Dia Datang pada Palungan Ilalang

Dia Datang pada Palungan Ilalang
©Pluang

1//. Dalam petikan nada rindu melantun pada malam sunyi
Pada kilau cahaya bintang
Pada rembulan kilauan malam
Pada gemercik sunyi dalam ilalang liar
Pada hembusan angin lembut
Yang kian terhempas pada pekat malam

Berdebur ombak yang bersetubuh dengan karang
Rasaku kian menyentuh hati
sang raja telah datang pada palungan jerami hina
Nada rindu pun kian tercipta
Oleh jamahan malam paling sunyi di kota Betlehem

2//. kuiringkan melodi natal kian menyapa-Nya
Kuiringkan syair pada gembala yang setia menuntun domba
Selaras napas, kubisikkan di telingamu
Tentang natal telah tiba

Rindu menghangat
Rindu menggetarkan
Bergetar terharu
lantas Engkau datang dengan balutan jerami nakal yang menggatalkan tubuh mungil-Mu

3//. Alunan nada rindu aku cipta
Ketika aku mendera lagi
Dalam pelataran hatiku terpangku busuk
Sebab, aku belum siap menyambut-Mu
Aku berlari memberi kabar tentang-Mu

Aahh… bukan itu alasanku
Sebenarnya aku malu, sebab aku belum siap menyambutmu
Aku hanya siap, dalam balutan baju baru dan celana kardinal
Pembelian nenekku kemarin

Untukmu Maria

1//. Setelah terik tak kenal lelah melumat
Tubuhmu yang kian renta
Ada derai yang mengisah patah-patah di peluhmu
Ketika senja mengatup malam pada bulirnya
Engkau mencari tempat untuk berteduh
Bukan hanya berteduh, tetapi sudah waktunya engkau bersalin

Masih tergambar jelas di wajahmu yang perlahan
menunduk rebah pada palungan setelah mendulang mimpi

2//. Pagi masih menyisakan ribuan tanya
hingga bertebaran di lekuk bibirmu yang kian tamaran
Sebab buah kandunganmu telah lahir

Kisahnya tak mampu kau ceritakan sebagai dongeng pengantar tidur malam
Padahal di segaris kening terlukis jelas guratan bercak sang terik mentari
Melumat hingga mengaduh perih menahan beban yang tersanggul di pundakmu
Ada bisikan patahan napas yang tak mungkin engkau ceritakan
Sedangkan rambutmu yang tergerai dijambak usia renta
Engkau tersanggul di kurunnya sang waktu

3//. Ini kisah yang merdu untukmu
Perihal juang seorang ibu Maria
Yang mengandung dari Sang Roh tersuci

Anak dara tumbuh di antara ibu-ibu berderai
Peluh yang meranum hujan di teluk kasih-Nya
Seiring dengan taburan emas, perak, dan muur
Aroma kadang hina menjadi surga yang terbawa ke seluruh penjuru dunia
Selamat natal untukmu Maria

Kamu dalam Rindu

Engkau adalah hal yang tak sempat aku semat
Tapi sekarang menjadi hal yang selalu aku pikirkan
Entah, di mana, keberapa kita akan bersua lagi

Engkau adalah isyarat Tuhan yang tak aku pahami
Hingga aku pergi dan menyadarkan aku
Arti sebuah keindahan

Entah engkau tahu atau tidak
Huruf kecil ini akan selalu aku tulis di penghujung tahun
Tentang Yolanda..
Semoga satu dari seribu suratku akan engkau baca
dari aku yang selalu kamu sapa belia

Rindu Terlelap, Yolanda

Pada rona siang yang tertutup rindu
Pun terik bergetar, bergelayut
Mencari selarik kata dalam lamunan
Terbuat lelap
Lalu pun kian senja, jelma hening pada riuh
Sembari mentap langit-langit tak bersenandung

Yolanda…
Terseduh kembali kisah denganmu
Bunga melati di depan kamarku mulai bermimpi
Rasaku kian mewah tanpa cela, tentang raga di atas semak-semak belukar
Di saat kita mencoba menghitung bintang yang jatuh
Kini terbelenggu, tumpah sebejana gulai, terjelma jepit
Hingga mematikan semua keluh, yang terselubung suram

Kini prasati kita kekal, tinggal kisah pada cerita
Tentang 24 yang dikenang
Kini hanya memancing pada titisan arus sungai yang kering
Hanya aksara tidak bernyali beradu
Di akhir Desember, mencandu segala tentangmu

Yol.. biarkan sungai rasa ini kering, akan ada hujan di akhir Desember
Salam hangat berpagut rindu
Selamat natal, selamat tahun baru, Yolanda
Mimpi terselasikan

    Latest posts by Rian Tap (see all)