Edukasi dari-Mu untuk-Ku

Edukasi dari-Mu untuk-Ku
©Orbit Indonesia

Edukasi dari-Mu untuk-Ku

Sebuah refleksi hikmah dari ko, sa, dan dia.

Kapan wisuda? Apakah kuliah sambil kerja? Nah, kebetulan saja. Tapi tindakan Anda itu hanya ingin pergi.

Di sini saya punya opini singkat tentang hikmah seusai mentorku di kala bersama dirinya. Tidak sedikit orang yang mengeluh dan bertanya-tanya, kapan wisuda, kapan kerja dan kapan kita nikah. Setelah beberapa bulan lalu, itu berakhir?

Ungkapan pertanyaan tersebut tidak jarang disampaikan secara emosional. Mungkin karena merasa jenuh, merasa terbelenggu dengan situasi dan tak sebebas ketika belum ada ujiannya tak tercapai. Tidak jarang pula orang langsung berspekulasi bahwa sang waktu itu hanya dibuat dan merupakan konspirasi.

Terima kasih! Oke-oke saja dan tidak ada yang melarang ketika kita berspekulasi. Yang menjadi masalah, ketika kita sibuk mempertahankan opini yang sifatnya spekulatif dan berdebat yang tiada berujung, tetapi justru malah melunturkan tak punya apa-apa kita terhadap situasi sehingga kita menjadi abai terhadap kondisi keberadaan, yakni adanya tak pantas, miskin tak punya segalanya, ada apa, dan ada apanya yang sangat berbahaya bagi tong yang tak punya, manusia yang punya batasnya.

Padahal susah dan senang itu ada merupakan fakta yang mengabaikan suatu perilaku modern yang memiliki hukuman karma. Berdasarkan data, sudah banyak yang tra nyaman karena perilaku modern yang namanya cinta kekayaan, baik itu masyarakat biasa maupun kepada birokrasi pemerintahan.

Oleh karena itu, kita harus lupa mencintai seseorang itu dengan setulus hati, kesadaran bersama dan jangan sampai abai terhadap keberadaaan cinta kerajaan dan sebentar cintamu itu diabaikan ketika sang kekasihnya tra punya apa-apa. Kita harus peduli secara bersama-sama untuk memutus mata rantai ketidakadilan seseorang terhadap ego tersebut.

Dalam situasi seperti ini, yang tiada kepastian kapan kerja pun wisuda seperti saat ini, kita memang harus sabar. Yang kita hadapi dan kita lawan adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang, yakni cinta setulus hati. Kata kuncinya adalah sabar untuk menghadapinya. Di samping itu, kita harus tetap optimis bahwa kesetiaan terhadap suatu objek ini pasti akan berakhir dan kita harus mengambil hikmah dari peristiwa ini.

Di balik ujian pun gagal, pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Itu ungkapan yang sudah sering kita dengar dari petuah orang-orang bijak. Begitu pula dengan kesetiaan ini, jika kita mau bersabar, menghilangkan ego dengan sikap rendah hati dan mau instropeksi, tentu banyak hikmah yang bisa kita petik.

Baca juga:

Adapun hikmah yang bisa kita petik dari ego karma adalah sebagai berikut. Pertama, kita menjadi sadar bahwa manusia di bumi ini terasa kecil, lemah, dan tak berdaya menghadapi kuasa Tuhan yang sebenarnya. Cinta kekayaan sering diujikan pun ketidakadilan cinta merupakan salah satu bukti kemahakuasaan Tuhan.

Kita sebagai manusia tak sepantasnya berwatak sombong, merasa hebat, paling pandai, paling tahu segalanya, ingin punya segalanya, pengen lelaki yang punya segalanya, dan paling kuasa sehingga tidak mau menerima kebenaran pihak lain, atau bahkan malah mengecilkan dan meremehkan pihak lain. Oleh karena itu, kita sebagai manusia hendaklah berpikir logis, selalu mengedepankan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, dengan adanya ketidak salahpahaman bisa dipakai sebagai bahan instropeksi terhadap integritas diri kita masing-masing. Kita bersama-sama bisa melihat diri kita sendiri-sendiri, apakan diri kita termasuk orang yang mempunyai kepedulian atau malah sebaliknya kita menjadi manusia yang acuh tak acuh, cuwek, tidak berdisiplin, tidak sabar, dan malah mengabaikan aturan yang ada. Dan masih banyak lagi.

Ketiga, bahwa masalah sesulit apa pun bisa diselesaikan asal kita ada kesadaran bersama untuk saling pun bahu membahu mengatasi masalah. Ini seperti adanya ketidakpastian yang kita alami bersama. Ketidakpedulian ini bisa selesai atau minimal bisa ditekan, kalau kita bersama-sama mempunyai kesadaran untuk memutus mata rantai karma kita dengan cara menghargai, menyayangi, dan menghilangkan rasa ego atau menjaga perasaan ego.

Keempat, dengan adanya penyakit egoisme seperti ini, kita menjadi terlatih untuk hidup berdisiplin. Dengan kita patuh mentaati kesetiaan, menjaga perasaan, dan menjaga wibawa tentu kita akan terbiasa hidup berdisiplin menjaga kesetiaan sehingga akan meningkatkan kualitas hidup kita.

Kelima, tumbuhnya sikap religiusitas, yaitu selalu berdoa untuk keselamatan diri, dan keluarga, serta terbiasa bersyukur di tengah-tengah ketidakadilan rasa ego yang mematikan ini karena diri kita terhindar dari ego yang mematikan tersebut.

Keenam, dengan adanya penyakit ketidakadilan, kita diminta menjaga diri dari penyakitnya tersebut dengan cara tetap berada ketulusan kalaupun memang tidak terpaksa harus pergi karena ada suatu keperluan yang sangat penting.

Bahkan, dengan penyakitnya ego ini kita diminta sabar dan menjaga kesetiaan kita dengan apa adanya. Karena ketidakadilan yang selama ini kehidupannya bagaikan mesin, mendapatkan momentum kehangatan, yakni bertemu bersama untuk saling curhat, atau hanya sekedar untuk bercanda.

Halaman selanjutnya >>>
Mr. Kakiabuu
Latest posts by Mr. Kakiabuu (see all)