Duka Mawar Hitam

Duka Mawar Hitam
©Google

Kini, luka sudah tidak lagi menjadi duka
Derita di sapu habis tangis lara
Sampai luka ini membiru,
Memendam luka yang lama membuat pilu

Lihat mawar hitam itu,
Sayat duka terbenam dalam irama cinta
Hingga tak temui celah tuk mengelakkannya

Sungguh, layu menjadi pilihan hati
Saat luka menjelma duri di dalam sanubari
Karena oase memilih pergi dengan menyisakan rindu dan ragu,
Saat itu mawar hanya membisu tertusuk duri ditelan hitam debu

Lumajang, 14 April 2021

Robusta Aroma Cinta

Mari berbasa-basi
Dengan suguhan cinta di dalam kopi
Melepas kepul rindu di balik cangkir panas ini
Menuang rasa hanya dari tatap mata saja
Mengecap cinta di dalam aroma robusta
Sembari menikmati suara kasih sayang dari angkringan pinggir jalan
Menyusuri jalan malam menuntaskan perasaan
Menyelesaikan tuntutan rindu di bawah cahaya lampu jalan
Dan berakhir menulis kisah untuk diabadikan

Lumajang, 17 April 2021

Permainan Diksi

Katanya,
Jangan menoreh luka kepada hati pujangga
Atau kau akan abadi dalam tulisannya

Jangankan luka, memberi kesan sedikit saja akan abadi dalam frasa
Hanya mengabadikan rasa dalam bahasa saja,
Bermainan dengan diksi sebagai pelipur lara
Bekerja dalam keabadian sebagai punggawa cinta
Mendikte setiap inci rasa agar teraba makna
Siapa tahu mungkin ada yang selaras dengan sajaknya

Ini semua tentang dama yang kini memilih gata saat Chandra redup cahaya
Ingin memilih pergi namum cinta tak sebatas ancala
Karena anantara luka dan rasa hanya tersekat segaris hawa
Dan sang pemberi luka satu dengan yang kama hingga semua rasa menjadi eunoia

Lumajang, 20 April 2021

Salam Semalam

Sampaikah salam semalamku?
Aku mengungkap rindu kepada senyap yang syahdu
Membisik rasa di balik berisik jangkrik
Melukis cinta di pekat gulita
Agar kasih sayang nyaman dalam tenang
Disimpan malam dalam doa dan harapan
Karena sampai sekarang waktu memilih bungkam
Berkonspirasi dengan malam merahasiakan

Namun angin dengan curang merekam semua rasa
Sembari menyapu bibirku saat lirih menyebut namamu
Lalu menceritakan kepada purnama dan hujan untuk turut menyampaikan
Hingga salam direngkuh bulan dan hujan menjadi angin malam

Jika purnama dan hujan bersama,
Saat itu seluruh salamku yang terdahulu turut menuntut untuk menuntaskan rindu

Lumajang, 16 April 2021

Cinta dalam Duka

Dua cangkir yang sama di tempat yang berbeda
Dua cangkir yang sama dengan rasa yang berbeda
Dua malam yang sama namun ricuh yang berbeda
Dua dingin yang sama dengan hangat yang berbeda

Semuanya berbeda,
Namun cinta masih kokoh bertakhta
Bahkan saat semat yang senyap
Putih yang kini pekat
Rasa yang membuat celaka
Dekat yang hampa
Cinta yang menjadi luka
Tawa yang duka
Dasar yang curam
Sempit yang membentang
Dangkal yang tenggelam
Semuanya masih sama, terkalahkan oleh dama

Selamat malam, tuan
Kali ini cangkirku tak mampu menampung segala riyuh dalam hatiku.
Kalau kamu?

Lumajang, 29 Juli 2020

Seroja Ainun Nadhifah
Latest posts by Seroja Ainun Nadhifah (see all)