Dilema Ideologi Pendidikan Dua Kelas

Dilema yang kita dapatkan dari kelas ekonomi di atas bisa kita katakan bahwa pengalaman kerja mereka terbilang minim. Dan kebanyakan mereka mungkin “bermalas-malasan”, bahkan “manja”.

Realitas berbeda justru tampak bagi mereka yang kelas ekonomi bawah seperti yang telah saya ungkapkan di atas. Pekerjaan bagi anak-anak mereka yang kelas ekonomi atas merupakan opsi semata. Mungkin sulit bagi mereka merasakan pahitnya mencari nafkah, walaupun ungkapan itu dapat terjadi jika orang tua mereka menjelaskannya.

Jadi, ada dua dilema dari pendidikan dua kelas itu. Pertama adalah masalah usia bagi anak-anak mereka; kapan sepantasnya mereka dapat bekerja. Masalah usia ini tak bisa mengabaikan fakta kedua kelas tersebut.

Dilema kedua berhubungan dengan ketidaksiapannya anak-anak kelas ekonomi atas dunia kerja. Bukan hanya itu, dilema kedua juga ini berhubungan sangat besar dengan pendidikan agar “buruh murah” dapat mengetahui apakah mereka sedang dipergunakan atau tidak. Dilema tersebut, apakah wajib memberikan mereka pendidikan tentang dunia kerja?

Nilai dari kerja seharusnya ada dalam kurikulum mereka. Sehingga mereka tak mengalami “syok” ketika mereka dipergunakan maupun itu menghilangkan kemanjaan mereka bagi kelas menengah atas. Marx juga beranggapan bahwa bukan hanya sekadar pendidikan tapi juga praktik pengalaman kerja sehingga mereka mengalami kesiapan mental.

Ini juga dilakukan secepatnya agar para penganggur yang memiliki “ijazah” bisa terampil dalam menjalani pekerjaan nantinya. Belum lagi tingkat pengangguran bisa kita katakan makin banyak tiap tahunnya, pendidikan kerja di usia dini bisa membuat mereka mengatasi hal tersebut.

Sebagai penutup, kapitalisme di negeri kita mungkin bisa kita sebut sebagai kapitalisme yang “tak manusiawi”. Itu dapat kita buktikan dengan banyaknya perusahaan industri dalam berbagai sektor umum, termasuk sektor pendidikan dan bahkan transportasi umum juga. Selama ada lahan, perusahaan-perusahaan industri langsung mengambilnya.

Negara pun seharusnya peduli dan memang harus membatasi mereka agar kita sebagai rakyat tak merasakan “syok” itu. Namun apalah daya, semuanya tergantung pada kebijakan politik mereka “yang menjalani” kepemerintahan.

Baca juga:
Yepihodov