Ditunggangi Partai Politik, Aliansi Gerakan Cinta Guru: Itu Klaim Sepihak!

Ditunggangi Partai Politik, Aliansi Gerakan Cinta Guru: Itu Klaim Sepihak!
Hairil Amri, Ketua Ikama Sulbar Yogyakarta | Foto: Aliansi Gerakan Cinta Guru

Nalar PolitikAksi demonstrasi Aliansi Gerakan Cinta Guru di Sulawesi Barat pada Kamis (19/7), dikabarkan ditunggangi partai politik. Isu tersebut beredar pasca viralnya salah satu posting-an oknum berinisial A yang mengaku bahwa aksi kedua dari gerakan di Sulbar ini adalah bagian dari agenda politiknya.

Tudingan “kotor” terhadap Aliansi Gerakan Cinta Guru pun menebar. Banyak pihak merasa kecewa lantaran gerakan sosial yang harusnya murni dari kesadaran sosial, tetapi ternyata hanyalah “pesanan”.

Menanggapi itu, para aktivis Aliansi Gerakan Cinta Guru pun marah besar. Pihaknya lalu mengadakan konferensi pers guna meluruskan tudingan miring terhadap aksi gerakan mereka. Bahwa klaim sepihak itu tak ubah sebagai pencemaran nama baik gerakan.

“Ini lagi booming di media sosial, gerakan kami diklaim sepihak. Padahal kami bergerak murni dari hati nurani. Ini bentuk kepedulian kami terhadap guru-guru kami,” terang Ahyar, Koordinator Aliansi Gerakan Cinta Guru, dalam konferensi pers yang berlangsung di salah satu warung kopi wilayah Mamuju, Sulbar, Jumat (20/7).

Seperti akunya, gerakan mereka sama sekali tidak diintervensi atau digerakkan oleh eknum-oknum tertentu. Gerakan mereka tidak ditunggangi partai politik mana pun. Sekali lagi, itu hanyalah klaim sepihak saja dari oknum yang tak bertanggung jawab.

“Aksi ini adalah gerakan sosial. Kepedulian dan kepekaan sosial yang kami miliki sebagai mahasiswa tumbuh dari dalam diri kami sendiri, bukan pesanan. Itulah yang menjadi dasar kami memperjuangkan hak guru-guru, dalam hal ini hak-hak (gaji yang tak terbayarkan) GTT dan PTT,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan Irwan Hadi Saputra, Ketua Komisariat STIE Mamuju PMII. Menurutnya, pengklaiman atas gerakan yang mereka bangun adalah bentuk pelecehan paling parah.

“Aksi kemarin itu murni karena Allah. Kami berjuang bersama masyarakat, kami berjuang bersama guru-guru kami. Karena kami paham, kami tidak akan pernah duduk di bangku kuliah kalau bukan karena guru. Jadi kami mengutuk oknum yang mengklaim dirinya sebagai orang yang mengendarai kami dalam aksi ini,” tegasnya.

Menangkis Isu Miring

Adapun agenda konferensi pers menyusul aksi pengklaiman itu, menurut Aliansi Gerakan Cinta Guru, adalah semata upaya menangkis isu miring yang tengah menyebar hebat di media sosial. Ini penting mereka tegaskan sebab gerakan apa pun yang ditunggapi partai politik, maka itu akan ditanggapi secara politis pula.

“Tentu akan dilihat secara politis. Sehingga gerakan yang tadinya murni dibangun oleh mahasiswa bersama GTT dan PTT itu pasti akan dilihat sebagai gerakan politik kalau ada satu oknum politikus yang mengklaim gerakan kami,” lanjut salah satu penggerak aksi dari GMNI.

“Maka dari itu, kami melakukan konferensi pers ini untuk memperlihatkan kepada masyarakat, khusus pengguna media sosial, bahwa gerakan yang kami bangun itu sebenarnya murni dari kesadaran kami. Ini bersumber dari hasil diskusi, pembicaraan, serta interaksi dari pihak korban secara langsung,” sambungnya.

Melalui konferensi pers, mereka hendak membuktikan bahwa isu miring yang beredar di luar sana sama sekali tidak benar. Gerakan mereka ditunggangi partai politik hanyalah pengklaiman sepihak. Sebab, bagi mereka, semuanya murni berdasar dari kesadaran kaum terdidik.

“Ya, kami tidak akan terdidik tanpa adanya guru. Guru adalah pahlawan tanpa jasa. Itu sebabnya kami aksi. Dan tanpa harus dibayar sekalipun, ini sudah menjadi kewajiban kami,” tegasnya lebih lanjut.

Terkait aksi, sebagaimana juga diterangkan Hairil Amri selaku Ketua Umum Ikama Sulbar Yogyakarta, adalah satu kewajiban moral kaum terdidik. Apalagi guru sampai diintimidasi di mana posisinya senantiasa harus dimuliakan.

“Ketika guru diintimidasi, maka kaum yang merasa terdidik wajib untuk turut membela. Terlebih ketika hak-hak mereka, guru-guru, yang seharusnya diterima, tidak juga terealisasi sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Maka, dengan konferensi pers kali ini, lanjut Hairil, pihaknya ingin menepis isu yang berkembang.

“Supaya tidak ada lagi tudingan miring terhadap gerakan kami. Karena itu akan sangat mematikan bagi gerakan, di mana pun itu.”

Tak lupa ia juga mengingatkan agar OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait, termasuk Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar sebagai Kepala Daerah, punya komitmen terhadap MoU yang sudah mereka bangun bersama.

“Tidak bisa lepas tangan. Gubernur, selaku Kepala Daerah, wajib hadir dan komitmen pada kesepakatan kemarin,” pungkasnya.

___________________

Artikel Terkait: