Ekonomi Umat

Ekonomi Umat
Ilustrasi: republika

Ekonomi umat harus diutamakan dari segalanya mengingat masalah ekonomi dalam Islam menjadi fondasi dan penentu corak keberagamaan seseorang.

Kita sedang hidup di dunia yang begitu kompleks, dunia nyata, di mana kerja keras menjadi syarat mutlak agar kita bisa survive.

Saya masih ingat dengan buku Agama Pelacur, ditulis rektor perguruan tinggi di Surabaya Prof. Dr. Nur Syam, M.Si. Buku yang sangat kontroversial waktu itu diangkat dari hasil penelitian panjang. Sejatinya tidak bisa dibantah lagi karena memang fakta di lapangan demikian.

Setelah saya baca, buku ini mengantarkan saya pada suatu pengkhayalan betapa pemenuhan kebutuhan individu menjadi penentu corak keberagamaan mereka. Terkadang menjadi pelacur bukanlah suatu pilihan dan bukan pula bermaksud menentang syariat agama. Tapi itu semua lebih pada tuntutan hidup agar mereka dan keluarga bisa bertahan.

Oleh karenanya, umat Islam jangan hanya melulu berdebat masalah akidah, mengulang kembali perdebatan yang tidak ada titik habisnya. Saya NU, saya Muhammaddiyah, saya benar Anda sesat, saya masuk surga Anda neraka, dan sebagainya.

Lebih penting dari itu semua, yaitu masalah situasi dan ekonomi umat Islam yang semakin tidak jelas. Ekonomi umat harus diutamakan dari segalanya mengingat masalah ekonomi dalam Islam menjadi fondasi dan penentu corak keberagamaan seseorang.

Dalam hadis, nabi jelaskan bahwa seseorang bisa menjadi kafir karena faktor ekonomi. Kâdal fakru an yakûna kufran. Hadis ini mengingatkan kepada kita arti penting dan posisi ekonomi bagi umat Islam. Maka masihkah umat beranggapan ada yang lebih penting dibenahi terlebih dahulu dari pada ekonomi umat?

Fakta menunjukkan bahwa mayoritas penduduk miskin Indonesia adalah Muslim yang kurang berpendidikan. Tapi mereka terus bertahan hidup dalam keadaan miskin. Mereka tidak melihat bahwa kemiskinan itu sendiri bersumber pada ajaran Islam, yaitu berserah diri pada Allah swt yang minta disembah-sembah tanpa ada usaha dan kesadaran yang kuat betapa menjadi Muslim yang kaya amat berpengaruh pada agama umat.

Yang lebih mengherankan adalah Muslim Indonesia yang berpendidikan bahkan bergelar Doktor dan Profesor yang masih bertahan hidup dalam keadaan dungu. Padahal mereka sudah dapat melihat dan membandingkan pengaruh agama di dunia terhadap kemajuan peradaban bangsa.

Muslim yang berpendidikan seharusnya dapat melihat, Budhisme di Jepang berperan besar dalam memajukan peradaban bangsa, Kristian berperan besar dalam memajukan peradaban Eropa, Amerika Serikat, dan Negara barat lainnya, Komunisme yang sudah ditinggalkan membuka jalan kepada Vietnam menjadi bangsa yang maju dan beradab, Hindusme akan mengantar India menjadi Negara besar yang maju dan beradab.

Sebagai agama mayoritas di Indonesia, lalu apa peranan Islam dalam memajukan peradaban? Lihat Afganistan di masa Taliban, Islam tidak memajukan peradaban tetapi menenggelamkan bangsa dan Negara ke dalam kebiadaban. Lihat Arab Saudi, apa yang dapat dipelajari dan ditiru dari Arab Saudi? Kebiadaban memotong tangan pencuri? Perkosaan terhadap TKW?

Kepada umat Islam, perlu diimbau untuk ikut membangun Bangsa dan Negara dengan jalan menyadarkan masyarakat arti penting dari ekonomi umat.

___________________

Artikel Terkait:
    Latest posts by Imam Jasuli (see all)