Dosen Asing di Kampus Tanah Air

Dosen Asing di Kampus Tanah Air
Foto: freemagz.com

Nalar WargaSaya mau ikutan bahas topik dosen asing ini. Sekitar 13 tahun saya berkarier di dunia akademik Australia. Semoga pengalaman saya sejak post-doc sampai menjadi dosen tetap di negeri Kangguru bisa jadi bekal untuk sedikit berbagi cerita.

Saya tentu mendukung upaya pemerintah RI untuk meningkatkan kualitas dunia perguruan tinggi di Tanah Air, baik dari sudut teaching maupun research. Tetapi, apakah perekrutan dosen asing merupakan jawabannya?

Jawabannya bisa iya dan tidak. Tergantung seberapa serius pemerintah mempersiapkan program ini, serta seberapa jauh pemerintah melihat dan menjawab akar persoalannya.

Menurut saya, perekrutan dosen asing untuk bekerja di Tanah Air harus melalui proses seleksi yang ketat dan sesuai dengan kebutuhan kampus di Tanah Air. Tidak bisa asal comot. Mentang-mentang bule, terus dianggap lebih berkualitas dibanding dosen lokal?

Ini agar jangan sampai TKA yang bekerja sebagai dosen di Tanah Air hanyalah kualitas buangan yang tidak laku di negaranya. Itulah yang terjadi di banyak negara Asia dan Timur Tengah. Jangan sampai terulang di Tanah Air.

Kita tidak mau pengalaman sepakbola Indonesia terulang kembali di mana sejumlah klub hanya merekrut pemain asing terkenal yang sudah di penghujung kariernya. Tidak perlu saya sebut nama pemain dan klub bolanya. Jangan sampai dunia pendidikan juga seperti itu.

Saya jadi dosen di Australia berkompetisi dengan ratusan pelamar dari seluruh dunia. Saya ikuti semua proses seleksi, dari mulai melamar memenuhi kriteria, tahap interview, presentasi/mengajar, sampai cek surat referensi.

Begitu pula tidak ada perbedaan gaji maupun fasilitas antara saya sebagai pelamar asing dengan dosen lokal orang Australia. Semua yang lolos seleksi diperlakukan sama. Tidak ada diskriminasi. Kewajiban dan haknya sama.

Kalau dosen asing mau dibayar 60 juta per bulan di Tanah Air, saya usul, dosen lokal di Tanah Air juga harus mendapatkan gaji dan fasilitas yang sama. Tidak boleh ada diskriminasi.

Jadikan program dosen asing ini sebagai pintu memperbaiki kualitas dan birokrasi kampus di Tanah Air. Kalau keberadaan dosen asing tidak dibarengi dengan perubahan internal, maka hasilnya tidak akan berefek.

Pembenahan Sistem

Selama ini, birokrasi kampus kita luar biasa njelimet dengan beban SKS yang berat dan birokrasi yang rumit. Apakah mau dosen asing juga dikenai aturan yang njelimet itu? Terbukti, aturan njelimet itu tidak bisa membuat dosen lokal produktif berkarya.

Saya khawatir, kalau ini tidak dibenahi, maka dosen asing yang bekerja di Tanah Air, dengan gaji yang fantastis itu, malah jadi mandul dan tidak produktif berkarya kalau harus terkena aturan yang njelimet di kampus Tanah Air. Membebaskan mereka dari aturan, ini namanya diskriminasi.

Ibaratnya, kalau Messi dan Ronaldo main di klub-klub bola Tanah Air tanpa perbaikan sistem internal, maka kedua pemain top dunia ini bisa mandul mencetak gol. Jangan-jangan bakal patah kaki mereka.

Banyak yang menyangka iming-iming menjadi dosen di luar negeri itu karena gaji dollar. Bukan cuma itu sebenarnya. Yang lebih penting justru iklim akademik yang kondusif yang ditawarkan kampus top dunia. Ini yang harus dipahami pemerintah RI.

Dosen di luar negeri mengajar hanya 6-9 jam per minggu. Selebihnya, kami riset. Tidak banyak waktu terbuang untuk urusan administrasi seperti pengisian borang dan lain-lain. Urusan teknis di-support oleh pihak admin kampus.

Saya hanya wajib berada di kampus Monash University pada hari saya mengajar. Tidak ada absensi kehadiran apalagi pakai sidik jari segala. Di luar jam mengajar, saya membimbing disertasi mahasiswa atau menulis paper untuk buku.

Suasana kondusif mengajar dan meneliti ini yang harus diperbaiki dulu sebelum program 60 juta bayar dosen asing bisa berjalan mulus di Tanah Air. Tanpa perbaikan internal dan persiapan matang, program ini tidak bakal berefek.

Jangankan cuma 60 juta, warga Indonesia yang sudah mapan menjadi dosen di luar negeri dibayar 100 juta per bulan pun akan mikir-mikir mau balik mengajar ke Tanah Air. Itu karena sistem birokrasi kampus yang tidak kondusif, sulit membuat kami produktif berkarya.

Tanpa perbaikan dan pembenahan sistem, rekrutmen dosen asing hanya akan mendatangkan “orang bule buangan” yang mereka sendiri tidak terpakai di negaranya. Dan ini hanya akan timbulkan kecemburuan dosen lokal akan gaji dan fasilitas yang diberi ke dosen asing.

Menggenjot publikasi riset itu bukan dengan mengadopsi gaya sepakbola kita yang merekrut pemain asing tanpa membenahi sistem pembinaan pemain lokal sendiri. Hasilnya tidak akan berefek, kan?

Uang negara akan habis merekrut dosen asing. Sementara tujuan menggenjot angka publikasi riset tidak akan tercapai apabila kita fokus dengan gaya “pemain cabutan”. Sebaliknya, jadikan program dosen asing ini sebagai pembuka pintu masuk pembenahan dunia pendidikan kita.

Sementara ini dulu. Sekadar berbagi cerita dan masukan untuk pemerintah RI.

*Nadirsyah Hosen

___________________

Artikel Terkait: