Disertasi: Seks di Luar Nikah Adalah Hak, Tidak Ganggu Siapa pun

Disertasi: Seks di Luar Nikah Adalah Hak, Tidak Ganggu Siapa pun
©Soflex

Nalar Politik – Beberapa hari belakangan, disertasi yang Abdul Aziz tulis untuk program doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta cukup menghebohkan publik. Hal itu lantaran disertasinya yang berjudul Konsep Milk Al Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Nonmarital memuat penegasan bahwa seks di luar nikah tidak langgar syariat; adalah hak, tidak mengganggu siapa pun.

Sebagaimana dilansir Harian Jogja, konsep Milk Al Yamin memang dapat digunakan sebagai pemantik munculnya hukum islam baru. Konsep ini memungkinkan perlindungan hak asasi manusia dalam hubungan seks di luar nikah atau nonmarital secara konsensual.

“Aziz mengatakan, ulama seperti Imam asy Syafii dan Imam at Tabari memahami Milk Al Yamin sebagai hubungan seksual nonmarital dengan budak perempuan melalui akad milik.”

Adapun Muhammad Syahrur, sebagai pengkaji konsep itu, menemukan setidaknya 15 ayat Alquran tentang Milk Al Yamin yang masih eksis hingga kini. Penelitiannya didasarkan pada pendekatan hermeneutika hukum dari aspek filologi dengan prinsip antisinomitas.

“Hasilnya, Milk Al Yamin, prinsip kepemilikan budak di masa awal islam, tidak lagi berarti keabsahan hubungan seksual dengan budak. Dalam konsep modern, hal itu telah bergeser menjadi keabsahan memiliki partner seksual di luar nikah yang tidak bertujuan untuk membangun keluarga atau memiliki keturunan.”

Saat ini, konsep ini bisa disebut “kawin kontrak” atau hidup bersama dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan.

Meski demikian, tekan penulis disertasi, Abdul Azis, konsep Milk Al Yamin yang Shahrur kembangkan tidaklah semata membenarkan seks bebas.

“Ada berbagai batasan atau larangan dalam hubungan seks nonmarital, yaitu dengan yang memiliki hubungan darah, pesta seks, mempertontonkan kegiatan seks di depan umum, dan homoseksual.”

Walau hubungan seksual marital-nonmarital sejatinya adalah hak asasi manusia yang mesti negara lindungi, tetapi dalam tradisi fikih islam, hanya hubungan seksual maritallah yang dipandang sebagai hubungan legal.

Yang terjadi kemudian adalah munculnya wabah mengerikan berupa kriminalisasi hubungan seksual nonmarital yang dilakukan secara konsensual.

“Saya miris sekali melihat banyak kriminalisasi kepada mereka yang melakukan hubugan seksual nonmarital konsensual. Misalnya, hukum rajam di Aceh sambil diarak dan penggerebekan di ruang tertutup.”

Padahal, yakin Aziz, mereka sebenarnya tidak merugikan siapa pun.

“Itu (penggerebekan dan kriminalisasi) mengganggu hak asasi. Karena stigma, mereka jadi dikriminalisasi.”

Maka kenapa Azis bersikukuh mempertahankan hasil penelitian untuk disertasinya. Meski pihak kampus sudah memperingatkan akan bahaya ke depan, ia tetap maju dan melanjutkan.

“Saya memutuskan tetap melanjutkan disertasi itu karena saya benar-benar miris oleh fenomena yang saya sebutkan tadi. Selain itu, hukum islam sudah lama stagnan, pasti ada yang harus diperbarui, ada dinamika. Saat diberitahu soal risiko akan kontroversial, saya tentu sudah mempersiapkan semuanya.” [hj]

Baca juga: Tentang Cania dan Isu Seksualitas di Indonesia