Dilema Ideologi Pendidikan Dua Kelas

Dilema Ideologi Pendidikan Dua Kelas
©Getty

Siapa yang tak pernah merasakan dilema? Perasaan setengah-setengah dalam memilih.

Kadang, kalau kita terjebak di dalam dua cinta, perasaan dilema itu sangat terasa. Kasih yang setiap orang miliki pastilah punya momen bersejarah tersendiri, sehingga kita tak bisa luput dari keduanya, dan jadilah perasaan dilema itu.

Namun, kali ini, kita tak akan membahas tentang kecintaan semata, tapi juga sebuah dilema yang ideologi dari dua kelas miliki.

Dua kelas yang saya maksud dalam tulisan ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari kelas ekonomi ke atas dan kelas ekonomi ke bawah. Kedua kelas ini memiliki ideologi, dan pastilah berbeda. Dan itu bisa kita tandai dari keadaan ekonomi masing-masing.

Di kelas ekonomi bawah, ideologinya mungkin agak sulit kita tebak. Itu bisa kita lihat dari kegiatan sehari-hari mereka. Mereka secara terpaksa melakukan pekerjaan bukan karena opsi, melainkan sebuah keharusan untuk menjalani dan menghidupi diri mereka.

Di sisi lain, ideologi mereka terhadap pendidikan justru sebaliknya. Pendidikan bagi mereka bukanlah kewajiban, melainkan hanya opsi belaka.

Yang terparah jika mereka melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja. Mungkin sebagian dari kita yang tak memiliki pengalaman yang begitu menyakitkan memiliki perasaan iba terhadap apa yang mereka lakukan setiap harinya. Dan juga mungkin kita akan membantu mereka dalam menimba ilmu, baik itu di sekolah maupun di universitas.

Namun, bagi mereka, pendidikan adalah opsi. Terutama anak-anak, anak-anak mungkin bisa membantu orang tua mereka dalam bekerja sehabis sekolah. Sebagai akibat, mereka tak bisa terlalu fokus dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang telah sekolah bebankan. Sebaliknya, bagi kelas ekonomi atas, tak perlu repot-repot memikirkan hal tersebut.

Di dalam kajian marxisme mengenai pendidikan, dilema ini juga muncul. Sebenarnya, di usia berapa anak-anak boleh bekerja?

Baca juga:

Kebanyakan anak pada usia di bawah sepuluh tahun. Namun ini juga bisa kita katakan sebagai dalih pabrik-pabrik yang menggunakan mereka sebagai buruh murah. Itu karena pengetahuan minim yang anak-anak miliki, sehingga dengan mudah pabrik-pabrik menggunakan mereka.

Namun apa yang dialami Marx pastilah berbeda dengan kekinian. Saat ini pabrik-pabrik ini sudah terwujud dalam bentuk yang berbeda, misalnya bos, preman kecil-kecilan, dan sebagainya.

Para penyanyi jalanan tentunya tak berjalan sendiri. Mereka memiliki bos. Dan bos inilah yang mengajarkan dan juga sebagai pusat dalam mengumpulkan hasil mereka. Bos inilah yang bisa kita katakan mengambil untung dari mereka. Kita tak dapat mengetahuinya, namun kebanyakan film memperlihatkan hal serupa.

Selain buruh murah, mereka terpaksa melakukan hal yang menurut kita itu “tak baik”. Jika orang tua mereka mempekerjakan mereka, mungkin beban mereka bisa berkurang. Namun jika tidak, mereka bisa lebih parah, karena minimnya pendidikan mereka.

Marx sendiri melakukan tindakan penyapuan di berbagai pabrik yang ia curigai mempekerjakan “buruh murah” tersebut. Usia merupakan masalah terbesar dalam hal ini. Kita tak bisa mengatakan usianya harus tujuh belas tahun ke atas karena realitasnya pasti berbeda dengan apa yang kita rasakan.

Standar usia yang marxisme tetapkan berada pada usia tiga belas tahun. Di bawah tiga belas tahun tak wajib dipekerjakan, namun masih ada juga pabrik yang memperkerjakan mereka.

Sedangkan, bagi kelas ekonomi atas, tak perlu merasakan hal yang menguras energi itu. Dan bagi mereka, mungkin tak sepatutnya orang tua dari kelas ekonomi bawah mempekerjakan anak-anak mereka. Itu merupakan tindakan yang tak manusiawi.

Hal ini patut kita juga pikirkan, dan malah kembali ke permasalahan awal lagi, yaitu usia berapakah sepantasnya mereka dapat bekerja?

Halaman selanjutnya >>>