Diponegoro Sang “Nabi” dari Jawa

Diponegoro Sang “Nabi” dari Jawa
©HM

Tidak berlebihan jika saya menggunakan istilah “Nabi” untuk menggambarkan sosok Pangeran Diponegoro. Saya tidak melihat nabi dari sisi teologi sebagaimana umumnya ulama Islam menjelaskan apa itu nabi, namun di sini saya menggunakan kacamata sosiologi untuk mengurai makna nabi dan kenabian.

Perlu diketahui bahwa makna nabi dan kenabian itu sendiri apakah berhubungan?

Menurut Max Weber (Sosiolog Klasik), seorang nabi perlu memiliki paling tidak dua unsur penanda sebagai legitimasi di masyarakat, yaitu “karisma” dan “wahyu ilahi”. Dua unsur simbol ini merupakan pembeda antara nabi dan penyihir (orang yang memiliki kekuatan magis).

Selain harus memiliki dua unsur legitimasi di atas, seorang nabi juga perlu memiliki otoritas keagamaan dan otoritas kepemimpinan.

Masih menurut Weber bahwa pemimpin yang baik akan sukses dalam memimpin jika mereka memiliki “karisma”. Karisma sendiri adalah anugerah dan karunia Tuhan sebagai suatu mukjizat yang tidak semua orang memiliki itu.

Karisma juga bisa dipahami sebagai kualitas hidup seseorang yang mampu melampaui pengalaman mistik-supranatural dan berkontemplasi mendekatkan diri pada Tuhan. Maka pada saatnya legitimasi karisma dan wahyu ilahi berfungsi sebagai pembaruan, pemulihan, dan penataan ulang dunia.

Menurut hemat saya, legitimasi karisma dan wahyu ilahi tidak cukup untuk menundukkan seseorang pada status kenabian. Pengakuan kenabian seorang tergantung pada misi Ilahi yang dibawanya dan dilanjutkan oleh para pengikutnya dengan membentuk komunitas agama, tradisi dan budaya. Dengan kata lain, membentuk organisasi sosial yang didukung dengan kekuatan politik.

Dalam sejarah Islam sendiri, Nabi Muhammad secara tidak langsung dibantu kekuatan besar yaitu Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Maka kenabian Muhammad bisa eksis sampai saat ini berkat ada tongkat estafet dari para pengikutnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa “nabi” dan “kenabian” dalam konteks ini diikat oleh latar belakang historis, budaya, sosial, ekomoni, dan politik.

Baca juga:

Melihat penjelasan di atas mengenai “nabi”, maka jika kita amati dalam sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro, ia masuk dalam kategori “nabi”. Alasan mendasarnya adalah adanya tiga ciri kenabian seperti yang diajukan Weber pada diri Pangeran Diponegoro yaitu wahyu ilahi, karisma, dan gerakan revivalisme untuk menata kembali dunia.

Maka “nabi” memimpin masyarakat untuk melawan pemerintahan kolonial. Dengan kata lain, melawan ketidakadilan dan ketertindasan kaum lemah.

Menurut Peter Carey (seorang sejarawan berkebangsaan Inggris), bahwa pada tahun 1805-1808, Pangeran Diponegoro mengalami pengalaman mistik-spiritual yang membuatnya bertemu dengan tokoh-tokoh besar seperti Sunan Kalijaga. Pertemuan dengan tokoh tersebut membuat hati Pangeran Diponegoro merasa yakin bahwa dirinyalah yang terpilih menjadi Ratu Adil, yang akan memberikan pencerahan di Tanah Jawa.

Peter Carey dalam bukunya Kuasa Ramalan mengatakan pada tahun-tahun selanjutnya keadaan keraton dan pedesaan carut marut. Sementara itu, Pangeran Diponegoro merasa mendapat wahyu terus-menerus.

Dikisahkan bahwa selama bulan Ramadan tepatnya bulan April-Mei 1825 M Pangeran Diponegoro bertemu dengan Ratu Adil yang menugaskan pada Pangeran Diponegoero untuk menaklukan Jawa dengan Al-Qur’an. Saat itu ia diberitahu bahwa Tuhan sudah menganugrahkan gelar special yaitu Erucakra yang biasanya gelar ini disandang oleh Ratu Adil.

Sebenarnya Pengeran Diponegoro mendapat penampakan sosok Ratu Adil dua kali. Pertama, ia mendapat wangsit pada 24 Mei 1824 M.

Kedua, setahun kemudian sekitar tahun 1825 M Pangeran Diponegoro pergi ke Gua Selarong disana ia mendapatkan wangsit dalam mimpinya dan bertemu dengan delapan wali. Pangeran Diponegoro memang orang yang suka berkenala mencari tempat-tempat keramat dan suci untuk menyepi dan mengolah rasa.

Pada saat Pangeran Diponoegoro memperoleh wahyu pamungkas selama bulan ramadan, kondisi sosial-politik Jawa sedang tidak baik-baik saja yang mana nanti pada puncaknya terjadi perang Jawa dan Pangeran Diponegorolah yang mempmpin perang tersebut.

Baca juga:

Ciri “kenabian” Pangeran Diponegoro beriktnya adalah kharismanya yang sangat luar biasa. Pangeran Diponegoro sangat dihormati oleh semua kalangan tidak hanya keraton tapi juga para ulama. Kharisma Pangeran Diponegoro tampak pada saat ia memimpin perang Jawa dengan gigih dan berani ia menggempur pasukan kolonial.

Selain itu Pangeran Diponegoro dipercaya memiliki kesaktian dapat terbang daan mampu mengendalikan cuaca sebagaimana dikisahakan Peter Carey dalam bukunya “Taqdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855 M.

Dengan karisma yang dimilikinya ia mampu membuat yakin para pengikutnya untuk terlebiat dalam Perang Jawa. Tidak sedikit pula pengikut Pangeran Diponegoro yang melakukan tirakat dan juga minta ijazah ketika mau perang. Adapun para pengikut Pangeran Diponegoro dalam perang diantaranya ia memperoleh dukungan dari santri, ulama, petani, dan beberapa pihak keraton.

Ciri “kenabian” yang terakhir yaitu membuat gerakan revivalisme, Pangeran Diponegoro selain perang melawan kolonial Belanda, ia juga melakukan dakwah Islam pada masyarakat. Bahkan ia juga sempat menulis Al-Qur’an yang bisa kita amati hingga saat ini di Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Tidak banyak yang tahu bahwa Pangeran Diponegoro juga seorang pengamal trariqah Naqsyabandiyah dan Syatariah yang mana dikemudian hari dua thariqah ini menjadi semangat juang melawan Belanda. Melalui kegiatan dakwah dan tariqah ini Pangeran Diponegoro berusaha membentengi ajaran Islam dari pengeruh Kolonial dan imperialism Barat.

Itulah ketiga ciri “kenabian” Pangeran Diponegoro. Sebnarnya di Jawa ini masih banyak tokoh lain yang selevel dengan Pangeran Diponegoro menduduki “kenabian” misal seperi Raden Ngabehi Ronggo Warsito, Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Panembahan Senopati, Ki Ageng Mangir, Ki Ageng Tirtayasa, Pangeran Purboyo dan masih banyak lagi.

Mereka ini dikenal sebagai orang yang weruh sak durunge winarah (melihat sesuatu sebelum terjadi) dan sering menerima wangsit atau sasmita (wahyu ilahi).

Referensi:
  • Al Makin. (2017). Nabi-Nabi Nusantara: Kisah Lia Eden dan lainya. Yogyakarta: SUKA-Press.
  • Peter Carey. (2011). Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Jakarta: Gramedia.
  • Max Weber. (1925, 1978). Economy and society: An outline of interpretative sociology. Berkeley, CA: University of California Press.
Ferry Fitrianto
Latest posts by Ferry Fitrianto (see all)