Dilema Ideologi Pendidikan Dua Kelas

Dilema Ideologi Pendidikan Dua Kelas
Getty Images (bbc.com)

Siapa yang tak pernah merasakan dilema? Perasaan setengah-setengah dalam memilih.

Kadang, kalau kita terjebak di dalam dua cinta, perasaan dilema itu sangat terasa. Kasih yang dimiliki oleh setiap orang pastilah memiliki momen bersejarah itu sendiri, sehingga kita tak bisa luput dari keduanya, dan jadilah perasaan dilema itu.

Namun, kali ini, kita tak akan membahas tentang kecintaan semata, tapi juga sebuah dilema yang dimiliki oleh ideologi dari dua kelas. Dua kelas yang dimaksud oleh tulisan ini terdiri dari orang-orang yang berasal dari kelas ekonomi ke atas dan kelas ekonomi ke bawah. Ideologi dimiliki oleh kedua kelas itu pastilah berbeda. Dan itu bisa ditandai dari keadaan ekonomi yang dimilikinya.

Di kelas ekonomi bawah, ideologinya mungkin agak sulit ditebak. Itu bisa dilihat dari kegiatan sehari-hari mereka. Mereka secara terpaksa melakukan pekerjaan bukan karena opsi melainkan sebuah keharusan untuk menjalani dan menghidupi diri mereka. Di sisi lain, ideologi mereka terhadap pendidikan justru sebaliknya. Pendidikan bagi mereka bukanlah kewajiban melainkan hanya opsi belaka.

Yang terparah, jika mereka melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja. Mungkin sebagian dari kita yang tak memiliki pengalaman yang begitu menyakitkan memiliki perasaan iba terhadap apa yang mereka lakukan setiap harinya. Dan juga mungkin kita akan membantu mereka dalam menimba ilmu, baik itu di sekolah maupun di universitas.

Namun, bagi mereka, pendidikan adalah opsi. Terutama anak-anak. Anak-anak mungkin bisa membantu orangtua mereka dalam bekerja sehabis sekolah, sedangkan sebagai akibat, mereka tak bisa terlalu fokus dalam mengerjakan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh sekolah. Sebaliknya, bagi kelas ekonomi atas, tak perlu repot-repot memikirkan hal tersebut.

Di dalam kajian Marxisme mengenai pendidikan, dilema ini juga dihadapi. Sebenarnya, di usia berapa anak-anak diperbolehkan bekerja? Kebanyakan anak-anak didapati pada usia di bawah sepuluh tahun. Namun, ini juga bisa dikatakan sebagai dalih oleh pabrik-pabrik yang menggunakan mereka sebagai buruh murah. Itu dikarenakan pengetahuan minim yang dimiliki oleh anak-anak. Sehingga dengan mudah pabrik-pabrik menggunakan mereka.

Namun, apa yang dialami Marx pastilah berbeda dengan kekinian. Saat ini pabrik-pabrik ini sudah terwujud dalam bentuk yang berbeda, misalnya bos, preman kecil-kecilan, dan sebagainya. Para penyanyi jalanan tentunya tak berjalan sendiri. Mereka memiliki bos. Dan bos inilah yang mengajarkan dan juga sebagai pusat dalam mengumpulkan hasil mereka. Bos inilah yang bisa dikatakan mengambil untung dari mereka. Kita tak dapat mengetahuinya, namun kebanyakan film-film memperlihatkan hal serupa.

Selain buruh murah, mereka terpaksa melakukan hal yang menurut kita itu “tak baik”. Jika orangtua mereka memperkerjakan mereka, mungkin beban mereka bisa berkurang. Namun, jika tidak, mereka bisa lebih parah, karena minimnya pendidikan mereka.

Marx sendiri melakukan tindakan penyapuan di berbagai pabrik yang dicurigai memperkerjakan “buruh murah” tersebut. Usia merupakan masalah terbesar dalam hal ini. Kita tak bisa mengatakan usianya harus tujuh belas tahun ke atas karena realitasnya pasti berbeda dengan apa yang kita rasakan.

Standar usia yang ditetapkan oleh Marxisme berada pada usia tiga belas tahun. Di bawah tiga belas tahun tak wajib dipekerjakan. Namun, masih ada juga pabrik yang didapati memperkerjakan mereka.

Sedangkan, bagi kelas ekonomi atas, tak perlu merasakan hal yang menguras energi itu. Dan bagi mereka, mungkin tak sepatutnya orangtua dari kelas ekonomi bawah mempekerjakan anak-anak mereka. Itu merupakan tindakan yang tak manusiawi. Hal ini patut kita juga pikirkan, dan malah kembali ke permasalahan awal lagi, yaitu usia berapakah sepantasnya mereka dapat bekerja.

Dilema yang didapati bagi kelas ekonomi atas bisa dikatakan bahwa pengalaman kerja mereka terbilang minim. Dan kebanyakan mereka mungkin didapati “bermalas-malasan”, bahkan “manja”. Realitas berbeda justru dialami bagi mereka yang kelas ekonomi bawah seperti yang telah diungkapkan di atas. Pekerjaan bagi anak-anak mereka yang kelas ekonomi atas merupakan opsi semata. Mungkin sulit bagi mereka merasakan pahitnya mencari nafkah, walaupun ungkapan itu dapat terjadi jika orang tua mereka menjelaskannya.

Jadi, ada dua dilema dari pendidikan dua kelas itu. Pertama adalah masalah usia bagi anak-anak mereka. Kapan sepantasnya mereka dapat bekerja. Masalah usia ini tak bisa mengabaikan fakta kedua kelas tersebut. Dilema kedua berhubungan dengan ketidaksiapannya anak-anak kelas ekonomi atas dunia kerja.

Dan bukan hanya itu, dilema kedua juga ini berhubungan sangat besar dengan pendidikan agar “buruh murah” dapat mengetahui apakah mereka sedang dipergunakan atau tidak. Dilema tersebut, apakah wajib memberikan mereka pendidikan tentang dunia kerja?

Nilai dari kerja seharusnya diberikan dalam kurikulum mereka. Sehingga mereka tak mengalami “syok” ketika mereka dipergunakan maupun itu menghilangkan kemanjaan mereka bagi kelas menengah atas. Marx juga beranggapan bahwa bukan hanya sekedar pendidikan tapi juga praktik pengalaman kerja sehingga mereka mengalami kesiapan mental.

Ini juga dilakukan secepatnya agar para penganggur yang memiliki “ijazah” bisa terampil dalam menjalani pekerjaan nantinya. Ditambah lagi, tingkat pengangguran bisa dikatakan semakin banyak tiap tahunnya, pendidikan kerja di usia dini bisa membuat mereka mengatasi hal tersebut.

Sebagai penutup, kapitalisme di negeri kita mungkin bisa disebut sebagai kapitalisme yang “tak manusiawi”. Itu dapat dibuktikan dengan banyaknya perusahaan industri dalam berbagai sektor umum, termasuk sektor pendidikan, dan bahkan, transportasi umum juga.

Selama ada lahan, perusahaan-perusahaan industri langsung mengambilnya. Negara pun seharusnya peduli dan memang harus membatasi mereka agar kita sebagai rakyat tak merasakan “syok” itu. Namun, apalah daya, semuanya tergantung pada kebijakan politik mereka “yang menjalani” kepemerintahan.

___________________

Artikel Terkait: