Dialog Sejoli di Atas Ranjang

“Aku jadi ingat kata-kata yang dituliskan, Tin. Kita hidup dalam kesakitan melulu. Kalau bukan daging yang sakit, ya hati. Kesakitan melulu!”

“Ya. Sebab kesadaran itu, Ranta mesti melawan kepasifan. Membuat perubahan-perubahan, bukan pada dan untuk diri sendiri, tapi pada semua. Dari semua untuk semua.”

“Hehem… Bagi semua. Sebab perubahan tidak dapat dikerjakan sendiri. Semua perlu persatuan. Seperti kata Ranta, kalau ada persatuan, semua bisa dikerjakan. Jangankan rumah, gunung dan laut bisa dipindahkan. Lha, Tin, kau belum singgung tentang tokoh Komandan.”

“Sama seperti Ranta, hati dan pikirannya terbuka. Semua harus sama rata sama rasa. Jika tidak, perubahan-perubahan mustahil terjadi. Di bagian akhir novel, setidaknya, menggambarkan karakter kedua sosok itu, Ranta dan Komandan. Bagaimana dialog terjadi antara Lurah (Ranta), Komandan beserta jajarannya (militer), dan masyarakat. Apik sekali. Siapa pun yang ada di situ, semua punya hak berbicara. Apa pun yang akan diputuskan, diputuskan secara mufakat.”

“Aku setuju denganmu. Setidaknya, siapa yang kuat, dia tidak berubah menjadi binatang buas, yang setiap harinya memangsa hidup yang lainnya. Seperti yang juga tertulis di novel itu, bukan, Tin?”

“Setidaknya perjuangan Ranta dan kawan-kwan membuatku optimis bahwa selama kebenaran itu diperjuangkan, maka ia akan menang. Tapi, mesti dilakukan dengan sangat hati-hati dan sabar (di mana-mana aku selalu dengar: yang benar juga yang akhirnya menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit. Dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar….).”

“Segala sesuatu pasti ada hikmahnya, ya, Tin. Dalam menghadapi kesulitan sekalipun, kesabaran masih dibutuhkan.”

“Karena sabar itu indah, bukan?”

“Benar sekali.”

“Tapi indahnya kapan, Yem?”

“Ya sabar”

“Ah, kau selalu begitu. Ingat saja kata-kata bijak orang sebelah.”

Percakapan di atas ranjang itu sejenak terhenti. Masing-masing seperti merenung. Sesekali menatap langit-langit, sesekali mengubah posisi menghadap jendela yang masih setia bersama bulan dan gemintang.

Larut semakin mencekam. Angin membelai menjadi-jadi. Menelusuri tubuh, bahkan sampai ke palung dada.

“Tin, seandai tokoh Komandan dan Ranta sungguhan ada di dunia nyata saat ini, mau kau dengannya?”

“Jika dia mau.”

“Apa urusannya mereka mau atau tidak? Yang penting, kan, kau mau.”

“Aku tidak gila memperdebatkan awang-awang,” jawab Tini sembari menguap dan merampingkan badan, membelakangi.

“Ini bukan awang-awang. Ini mimpi, yang jika diperjuangkan akan jadi nyata. Terserah mereka mencintaimu atau tidak, yang penting kau mencintainya,” Tiyem meneruskan celotehnya bersama mimpi-mimpi yang tidak pasti, mencoba menggoda Tini dari balik punggung.

“Tin?”

“Tin, kau dengar aku? Ah, sialan. Tidur rupanya.”

Tini menjawab dengan dengkuran. Diam-diam tersenyum tipis. Menggoda.

___________________

*Klik di sini untuk membaca cerpen-cerpen Nalar Politik lainnya.

Uci Susilawati
Latest posts by Uci Susilawati (see all)