Dimensi Bahasa dalam “Merokok Membunuhmu!”

Dimensi Bahasa dalam “Merokok Membunuhmu!”
©Pikiran Rakyat

Merokok membunuhmu! alih-alih sebagai bahasa peringatan, di wilayah peperangan antar-makna, ia menjadi bahasa advertensi.

Peperangan adalah identitas sejarah kita, sejarah penumpasan homo sapiens terhadap spesies homo lainnya, yang secara sadar dan congkak sejarah mengabsahkannya atas nama spesies kita sendiri sebagai homo sapiens, yang berarti “Manusia Bijak”. Maka tidak ada pilihan lain untuk penghidupan sejarah setelahnya selain merupakan sejenis rangkaian peperangan.

Baheula, peperangan—alias domestikasi—atas alam melalui revolusi pertanian, kini berubah menjadi peperangan atas diri atau wilayah kita sendiri—setelah menyadari kitalah yang terdomestikkan oleh alam, sains, dan makna-makna.

Di revolusi digital dan teknologi komunikasi, mudah sekali pikiran kita tertaklukkan oleh makna-makna. Sehingga kerap kali terjadi peperangan di wilayah itu demi sebuah dominasi antar-individu dan kepentingan antar-kelompok. Begitu pula yang terjadi dalam bahasa peringatan,  merokok membunuhmu!

Di wilayah peperangan antar-makna, atas dasar kepentingan pasar, makna dari bahasa peringatan berbalik menjadi bahasa advertensi. Demikianlah advertensi kemudian menyamarkan teror menjadi bujukan. Oleh karena itu, secara politis merokok tidak membunuh fisik melainkan psikis.

Dan pasar, yang secara garis besar terbentuk dari bermacam individu, atas dasar mitos “harum uang” serempak ingin berebut membetot pikiran kita dengan mengubah bahasa peringatan seolah menjadi bahasa advertensi untuk dikukuhkan sebagai kebenaran pasar.

Nahasnya, kebenaran yang tercipta dari kibul kapital(isme) ini malah lolos begitu saja sekalipun sebenarnya menyerang psikis kita—di mana penyerangan terhadap psikis di sini berakibat fatal, keluar dari maksud awal untuk lantas kita menghindarinya, dan malah mengundang kita mengonsumsi lebih banyak. Sehingga pada akhirnya kita menjangkit penyakit “konsumerisme”. Di mana jenis peyakit ini memandang konsumsi lebih banyak produk dan jasa sebagai hal positif.

Ini berarti, persoalan “bahaya merokok” tidak lain dari persoalan bahasa. Rokok mendapatkan sampel “berbahaya”-nya melalui bahasa peringatan di muka bungkus rokok itu sendiri.

Baca juga:

Karena pada muasalnya kerja bahasa tidak melulu sebatas menjadi penanda yang mati. Ia samahalnya kata, yang tidak hidup dan tumbuh di dalam kamus, melainkan akan berkembang biak bila dipungut oleh penulis (baca:pasar). Bagitu pula bahasa. Berkat bungkus rokok menggunakannya, ia menjadi hidup. Alhasil, lahirlah yang kita sebut paradigma.

Paradigma adalah sejenis wabah yang menyerang psikis para pengguna rokok. Ia merekonstruksi bahasa merokok membunuhmu! menjadi suatu kebenaran melalui pasar, yang dalam pemahaman moralistik tak lain dari pseudo kebenaran alias kebenaran kosong.

Merokok sebetulnya dapat menyebabkan kanker paru dan sederet penyakit fisik lainnya. Begitu pula hukum dari pengetahun murni, sains. Tapi, kriteria kebenaran bisa berubah bersama dengan “waktu yang merobek tanggal pada kalender”[1].

Maka, kini bahasa merokok membunuhmu! menyimpan kebenaran lain di mana bahasa peringatan ini beralih menjadi bahasa advertensi. Sifat pengetahuan di dalam bahasa peringatan itu menjadi “benar” kemudian dalam arti pengetahun politis. Pengetahuan yang dikonstruksi oleh pasar, di mana dengan hadirnya sampel peringatan di muka bungkus rokok dapat menarik konsumen lebih banyak, yang tak lain demi sebuah modal alias kapital(isme).

Di sinilah berlaku bahaya sebuah ilusi. Ilusi yang sifatnya hanya khayali dan tidak dapat dipercaya alias palsu ternyata dapat membikin serikat perokok di muka bumi nusantara mengangguk setuju bahwa merokok membunuhmu! bukan sebuah sampel yang mengandung makna suratan sebagaimana makna asal dari bahasa itu dikonstruksi—sebelum akhirnya hadir resistensi yang dapat dengan cepat menjadi hegemonik.

Sebaliknya, ilusi bahasa peringatan itu tersepakati dan diakui serempak kira-kira begini: “Sahihkah merokok berakibat fatal sedemikian rupa? Tentu lebih absahnya nyatakanlah diri Anda dalam menikmati produk kami!”

Begitulah yang dimaksudkan ilusi memiliki kesan berbahaya bukan hanya terhadap fisik melainkan psikis. Menyamai konsepsi sebuah cermin, di mana ruang dalam cermin yang secara fisik tidak ada, tetap saja eksis dan seolah-olah hadir sebuah ruang lain tempat manusia mampu melihat dirinya sendiri.

Oleh karena itu, pasar tidak hendak menghadirkan bahasa itu secara faktual, melainkan atas kepentingannya ia menghadirkan retreat makna lalu mencapnya sebagai yang aktual.

Halaman selanjutnya >>>