Di Pesta Dansa

Di Pesta Dansa
©Freepik

harum melodi bergetar ria
segenap tamu jadi berdansa
terburailah kelam masa silam
dari penjuru pikiran kelam

seorang di perjamuan pesta
duduk sendiri menatap lantai
mencari kalung berliontin cinta
yang diberikan gadis dekat pantai

ia kini berjalan mengambil sirup
lantas dia menghirup wangi nirwana
di jiwanya yang suci bak para uskup
dan melanjutkan pencarian akan hal fana

perempuan lewat dan tertawa tersendat
menunjuk liontin cinta itu ada sudah
di dalam kekukuhan hatinya yang bulat
untuk menikahi gadis pujaan di rumah

Uang untuk Memperbaiki Bumi Mengalir ke Mars

Nelayan melempar jaring perangkap,
berbagai botol plastik saja terdapat.
Mungkin ini adalah tanda bila samudra
sudah memutus tali persahabatan dengan
kita, makhluk paling rakus di semesta.

Ikan-ikan sendiri sudah tidak bersedia
diambil ke darat, mereka lebih memilih
untuk terbang langsung ke akhirat. Karena
airnya sudah mengandung limbah yang
penuh dengan keruh keomong-kosongan.

Selagi itu, seorang kaya di luar negeri,
sedang memanifestasikan impiannya
agar merah planet Mars bisa sehijau
hutan-hutan yang terancam gundul.
Seorang tua di jalan raya terkekeh:

“Hei! Otak batu! Saat kita suburkan ketandusan
Mars, tidakkah kau pernah pikirkan kecemburuan
Bumi? Tempat di mana kau lahir dan hidup. Ketimbang
membuang uang dengan membangun maha roket rasaksa
mengapa tidak kita sehatkan Bumi yang jelas sedang terluka?”

Jeruji Udara

Dia melihat perkutut peliharaan
terkurung di besi sangkar sedang
senang-senangnya bersiul.

Langsung kecemburuan menyergap
di hatinya yang dipenuhi gelap.
Karena manusia itu memiliki kebebasan
namun dia selalu merasa terbelenggu.

Bertahan di kantor itu cuma demi uang,
jadi segala serapah atasan adalah makanan
yang perlu dimuntahkan sesampainya di rumah.
Belum lagi berhadapan dengan rengekan anak,
dia meminta ponsel baru dengan merek terkemuka.
Membikin wajah ayahnya makin merah padam.

Di dapur, dia temukan peti harta terkubur. Isinya
adalah kecemasan istri akan menipisnya tabungan,
juga sempat melompat satu kata-kata cukup laknat
saat kepala suaminya sedang sungguh penat, “Kamu
ga bisa cari uang banyak, yah! Aku minta cerai.”

    Arham Wiratama
    Latest posts by Arham Wiratama (see all)