Eksistensi Tasawuf di Tengah Modernisasi Perkotaan

Eksistensi Tasawuf di Tengah Modernisasi Perkotaan
©Gudang Makalah

Manusia di zaman sekarang ini telah mengalami perkembangan dari berbagai macam modernitas, baik secara pola pikir sains dan serta teknologi. Manusia seakan dipenuhi nafsu dalam pemenuhan kesenangan duniawi. Manusia juga seolah-olah telah mengasingkan diri terhadap alam, masyarakat, bahkan dirinya sendiri. Dengan hal ini, menimbulkan sikap kecanggungan pada kerelasiannya terhadap sesama manusia bahkan dengan Tuhannya.[1]

Manusia di era maju seperti ini seolah bingung dalam menjalin hubungan dengan Tuhannya, terhadap masyarakat juga dengan alam dengan idealnya, hingga akhirnya menciptakan penyakit-penyakit sosial pada kehidupan. Manusia juga tidak lagi menghargai agama-agama yang memiliki sifat otoriter.[2]

Di Perkotaan khususnya, kehidupan yang menampilkan keadaan yang progresif, modern serta pertumbuhan pada gerakan masyarakat yang memuat dari berbagai bidang, di mana citra kehidupan di perkotaan ialah menampilkan keadaan yang instan, mewah, hedonisme, industrisasi, globalisasi dan teknologi yang serba canggih, serta orang-orang yang berpendidikan tinggi yang dapat menciptakan pikiran-pikiran rasional.

Adapun kemajuan ekonomi bertumbuh secara cepat. Dengan ini, yang tampak adalah bahwa masyarakat lebih menduduki keunggulannya dibandingkan dengan masyarakat pedesaan dengan segala citra kemodernannya.

Manusia modern erat kaitannya dengan hal-hal yang berbau instan, manusia yang sekarang di era disrupsi ini selalu tergesa-gesa ataupun tidak mau repot. Contohnya di era sekarang ini saja ketika kita membeli makanan tidak perlu jauh-jauh pergi ke warung atau restoran, hanya dengan membuka aplikasi maka barang akan sampai, begitu juga dalam pemenuhan benda materi lainnya.

Hal itu tentu saja dipengaruhi oleh perkembangan digitalisasi dan internet yang sehingga melahirkan ide-ide oleh manusia dalam bentuk aplikasi-aplikasi yang tersedia di Android.

Modernisasi sendiri, secara bahasa, memiliki arti kata “sekarang”. Dalam pendapat yang dikemukakan oleh Alister MeGrath, awalnya lahir kurang lebih abad ke-19 M yang mana menjuluki aksi dari para agamawan Katolik Roma sebagaimana telah mengambil refleksi kritis juga bantahan terhadap doktrin tadisional Kristen. Yang mana berupaya dalam mensinergikan pandangan Kristen terhadap pandangan Abad Pencerahan, termasuk terkait perspektif baru pada sejarah dan juga sains.[3]

Fenomena modernitas agaknya telah terbuka secara bebas bagi pemenuhan materi untuk manusia di era sekarang ini. Akan tetapi terlepas dari hal tersebut manusia juga akan mengalami kekosongan dalam berambisi untuk memenuhi kebutuhan materinya.

Suatu hal substansinya dapat menenangkan hati dan jiwanya, esensi yang senantiasa dapat menemukan diri sendiri dan arti tujuan hidupnya. Tidak lain adalah elemen yang mampu menyentuh dimensi rohani manusia, yaitu dengan menemukan spiritualisme dengan jalan mistis-tasawuf yang ditempuh. Dengan hal ini, wacana keagamaan dijadikan masyarakat khususnya perkotaan dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan penderitaan.

Dewasa ini, berbicara kehidupan bermasyarakat maka erat kaitannya dengan agama yang merupakan elemen utama dalam memberika arahan untuk bagaimana cara kita tinggal di lingkungan masyarakat. Agama yang mana sebagai kontrol sosial, memberikan bimbingan terhadap baik buruknya suatu tindakan. Agama juga menjadi pelipur penderitaan dalam kehidupan duniawi.

Di perkotaan sendiri, agama tentu memiliki karakteristik tersendiri bila dibandingkan dengan agama yang ada di masyarakat desa. Adapun, berdasarkan analisa penulis agama di perkotaan berdasarkan karakteristik masyarakatnya cenderung memprihatinkan.

Adapun, ketika manusia telah mencapai kejayaan material justru manusia akan mengalami yang namanya kehampaan, yang mana memberikan pelajaran bahwa kebahagiaan sebetulnya tidak bisa hanya dengan pemenuhan hal-hal yang tampak saja seperti pemenuhan material saja, tetapi didapat dari suatu hal yang tidak bisa tampak yaitu hadir yang bersifat rohani.

Spiritulisme akan selalu hidup. Tidak karena dapat diwarisi secara terus-menerus dari zaman ke zaman belaka, tetapi juga akan selalu tumbuh pada tengah budaya masyarakat walaupun di perkotaan sekalipun yang besifat duniawi dengan kemodernannya.[4]

Dengan hal ini, Komaruddin Hidayat memaparkan bahwa ada empat paradigma alasan mengapa spiritulitas dapat tumbuh di perkotaan. Pertama, spiritualitas dijadikan patokan sebagai media mencari makna hidup. Kedua, spiritualitas merupakan media pertarungan dan iluminasi ilmuwan. Ketiga, spiritualitas menjadi media pengobatan psikis. Keempat, spiritulitas dijadikan alat sebagai pengikut trend dialog religiositas.[5]

Keberadaan manusia dalam hidup ini sebenarnya bukan hanya untuk mengejar ataupun memenuhi nafsu akan pemenuhan materi semata. Batin dan kekuatan manusia yang sekarang ini haus dan hampa, seakan ingin diasupi dan diberi energi dan vitamin. Hal inilah yang kemudian menjadi titik temu apa yang menjadi selama ini timbulnya suatu hal yang menarik di masyarakat urban.

Munculnya citra kehidupan yang beragama tetapi dengan wajah yang berbeda. Wacana keagamaan bukan semata formalitas nyata melainkan menjadi formalitas atau ritual keagamaan yang senantiasa dapat mengembangkan citra pengetahuan yang dalam terhadap aksi dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.

Halaman selanjutnya >>>
Nisrina Zain
Latest posts by Nisrina Zain (see all)