Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019

Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019
©Gramedia

Nalar Politik – Eka Kurniawan, penulis asal Indonesia, menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ia memutuskan tidak akan datang di acara tersebut, yang rencananya berlangsung besok, 10 Oktober 2019.

“Saya tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan, bahkan cenderung represif,” kata Eka, Rabu (9/10).

Eka Kurniawan menjelaskan, negara tidak sungguh-sungguh memiliki komitmen dalam memberi apresiasi kepada kerja-kerja kebudayaan anak bangsa sejauh ini. Itu terindikasi dari, salah satunya, maraknya pemberedelan toko-toko buku yang dinilai menjual karya-karya terlarang.

“Kita tahu, itu kasus yang sering terjadi, dan besar kemungkinan akan terjadi di masa depan. Bukannya memberi perlindungan kepada perbukuan dan iklim intelektual secara luas, yang ada justru negara dan aparatnya menjadi ancaman terbesar.”

Belum lagi soal ketidakberdayaan industri perbukuan, terutama para penerbit kecil dan para penulis, yang terus menjerit lantaran masifnya pembajakan buku. Ditambah pajak dari perbukuan, yang membuat buku terasa mahal bagi daya beli masyarakat kebanyakan, maka lengkaplah bagi Eka untuk menyebut negara benar-benar tidak pernah hadir demi kebudayaan.

“Sudah selayaknya negara memberi perlindungan. Jika perlindungan kebebasan berekspresi masih terengah-engah (ilustrasi: gampang sekali aparat merampas buku dari toko), setidaknya negara bisa memberi perlindungan secara ekonomi. Meyakinkan semua orang di industri buku hak-haknya tidak dirampok.”

Atas dasar itulah Eka Kurniawan menarik kesimpulan, negara tidak punya komitmen melindungi para seniman dan penulis, bahkan siapa pun, atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan.

“Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar.”

Ia pun sadar, suaranya itu mungkin akan terdengar sayup-sayup, bahkan mungkin akan terdengar arogan. Tetapi negara, di mata Eka, telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan selama ini.

“Terima kasih sekaligus permohonan maaf untuk siapa pun yang telah merekomendasikan saya untuk anugerah tersebut,” tutup Eka. [fa]

Baca juga: