Dialektika Pagi Buta

Dialektika Pagi Buta
Ilustrasi: antologice

Sayang, aku ingin bercerita sedikit tentang kampung halaman. Tempat tangisku pertama kali bergurau dan terdengar lantang, beberapa menit setelah perjuangan panjang malaikatku. Tempat pertama kali telingaku menangkap bunyi yang sangat indah diperdengarkan ayah di telinga kanan, serupa suatu perjanjian anak manusia pada Tuhannya di kala pagi buta.

Tempat yang mengajarkan teori kehidupan melalui ejaan setiap numerik dahan pohon, kerikil yang terhampar pada pengharapan dan kelapangan jiwa di jalan yang lembab dan berliku, juga di setiap tangga nada kicauan burung-burung di pagi hari.

Kampung halamanku adalah tempat yang sangat pandai menanam benih rindu. Ia merawat dan memanennya di labirin pemikiran dan perasaan, hingga akhirnya tertanggal sebagai luka tua peradaban.

Di sana, sunrise dan sunset-nya dapat kusaksikan dengan begitu menakjubkan. Sebuah jarak yang tak dapat kuukur dengan hasta, namun menjadi jatah yang sangat eksotik bagi retina. Meraba keindahan semburat merah yang terhampar di kaki langit dan ada pula yang asyik mengukir diri di pelataran persawahan yang digenangi air setelah beberapa minggu dipanen.

Tak hanya itu, di sana aku dapat menyaksikan kemesraan angin dan ilalang dalam siulan yang menenangkan setiap jiwa yang mendengarnya. Di setiap alunannya, tak alpa memberi isyarat makna kasih dan sayang dengan begitu tulus.

Ah, ini sangat romantis dari roman-roman Barat yang kerap aku baca akhir-akhir ini. Apalagi saat kubenamkan kakiku di sungai, ikan-ikan kecil seketika mendekat dan mengigitnya perlahan, berulang kali.

Dari wajahnya, terlukis kewaspadaan di saat kulakukan gerakan dadakan yang menepis tubuh mungilnya. Oh, desaku, ternyata kau masih menyimpan makhluk kecil ini di sini setelah sekian lama kabarnya hilang saat pembangunan supermarket yang menjadi cikal bakal penimbunan tempat tinggalnya.

Di pematang-pematang sawah, masih terlihat pula si kecebong itu. Mengingatkanku pada wajah ibu yang geram saat khawatir mencariku ke mana-mana, sementara aku sibuk menangkapi satu per satu kecebong-kecebong kecil yang kusangkanya anak ikan yang kehilangan induknya.

Hmm.., betapa marahnya ibu saat itu. Bahkan, saat perjalanan pulang pun, ia masih menyisipkan rasa marahnya di sela-sela guratan senyum dan pula menyingkap rasa lelah di sepanjang hari itu.

Pada ritual keheningan di desaku, suara rintik air terdengar lebih melankolis dari biasanya. Setiap tetes keterasingannya menjelma menjadi mantra kesunyian, membisik perlahan di sela-sela ruang yang betah menyingkap kegelapan, lalu mengarak angin dengan dinginnya yang meremang.

Aku berdiri di atas labirin pemikiran. Aku memahat tapak pada tanah yang lembab juga dingin. Sementara beberapa kerikil jalanan saling berkumpul melawan suasana itu, kemudian melabelinya sebagai pagi buta yang sunyi.

Sayang, begitulah suasana di desaku kala itu. Menarik, bukan?

Saat itu, aku masih menjadi bocah kecil yang hanya paham bahwa sejatinya malam adalah gelap, sementara siang pastilah terang. Saat itu, yang kupahami dari kesunyian hanyalah ketika suasana yang bergeming menjadi hening seketika, ketika tak ada satu pun warga yang berceloteh tersebab asyik menolak lelah dalam tidurnya.

Hingga saat ini, saat ketika aku beranjak menjadi pemuda dewasa, pikiran mengajakku berkelana menjadi seorang sosialis. Aku punseolah-olah lupa memikirkan diri sendiri, sebab keadaan yang tidak baik-baik saja di luar sana jauh menguasai pikiran dan naluri.

Di kota ini, aku jauh membuat kesunyian itu semakin nyata. Setiap malam dan pagi buta, aku selalu saja bicara dengan nurani sendiri, seolah-olah menciptakan dialog tentang kesadaran diri.

Perasaan heran melihat ketimpangan yang terjadi di setiap dekade waktu, tentang ketidakseimbangan antara masyarakat pinggiran dengan masyarakat elite, ketimpangan hak yang dijarah mesin-mesin kapitalis, bangku-bangku sekolah yang telah merelakan tubuhnya dimutilasi oleh revolusi massa yang menggemaskan.

Padahal, dialog para aktivis tentang konsep sosialis, keseimbangan, teori-teori Karl Marx, dan lain sebagainya pun tak pernah berkesudahan. Namun, hanya terbentur pada diskusi dan debat kusir yang tak kunjung menemukan jalan keluarnya.

Ah, sayang, ini sangat lucu, bukan? Bahkan mampu mengoyak kesadaranku, tersebab keberadaan yang tak dapat berbuat apa-apa. Kalau seperti itu, ingin rasanya aku kembali saja ke masa kecil yang dulu.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen lainnya.

Naspadina Naspa
Latest posts by Naspadina Naspa (see all)