Ditempa di Meja Makan

Ditempa di Meja Makan
Foto: Net

Transmisi pendidikan moral dan wejangan di meja makan akan lebih sempurna karena konsentrasi masih segar.

Umumnya, anak-anak kecil memperoleh transmisi pendidikan moral, wejangan, dan nasihat di malam hari sebelum tidur. Tapi sistem pendidikan yang berlaku di keluarga kami cukup berbeda. Di kamar tidur, kami hanya bermain-main seperti kuda-kudaan dengan diselingi soal tanya-jawab.

Khusus wejangan dan pengajaran dari bapak, dilakukan di meja makan. Karenanya, saya sendiri dan 3 adik kandung, masing-masing Basuki Tjahaja Purnama, Fifi Lety, dan Harry Basuki, selalu diwajibkan makan bersama dengan posisi duduk yang sama dari hari ke hari.

Bapak memiliki alasan tersendiri menempa kami dengan wejangan dan pengajaran di meja makan. Bapak berpendapat bahwa jika dilakukan di tempat tidur, kami putra-putrinya cenderung tidak konsentrasi karena sudah bersiap-siap untuk tidur. Sedangkan transmisi pendidikan moral dan wejangan di meja makan akan lebih sempurna karena konsentrasi kami masih segar.

Tema-tema perbincangan di meja makan mulai dari kisah Tiongkok kuno sampai semua masalah aktual yang dihadapi rakyat. Dalam kesempatan itu pula, bapak selalu menyampaikan harapan-harapannya kepada kami putra-putrinya jika kelak telah dewasa.

Di antaranya, yang masih tertanam dalam benak saya hingga saat ini, bapak sering mengatakan bahwa ia tidak akan mewariskan harta berupa uang kepada kami. Alasannya, kalaupun kami memiliki uang berlimpah dan disebut orang kaya, maka uang itu akan lenyap seketika jika dirampok. Tetapi jika kami terdidik dan memiliki nama baik, maka itulah harta sejati yang tidak bisa diambil oleh siapa pun.

Pernyataan yang diungkapkan bapak itu sangat mengena di hati kami. Itu sebab kami semua anak-anaknya sangat ‘ngotot’ mengejar ilmu setinggi mungkin melalui pendidikan sekolah.

Semangat kami cukup tinggi, terlebih karena orangtua kami tidak hanya mendorong secara moral, tetapi juga bersedia berusaha sekuat tenaga untuk membiayai kami bersekolah.

“Jika perlu, ‘menjual kepala’ pun saya lakukan untuk mendapat biaya sekolah kalian semua,” begitu bapak selalu mengatakan kepada kami putra-putrinya.

Dukungan moral dan usaha sungguh-sungguh guna mendapatkan biaya pendidikan kami juga dilakukan oleh ibu Buniarti Ningsih. Beliau selalu menyisihkan uang untuk dibelikan emas 24 karat sebagai tabungan buat kelak biaya pendididikan kami anak-anaknya.

Langkah ibu ini sempat mengundang tertawaan orang-orang yang mengetahui motivasi ibu saya menyimpan uang dengan cara membeli emas. Pasalnya, saat itu kami putra-putrinya masih kecil dan belum satu orang pun yang masuk sekolah.

Tapi ibu yang memiliki pendirian teguh dan memiliki pandangan yang jauh ke depan, tak menghiraukan tertawaan orang-orang di sekitarnya. Yang penting, baginya, kelak semua anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan setinggi mungkin. [sumber]

Ahoker
Latest posts by Ahoker (see all)