dengan beragam kebahagian orang lain yang kerap kuamati
Banyak yang sibuk dengan berbenah diri, menciptakan lagi keinginan yang lebih tinggi
Sedang aku terus berada pada titik yang sama, menikmati sosokmu dalam bayangan
Aku inginkan yang sederhana
Berdansa bersamamu diiringi lagu kebanggan yang kita ciptakan dulu

Saling menatap malu-malu, tetapi tak bisa berhenti walau waktu semakin cepat melaju
Diiringi tawa tanpa beban seolah dalam semalam hanya miik kita saja
Imajinasiku bergerak tanpa henti, membawaku pada bahagia semu tentangmu
Tak lagi bisa tertidur nyenyak sebelum menuangkan kisah bahagia kita
Kisah tintangmu yang tak kunjung tuntas

*Baca sajak-sajak lainnya di sini