Di Tengah Gempuran Terorisme dan Radikalisme

Di Tengah Gempuran Terorisme dan Radikalisme
©Flexlearnstrategies

Terorisme dan radikalisme adalah efek yang muncul dari kemajuan teknologi, tetapi terpaksa berbenturan dengan sikap ekslusif dalam beragama.

Apa kabar dunia pendidikan tinggi? Mahasiswa apa kabar? Masihkah kalian nyenyak dalam tidur panjang? Mahasiswa yang tercinta, Ibu Pertiwimu sedang dilanda sakit, masih pedulikah kalian?

Di tengah kemelut pongahnya gerakan mahasiswa, Pemerintah melalui Kemenrestekdikti tiba-tiba membatasi proses komunikasi mahasiswa. Dan, mak jleb, kebijakan ini akan berdampak lebih buruk lagi, khususnya di tengah arus gerakan mahasiswa yang sedang menurun.

Kemenrestekdikti akan batasi mahasiswa dalam berjejaring di media sosial, seperti WA, IG, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Kementerian akan bekerja sama dengan BTPN dan BIN.

Makin mak jleb aja nih para aktivis mahasiswa. Sanggupkah mereka terus bertahan dalam keambiguan ini? Hem, kita lihat saja!

Tetapi benarkah demikian?

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, membela bahwa upaya pembatasan itu adalah untuk pencegahan terorisme dan radikalisme. Pihak Kemenrestekdikti tidak akan memantau satu per satu mahasiswa dalam berekspresi di media sosial.

Tetapi mohon maaf, Bapak Menteri Yang Mulia, eh, maksudnya Yang Terhormat, apa yang jadi pertimbangan untuk membuat kebijakan semacam itu? Kami para mahasiswa tentu bertanya-tanya, untuk apa sebenarnya pengambilalihan ruang privasi kami itu?

Iya, kendati pun Bapak Menteri membela bahwa data nomor telepon dan media sosial mahasiswa kita butuhkan hanya saat ada indikasi ‘terorisme dan radikalisme’, lalu apakah itu adalah jalan satu-satunya? Apakah itu cukup aman bagi kami yang tak tahu persoalan intelijen? Apakah cukup aman untuk kami yang sedang dalam kepongahan gerakan?

Baca juga:

Kami tetap merasa bahwa kebijakan Bapak Menteri ini adalah upaya mengambil alih ruang privasi. Ruang privasi adalah ruang sebebas-bebasnya berekspresi. Ruang privasi sangat jadi kebutuhan bagi makhluk sosial macam kami. Jika ruang privasi terotak-atik, lalu ke mana kami hendak berekspresi sebebas-bebasnya?

Jadi, mohon pertimbangkan lagi kebijakan itu. Kami tetap mendukung pemerintah, kok, Pak! Jangan cap kami sebagai orang subversif hanya karena beda pendapat semacam ini. Sebagai warga negara yang baik, kami tetap mendukung sepenuhnya langkah pemerintah untuk memberantas orang-orang yang terpapar terorisme dan radikalisme, titik!

Solusi yang Ambigu

Benar saja, zaman makin maju. Teknologi makin canggih, sampai mengalahkan ‘kecanggihan’ manusia. Kita tahu itu, dan kita sepakat dengan hal itu.

Kecepatan perkembangan zaman membuat modernisasi juga menyambar siapa saja. Modernisasi adalah anak kandung percepatan (globalisasi) perubahan ini. Modernisasi menyerempak begitu luas sampai ke sudut terdalam.

Lalu apa konsekuensi logisnya?

Ihwal yang timbul dari pergerakan banter ini adalah kerusakan sistem dan tatanan manusia. Di segi agama, manusia makin teraleniasi. Sedang di segi pendidikan, manusia makin tak (merasa) membutuhkan ‘ilmu’, dan seterusnya.

Lalu, efek paling menonjol di beberapa dekade ini adalah soal terorisme dan radikalisme. Sebuah efek yang muncul dari kemajuan teknologi, tetapi terpaksa berbenturan dengan sikap ekslusif dalam beragama.

Lalu, benarkah terorisme dan radikalisme berbahaya bagi kehidupan manusia?

Halaman selanjutnya >>>

    Latest posts by Muhammad Khasbi (see all)