Distingsi Sehat-Sakit dalam Dimensi Pemikiran

Distingsi Sehat-Sakit dalam Dimensi Pemikiran
Foto: Google Plus

Di masa lalu, persoalan sehat-sakit acap dipandang dalam dimensi hitam-putih. Bahwa kesehatan adalah lawan dari penyakit, atau kondisi yang terbebas dari penyakit. Dan hal ini memang dapat kita terapkan secara lebih mudah. Tetapi ia mengabaikan adanya rentang sehat-sakit.

Secara prinsip, pembangunan kesehatan adalah satu dari sekian banyak pembangunan berskala nasional. Ia diarahkan guna mencapai kesadaran, kemauan, serta kemampuan untuk hidup sehat bagi masyarakat (warga negara).

Memang, konsep sehat-sakit tidaklah terlalu mutlak dan universal. Ada faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya, yakni faktor sosial budaya. Menurut banyak ahli, terutama dalam dimensi pemikiran filsafat, masalah sehat dan sakit adalah proses yang sangat berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan seseorang beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Baik secara biologis, psikologis, maupun sosial budaya.

***

Kondisi sehat adalah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit. Akan tetapi, kondisi ini juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, seperti aspek fisik, emosi, sosial, dan spiritual.

Menurut WHO (1947), kondisi sehat dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sempurna, baik secara fisik, mental, dan sosial. Hematnya, kondisi sehat tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.

Dari definisi di atas, dapat tersimpulkan beberapa karakteristik di mana ia mampu meningkat konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle, 1994). Beberapa di antaranya adalah memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh; memandang sehat dengan mengindentifikasi lingkungan internal dan eksternal; serta penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Melalui pengertian ini, maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan utuh, yang terdiri dari unsur-unsur fisik, mental, dan sosial. Di dalamnya pun termasuk kesehatan jiwa sebagai bagian integral daripada kesehatan.

Dalam pengertian yang paling luas, kondisi sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis. Individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internalnya (psikologis, intelektual, spiritual, dan penyakit) dan eksternal (lingkungan fisik, sosial dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

***

Di zaman klasik, ilmu kesehatan didasarkan pada filsafat alam. Sebagai contoh, ilmu kedokteran Cina mendasarkan fenomena sehat-sakit pada filsafat pergerakan lima unsur di alam. Namun demikian, cukup banyak pula penemuan berdasarkan pengalaman dan percobaan yang banyak manfaatnya dalam ilmu pengobatan.

Menurut ajaran filsafat dari Cina (Taoisme), sehat adalah gejala ketidakseimbangan antara unsur “yin” dan “yang”, baik antara manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos), maupun unsur-unsur yang ada pada kehidupan di dalam tubuh manusia sendiri.

Bahwa sifat “yin” dan “yang” itu memang saling berlawanan. Tetapi keduanya saling menghidupi, saling mengendalikan, pengaruh-memengaruhi, serta membentuk sebuah kesatuan yang dinamis (harmonis). Sebagai contoh, lelaki-perempuan, panas-dingin, terang-gelap, aktif-pasif, dan sebagainya. Hematnya, seseorang akan dikatakan sakit jika terjadi ketidakseimbangan antara “yin” dan “yang”.

Lebih lanjut, perkembangan pengetahuan di bidang fisika dan biologi di akhir abad 20 telah ikut memengaruhi paradigma keilmuan dewasa ini. Dalam hal ini di wilayah kedokteran, pandangan terhadap manusia yang terlalu mekanistik dan dikotomik, yang memisahkan antara fisik dan psikis, telah bergeser menjadi lebih bersifat spiritual dan memandang manusia secara holistik dan seimbang. Hal ini jelas berpengaruh, terutama di wilayah bioetika.

Ya, kecenderungan bioetika sebelumnya yang lebih bersifat sekuler, otonom, dan pluralistik, hari ini, lebih disesuaikan dengan prinsip etika yang memperhatikan perspektif spiritualitas. Dengan adanya penemuan berbagai jenis kecerdasan pada manusia, seperti kecerdasan emosional dan spiritual, di samping intelektualitas, mendorong pendekatan pandangan tentang eksistensi manusia dalam beragam aspeknya.

Dalam filsafat Islam sendiri, berkembang sebuah aliran yang disebut sebagai teosofi. Dalam aliran ini, holisme kembali ditegaskan karena gagasannya tentang sifat ambigu eksistensi (tasykik) dan gerak substansial (al-harakah al-jawhariyah). Yakni, bahwa keberadaan manusia senantiasa berada di antara satu tingkat dan tingkat lainnya dalam tangga keberadaan—bergerak dari yang sepenuhnya bersifat fisik dan material hingga ke yang sepenuhnya bersifat ruhaniah. Dan bahwa sesungguhnya tak ada batas yang memisahkan keberadaan fisikal dengan yang bersifat mental, psikologis, maupun ruhaniah (spiritual).

***

Distingsi sehat-sakit senantiasa berubah sejalan dengan pengalaman manusia tentang nilai, peran, penghargaan, dan pemahamannya terhadap kesehatan. Hal ini bermula dari dulu bahwa sehat itu adalah sesuatu yang dibanggakan sedang sakit adalah yang tidak bermanfaat.

Filosofi yang berkembang hari ini adalah filosofi Cartesian yang berorientasi pada kesehatan fisik semata. Ia menyatakan bahwa seseorang disebut sehat apabila tidak ditemukan adanya disfungsi alat tubuh. Bahwa mental dan roh bukan urusan dokter, melaikan urusan di wilayah agama.

Tetapi, setelah ditemukan kuman penyebab penyakit, batasan tentang sehat pun berubah. Seseorang disebut sehat apapila setelah diadakan pemeriksaan secara seksama tidak ditemukan penyebab penyakit. Hematnya, baik definisi yang diberikan WHO maupun dalam UU Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992, telah dimasukkan unsur hidup produktif sosial dan ekonomi dalam hal kesehatan—sebuah konsep sehat produktif. Bahwa sehat adalah sarana atau alat untuk hidup sehari-hari secara produktif.

Dan, setelah tahun 1974, terjadi penemuan kembali atas makna sehat. Hal ini menjadi pertanda dimulainya era kebangkitan kesehatan masyarakat baru. Karena sejak tahun 1974 ini, terjadi diskusi intensif yang berskala nasional dan internasional tentang karakteristik, konsep, dan metode guna meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan bagi masyarakat (baca: Sistem Upaya Pelayanan Kesehatan Dasar menurut Deklrasi Alma Ata, 1978).

Demikianlah seluk beluk kesehatan dalam dimensi pemikiran. Semoga dapat memberi manfaat, paling tidak sebagai rujukan dalam menelaah distingsi sehat-sakit yang selama ini tersalahkaprahkan secara tradisional.

*Diolah dari berbagai sumber

Mimin NP
Latest posts by Mimin NP (see all)