Eksistensi Manusia Paripurna

Eksistensi Manusia Paripurna
©Blanca

Adalah Ibn Al-‘Arabi yang menjadikan istilah “manusia paripurna” (al-insan al-kamil) sebagai jalan manusia menuju kesempurnaan.

Mengawali tulisan ini, sebagai seorang muslim, saya meyakini Islam adalah agama yang benar. Ia selalu bergerak menuju kesempurnaan. Bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi manusia, terutama dari segi nilai.

“Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah. Peradaban dewasa ini telah mendasarkan fondasi agamanya pada humanisme—martabat manusia dan pemujaan manusia. Alasan pokok mengapa humanisme memajukan kultus pada manusia adalah karena agama-agama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau Tuhan.” Begitulah Ali Syariati, seorang cendekiawan muslim asal Iran memulai tulisan dalam memandang manusia dan Islam.

Dalam sejarah penciptaan manusia, kita akan akan melihat bahwa ada keistimewaan tersendiri yang sengaja diberikan dari sang pencipta (Tuhan) dengan segala kemampuannya untuk menciptakan manusia sebagai proyek Tuhan untuk karyanya yang sesungguhnya tidak dapat ditiru oleh apa pun. Sebelum manusia, sudah ada malaikat, iblis (jin), bumi, dan isinya, serta alam dan jagat raya ini (matahari, bulan, bintang, maupun planet dan benda-benda langit lainnya).

Dalam berbagai macam sumber dan literatur, telah dijelaskan proses muncul dan adanya manusia. Seperti pada salah satu sumber yang paling konkret dan selalu menjadi rujukan kita, yakni Alquran.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang paling sempurna bentuknya. Misalnya disebutkan pada Surat At-Tin: 4: Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Dalam Surat Al Mu’minun: 12-14: Dan sungguh kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang dan bungkus dengan daging. Kemudian kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.

Selanjutnya, kita ketahui bahwa manusia itu diciptakan secara kodrati dari sang pencipta dan dilahirkan dari manusia itu sendiri.

Selain itu juga, manusia diciptakan dari sesuatu yang paling rendah bahkan yang paling rendah dari segala yang ada. Disebutkan dalam Alquran: Sesungguhnya kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk acuan. Kemudian kami menurunkannya ke tempat yang serendah-rendahnya. (QS 95: 4-5)

Tetapi, manusia bukanlah makhluk yang hina atau rendah. Sebab dalam diri manusia, ada sebagian dari Tuhan yang ditiupkan, yakni RuhNya. Manusia tersebut lahir dari dua hekikat berbeda: tanah bumi dan ruh suci. Jadi, manusia dapat berbuat mirip Tuhan, tapi ia bukan Tuhan.

Ada juga satu hal lain yang sangat indah dalam pandangan Syariati tentang penciptaan manusia. Bahwa hanya manusia sajalah, di antara seluruh makhluk dan gejala yang ada di alam semesta, yang mampu menjadi pemegang dan pengemban amanat Tuhan. Karena substansi dari penciptaan manusia hanya untuk tiga hal. Pertama, sebagai pemimpin di muka bumi (khalifa). Kedua, sebagai seorang hamba. Ketiga, sebagai makhluk sosial.

Esensi (Eksistensi) Manusia

Dari segala hal yang menggambarkan identitas manusia sebagai makhluk hidup, hanya akal sajalah yang mampu membuat perbedaan antara manusia dengan makhluk lainnya di muka bumi. Bahwa pada dasarnya akal diberikan kepada manusia supaya manusia dapat menggunakannya untuk berpikir. Hal ini (berpikir) yang kemudian membuat manusia selalu mengalami perkembangan dalam menjalani kehidupan.

Akal merupakan fondasi pada manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai salah satu sumber pengetahuan dan keunikan manusia. Sebab, sujudnya para malaikat di hadapan Adam sebagai manusia membuktikan kenyataan bahwa ada keunggulan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan yang lain, yakni pada masalah kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan itu dengan menggunakan akal untuk berpikir.

Ali Syariati dalam bukunya berujudl Tugas Cendekiawan Muslim menjelaskan bahwa keutamaan yang paling menonjol dari manusia, yang menandai superiorita/snya atas makhluk lain, adalah kekuatan iradahnya. Ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan dorongan instingnya—sesuatu yang hewan maupun tumbuh-tumbuhan tidak dapat melakukannya.

Dan hanya manusia yang dapat berbuat menentang apa yang baik dan utama. Ia bebas memilih untuk rasional dan irasional, saleh atau jahat, seperti malaikat atau seperti iblis. Dalam Islam, karunia intelektual manusia dibuktikan lebih unggul daripada para malaikat; dan terbukti bahwa manusia adalah makhluk superior di antara segala ciptaan.

Menuju Manusia Paripurna

Manusia pada prinsipnya mempunyai peranan yang sangat unik karena sengaja diciptakan Tuhan sebagai wakilnya (khalifah) di alam semesta. Sebagai wakil Allah, manusia tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengemban tanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya.

Jadi, manusia dalam menjalankan amanah yang diberikan kepada dirinya sebagai wakil tuhan semestinya dapat selalu menjalin dan menjaga hubungan antara dirinya sendiri, dengan sesamanya, alam, dan sang pencipta. Olehnya itu, dalam dunia makhluk, manusia menempati posisi khusus yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Inilah eksistensi manusia sebagai pemegang “amanah” dari Tuhan. Sachiko Murata dalam The Tao of Islam dengan jelas mengatakan apa yang harus manusia lakukan untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang khalifah.

Bahwa untuk melakukan ini, ia perlu mengilustrasikan bagaimana kualitas-kualitas manusia sesuai dan cocok dengan kualitas-kualitas Ilahi. Harus tahu bagaimana hubungan-hubungan kualitatif di antara segala sesuatu dalam kosmos menempatkan manusia di puncak eksistensi makhluk, dengan mengemban beban dan tanggung jawab besar agar beroleh kehormatan.

Sebagai bentuk kepercayaan Tuhan kepada wakilnya di bumi, manusia harus menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan merepresentasikan sifat ketuhanan pada dirinya. Sebab sebuah alam semesta (kosmos), tanpa kehadiran manusia, tidaklah bisa dibayangkan dan dipahami. Demikianlah manusia yang diciptakan dan untuk menjalankan tugasnya menuju kesempurnaan yang sering kita istilahkan dengan manusia paripurna.

Manusia paripurna adalah manusia yang ingin menuju sebuah kesempurnaan, yakni kepada Tuhan. Upaya menuju kesempurnaan adalah bentuk rasa syukur manusia sebagai makhluk yang diciptakan dari sang pencipta.

Adalah Ibn Al-‘Arabi yang menjadikan istilah “manusia paripurna” (al-insan al-kamil) sebagai jalan manusia menuju kesempurnaan. Orang-orang yang tidak mencapai kesempurnaan disebutnya sebagai “manusia hewani” (al-insan al-hayawan).

Akhirnya, kebenaran sejati hanya pada Allah Swt.

Latest posts by Nardi Maruapey (see all)